Banten

Daftar Hutang Sritex 28 Bank Capai Rp12,72 T dan Tangis Haru Karyawan, saat Pemerintah Upayakan Relaksasi Utang Perusahaan serta Janji Tak ada PHK

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 29 Oktober 2024, 11:41 WIB
Daftar Hutang Sritex 28 Bank Capai Rp12,72 T dan Tangis Haru Karyawan, saat Pemerintah Upayakan Relaksasi Utang Perusahaan serta Janji Tak ada PHK

AKURAT BANTEN - Pemerintah berupaya memberikan beberapa opsi relaksasi utang hingga insentif untuk PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex yang diterpa isu pailit dan untuk menghindari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sejumlah pegawainya.

Adapun opsi penyelamatan tersebut, menurut Head of Center of Industry, Trade and Investment Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan adalah untuk mempertahankan puluhan ribu pekerja Sritex dan menurutnya pemerintah perlu turun tangan, salah satunya lewat relaksasi utang.

"Relaksasi dari utang itu sendiri ya akan cukup baik jika Himbara ikut serta. Tetapi dalam mekanisme dan prosedural yang tentu juga sesuai ya," kata Andry pada, Senin (28/10/2024) dikutip Akurat Banten.

Baca Juga: Kebakaran Besar Pabrik Kimia di Karawaci Kota Tangerang Berhasil Dipadamkan

"Selain relaksasi, pemerintah juga perlu membantu mencarikan offtaker industri yang dapat menyerap produk-produk dari Sritex, Dengan demikian, kata Andry, SRIL bisa menstabilkan pendapatan"

Kendati demikian, untuk mendukung pembayaran piutang Sritex kepada Kreditur yang tersendat, Andry menyebut pemerintah dinilai belum dapat memberikan penyelamatan berupa ambil alih kepemilikan perusahaan.

“Jika akan dijadikan BUMN pasti harus ada perizinan dari DPR. Lalu mau seperti apa modelnya? Sekarang juga banyak BUMN yang bermasalah, jadi belum tentu bisa menyelesaikan permasalahan perusahaan ini,” jelasnya.

Baca Juga: Pj Gubernur Banten Al Muktabar: Pada Hakikatnya Pemuda adalah Pemilik Masa Depan, Untuk lebih Berperan Dalam Pembangunan Nasional Indonesia

Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal mengatakan kasus pailit yang dihadapi Sritex akan menambah panjang permasalahan yang dihadapi indsutri padat karya, khususnya industri tekstil.

Menurutnya, permasalahan klasik tahunan itu disebabkan ketidakharmonisan kebijakan yang semestinya mendukung industri domestik baik terkait akses pasar maupun biaya produksi.

"Kehadiran Pemerintah Ditengah Permasalahan para Pekerja dan Pengusaha"

Baca Juga: Iptu Rudy Soik Dibela Keponakan Presiden Prabowo, Saraswati aktivis anti TPPO Buka Fakta dan Rekayasa Kasus Pemecatannya di RDP Komisi III DPR RI

Baru-baru ini, Kementerian Ketenagakerjaan mengunjungi pabrik raksasa tekstil Sritex di kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah pada, Senin (28/10/2024).

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel (Noel) Ebenezer Gerungan mengatakan, kunjungannya ke Kemnaker merupakan bentuk kehadiran pemerintah di tengah-tengah buruh. Oleh karena itu ia meminta agar tidak ada lagi keresahan atau kegelisahan.

"Yang jelas Pemerintah, negara hadir di tengah buruh/pekerja. Pemerintah, negara hadir di tengah-tengah pengusaha, khususnya Pak Iwan (Dirut Sritex). Jadi tak boleh lagi ada keresahan atau kegelisahan," kata Noel dalam keterangannya, Selasa (29/10/2024).

