Sejarah Lagu 17 Agustus Hari Merdeka Ternyata Sosok Penciptanya Seorang Pemuka Agama dan Bapak Paskibra Indonesia

AKURAT BANTEN – Lagu 17 Agustus berjudul “Hari Merdeka” sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.
Setiap 17 Agustus, lagu ini berkumandang di berbagai tempat mulai dari upacara bendera, lomba rakyat, hingga siaran televisi.
Baca Juga: Sambut HUT Kemerdekaan RI Ke 80, Pemkot Tangerang Berikan Diskon Pajak
Dengan lirik yang sederhana dan mudah diingat, Hari Merdeka mampu membangkitkan semangat nasionalisme setiap kali dinyanyikan.
Namun, tak banyak yang tahu sejarah lahirnya lagu ini dan siapa sosok di baliknya.
Lagu Hari Merdeka diciptakan oleh komponis sekaligus pejuang kemerdekaan Husein Mutahar pada tahun 1946.
Pria bernama lengkap Habib Muhammad bin Husein al-Mutahar ini bukanlah sosok biasa.
Selain dikenal sebagai komposer, ia juga merupakan pendiri gerakan Paskibraka Indonesia dan tokoh penting dalam sejarah Pramuka.
Lagu ini lahir pada masa genting, tepatnya saat Revolusi di Yogyakarta.
Kala itu, Presiden Soekarno memanggil ajudannya, Husein Mutahar, dan memintanya membuat sebuah aubade nyanyian penghormatan yang biasanya dinyanyikan pada pagi hari.
Dalam buku 100 Konser Musik Indonesia (2018) karya Anas Syahrul Alimi dan Muhidin M. Dahlan, diceritakan bahwa Husein Mutahar saat itu tidak memiliki orkes sendiri.
Baca Juga: Bisnis Bertema Kemerdekaan, Peluang Emas Raih Cuan di Bulan Agustus
Untuk mengetes lagunya, ia meminjam orkes keraton dan memimpin permainan musik tersebut.
Dengan penuh semangat, ia berdiri di atas meja reot sebagai konduktor.
Saking semangatnya, meja itu sampai ambruk.
Namun dari momen penuh energi itulah lahir lagu Hari Merdeka, yang kemudian pertama kali dinyanyikan dalam upacara 17 Agustus dan mendapat pujian langsung dari Presiden Soekarno.
Baca Juga: Diskon Pajak Edisi Kemerdekaan, Pemkot Tangerang Beri Keringanan PBB dan BPHTB Sepanjang Agustus
Profil Singkat Husein Mutahar
Husein Mutahar lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916 dan wafat di Jakarta pada 9 Juni 2004 di usia 87 tahun.
Selain menciptakan lagu kebangsaan dan lagu anak-anak, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Vatikan.
Ia menguasai sedikitnya enam bahasa dan mendapat tanda jasa Bintang Gerilya pada masa perang kemerdekaan.
Karya-karyanya meliputi lagu anak-anak seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang-Silang, dan Hymne Pramuka, hingga lagu nasional seperti Himne Syukur, Hari Merdeka, dan Dirgahayu Indonesiaku yang diciptakan untuk peringatan 50 tahun kemerdekaan.
Lagu Hari Merdeka bukan sekadar pengiring upacara 17 Agustus, melainkan simbol perjuangan dan pengingat bahwa kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga.
Husein Mutahar telah meninggalkan warisan abadi yang akan terus menggelorakan semangat bangsa di setiap peringatan kemerdekaan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 10Bikin Guru Terharu, Celine dari Pontianak Dipercaya Bawa Baki Merah Putih di Istana







