Disnakertrans Lebak Bekali Calon Pekerja Migran dengan Keterampilan Bahasa Asing

AKURAT BANTEN – Disnakertrans Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mengelar pelatihan kompetensi kepada Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI).
Pelatihan dilakukan selama 30 hari, di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah setempat.
“Pelatihan ini, diharapkan agar para peserta memiliki keterampilan dan kecakapan kerja juga kemahiran untuk berbahasa asing,” kata Kepala Disnaker Kabupaten Lebak, Maman Suparman, di BLK, Kamis. (26/10/2023).
Baca Juga: 2 Pekerja Proyek Galian Tanah di Cibadak Tewas Tertimbun Tebing Longsor Setinggi 20 Meter
Para peserta pelatihan calon kerja migran Indonesia berbasis kompetensi itu sebanyak lima orang, dan semuanya warga Kabupaten Lebak.
Pelaksanaan pelatihan kerja tersebut merupakan bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) Bintang Permata Lestari Jakarta.
"Para peserta itu nantinya akan bekerja di negara Taiwan dan Hongkong sebagai asisten rumah tangga (ART) dan perawat bayi serta lansia," jelasnya.
Menurut Maman, saat ini pelatihan berbasis kompetensi sangatlah penting, karena pasar kerja yang dibutuhkan adalah kompetensi dan kecakapan kerja serta keterampilan.
“Kami minta peserta tenaga kerja migran lebih fokus dan serius selama mengikuti pelatihan itu,” ungkap Maman.
Baca Juga: Pembangunan Jalan Leuwilalay–Pasir Kupa Segera Rampung, Ini Kata Tokoh Masyarakat
Lanjut Maman, pelatihan tenaga migran itu dengan menitikberatkan pada penguasaan kemampuan kerja yang meliputi bahasa Mandarin, dan keterampilan tata kelola kerja.
Mereka juga bisa beradaptasi budaya dan sikap sesuai dengan standar yang ditetapkan serta persyaratan di tempat kerja.
“Para pekerja migran itu diharapkan bekerja di tempat kerjanya bisa lebih profesional, sehingga mendapatkan gaji bulanan yang layak,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua BLK Bintang Permata Lestari Jakarta, Ken mengatakan, para instruktur/pelatih pekerja migran Indonesia itu sudah memiliki ketrampilan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Untuk memberikan materi pelatihan itu mulai dari bahasa asing, keterampilan, dan kecakapan kerja, sikap serta etika.
Baca Juga: Greenpeace Indonesia Apresiasi Penanganan Kebakaran TPA Rawa Kucing Tangerang
“Kami berharap pelatihan itu bisa meningkatkan keterampilan dan kompetensi di bidangnya, sehingga mereka memiliki sertifikasi dan profesi,” terannya.
Sumi (30), peserta tenaga migran Indonesia warga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak mengaku dirinya merasa senang bisa mengikuti pelatihan kompetensi sebelum berangkat ke Hongkong.
Dia berharap bisa menguasai bahasa dan tata laksana kerja juga ketrampilan lainnya.
“Kami termotivasi bekerja ke luar negeri itu ingin mengubah ekonomi keluarga juga membiayai dua anak,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









