Banten

Kontroversi Kembalinya Sahroni  Wakil Komisi III DPR, ICW Sentil Etika Partai Politik

Aullia Rachma Puteri | 21 Februari 2026, 09:04 WIB
Kontroversi Kembalinya Sahroni  Wakil Komisi III DPR, ICW Sentil Etika Partai Politik

AKURAT BANTEN - Kembalinya Ahmad Sahroni ke kursi pimpinan Komisi III DPR RI kembali memantik perdebatan publik.

Penunjukan tersebut dinilai sejumlah pihak sebagai keputusan politik yang sarat kontroversi, terutama karena komisi ini memiliki fungsi strategis dalam pengawasan hukum, keamanan, dan hak asasi manusia di DPR RI.

Penempatan Sahroni sebagai pimpinan komisi berasal dari keputusan internal Partai NasDem, partai yang menaunginya.

Secara prosedural, langkah itu sah karena setiap fraksi memiliki kewenangan menentukan wakilnya di alat kelengkapan dewan.

Baca Juga: Nonaktif Enam Bulan, Ahmad Sahroni Kembali Pimpin Komisi III DPR RI Usai Kontroversi Hina Rakyat

Namun secara etika politik, keputusan ini menuai kritik keras dari kalangan masyarakat sipil.

Salah satu yang paling vokal adalah Indonesia Corruption Watch.

Lembaga antikorupsi tersebut menilai keputusan tersebut mencerminkan persoalan serius dalam proses kaderisasi partai politik.

ICW menilai partai seharusnya mempertimbangkan rekam jejak serta sensitivitas publik sebelum menempatkan kader di posisi penting.

Baca Juga: Akhir Dramatis Rumah Mewah Ahmad Sahroni Pasca-Penjarahan: Rata dengan Tanah, Siap Bangun 'Benteng' Baru, Netizen Bilang Begini

Menurut ICW, figur pimpinan Komisi III seharusnya memiliki reputasi kuat dalam integritas dan kepercayaan publik.

Hal ini karena komisi tersebut berkaitan langsung dengan institusi penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan, hingga lembaga peradilan.

Jika pimpinan komisi dipandang kontroversial, dikhawatirkan akan berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara.

Kritik ICW juga tidak hanya diarahkan kepada Sahroni sebagai individu, tetapi juga kepada partai politik secara umum.

Baca Juga: Fakta Ahmad Sahroni Wisuda S3 Ternyata Bikin Ngeri, Padahal Sempat Diam Tak Ada Syaratnya Usai Demo Senayan

Mereka menilai partai sering kali lebih mengutamakan loyalitas politik dibanding kualitas kepemimpinan.

Padahal, menurut ICW, demokrasi yang sehat membutuhkan kader yang bersih, profesional, dan dipercaya publik.

Di sisi lain, sejumlah anggota parlemen menyatakan bahwa penunjukan tersebut merupakan hak partai dan bagian dari dinamika politik di DPR.

Mereka berpendapat bahwa selama proses penetapan berjalan sesuai aturan, maka keputusan tersebut tidak dapat dipersoalkan secara formal.

Baca Juga: Gara-gara Flashdisk Putih Ini Link Video 7 Menit Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach? Ini Faktanya

Namun pengamat politik menilai polemik ini menunjukkan adanya kesenjangan antara aspirasi publik dan praktik politik di parlemen.

Publik kini semakin kritis terhadap figur yang duduk di jabatan strategis.

Reputasi personal dan integritas menjadi pertimbangan utama dalam menilai kualitas kepemimpinan.

Isu ini juga menyoroti pentingnya transparansi dalam proses internal partai.

Baca Juga: Ahmad Sahroni Ultimatum PJ Gubernur DKI Jakarta, 2 x 24 Jam Untuk Selesaikan Polemik Warga Kampung Bayam

Tanpa mekanisme seleksi yang jelas dan akuntabel, partai politik berisiko kehilangan kepercayaan publik.

Padahal, partai merupakan pilar utama demokrasi yang seharusnya menjaga standar moral dan etika politik.

Kembalinya Sahroni di Komisi III menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.

Bagi partai politik, momentum ini seharusnya menjadi refleksi untuk memperbaiki sistem kaderisasi.

Baca Juga: Rumah Legislator Ahmad Sahroni Diserbu Massa, Polisi Turun Tangan Usut Penjarahan

Bagi parlemen, ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik adalah modal utama dalam menjalankan fungsi pengawasan.

Perdebatan soal kepemimpinan di Komisi III diperkirakan masih akan bergulir.

Masyarakat sipil berharap kritik yang muncul tidak sekadar menjadi polemik sesaat, tetapi mampu mendorong perubahan nyata dalam tata kelola politik di Indonesia.

Dengan demikian, lembaga legislatif dapat kembali memperoleh kepercayaan masyarakat sebagai wakil rakyat yang benar-benar berintegritas.

Baca Juga: Norak Lu Pak! Gak Lucu Becanda Lu! Ketum PAN Kena Sindir Ahmad Sahroni

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.