Baca Juga: Puluh Satpol PP Siapkan Personel Pada Titik Rawan, Amankan Kampanye Cabup-Cawabup Pilkada Tangerang

Pecah tangis pekerja pun terdengar saat pidato terakhir Noel yang menyatakan tak ada PHK terhadap buruh/pekerja. "Saya pastikan tak ada PHK terhadap buruh PT Sritex. Hal ini disepakati pihak manajemen yang diwakili Iwan Setiawan Lukminto sebagai Owner PT. Sritex, " katanya.

"Daftar Panjang Hutang Bank Sritex, dengan nilai sebesar US$ 809,99 juta atau sekitar Rp 12,72 triliun"

Dikutip dari laporan keuangan perusahaan per Semester I 2024, Senin (28/10/2024), liabilitas SRIL tercatat US$ 1,6 miliar atau setara Rp 25,12 triliun (kurs Rp 15.700). Angka ini terdiri atas liabilitas jangka panjang sebesar US$ 1,47 miliar dan liabilitas jangka pendeknya tercatat sebesar US$ 131,42 juta. Lalu ekuitasnya telah mencatatkan defisiensi modal sebesar -US$ 980,56 juta.

Baca Juga: Pemuda Menjadi Bagian Penting dalam Pembangunan Indonesia, Pj Bupati Mendorong Pemuda Kreativitas dan Innovasi

Utang bank menjadi salah satu pos yang mengambil porsi paling besar dalam liabilitas jangka panjang Sritex, dengan nilai sebesar US$ 809,99 juta atau sekitar Rp 12,72 triliun.

Hingga 30 Juni 2024, tercatat ada 28 bank yang memiliki tagihan kredit jangka panjang atas Sritex.

Bank-bank tersebut cukup beragam, ada bank pelat merah hingga bank swasta. Bank tersebut ada yang berasal dari dalam negeri dan juga luar negeri.

Salah satu bank dengan beban utang paling besar ialah PT Bank Centra Asia Tbk atau BCA (BBCA).

Tercatat utang bank jangka panjang Sritex di BCA mencapai US$ 71,30 juta atau sekitar Rp 1,11 triliun. Sementara utang bank jangka pendek Sritex di BCA adalah US$ 11,37 juta.

Daftar utang Sritex pada bank per Juni 2024:
1. Bank Emirates NBD - US$ 9.614.459
2. ICICI Bank Ltd., Singapore Branch - US$ 6.959.350
3. PT Bank CTBC Indonesia - US$ 6.950.110
4. Deutsche Bank AG - US$ 6.821.159
5. PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk - US$ 4.970.990
6. PT Bank Danamon Indonesia Tbk - US$ 4.519.552
7. PT Bank SBI Indonesia - US$ 4.380.882
8. MUFG Bank, Ltd. - US$ 23.777.384
9. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk - US$ 23.807.151
10. Bank of China (Hong Kong) Limited - US$ 21.775.703
11. PT Bank KEB Hana Indonesia - US$ 21.531.858
12. Taipei Fubon Commercial Bank Co., Ltd. - US$ 20.000.000
13. Woori Bank Singapore Branch - US$ 19.870.570
14. Standard Chartered Bank - US$ 19.570.364
15. PT Bank DBS Indonesia - US$ 18.238.799
16. PT Bank Permata Tbk - US$ 16.707.799
17. PT Bank China Construction Indonesia Tbk - US$ 14.912.907
28. PT Bank DKI - US$ 9.130.551
19. PT Bank Central Asia Tbk - US$ 71.309.857
20. State Bank of India, Singapore Branch - US$ 43.881.272
21. PT Bank QNB Indonesia Tbk - US$ 36.939.779
22. Citibank N.A., Indonesia - US$ 35.828.895
23. PT Bank Mizuho Indonesia - US$ 33.709.712
24. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk - US$ 33.270.249
25. PT Bank Muamalat Indonesia - US$ 25.450.735
26. PT Bank CIMB Niaga Tbk - US$ 25.339.757
27. PT Bank Maybank Indonesia Tbk - US$ 25.164.698
28. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah - US$ 24.802.906

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.