Besok RI Terima Kabar Tak Enak? Ekonom Prediksi Inflasi Naik Jelang Ramadan, Harga Pangan Terancam Melonjak

AKURAT BANTEN - Masyarakat Indonesia diminta bersiap menghadapi potensi kabar kurang menyenangkan dari sektor ekonomi menjelang Ramadan 2026.
Sejumlah analis memperkirakan inflasi bulanan akan mengalami kenaikan, terutama dipicu lonjakan harga bahan pangan pokok.
Setiap menjelang Ramadan, permintaan kebutuhan pokok seperti beras, cabai, minyak goreng, telur, dan daging biasanya meningkat tajam.
Kondisi tersebut membuat harga di pasar ikut terdorong naik.
Baca Juga: BI Tetap Percaya Inflasi 2026–2027 Akan Kembali ke Jalur Sasaran Meski Awal Tahun Menghangat
Jika tidak diimbangi pasokan yang memadai, tekanan inflasi bisa lebih tinggi dibanding bulan biasa.
Para ekonom menyebutkan bahwa tren inflasi awal tahun ini perlu diwaspadai.
Selain faktor musiman Ramadan, distribusi logistik di beberapa daerah belum sepenuhnya stabil.
Cuaca ekstrem di sejumlah wilayah juga berdampak pada produksi pangan, terutama sayuran dan cabai.
Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi, seperti operasi pasar, penyaluran cadangan beras pemerintah, serta pengawasan harga di pasar tradisional.
Tujuannya agar kenaikan harga tetap terkendali dan tidak membebani masyarakat secara berlebihan.
Bagi warga di Provinsi Banten, potensi kenaikan harga biasanya mulai terasa di pasar tradisional beberapa minggu sebelum Ramadan.
Komoditas seperti cabai merah, bawang, ayam, dan daging sapi sering mengalami lonjakan harga.
Baca Juga: Optimistis Ekonomi Terkendali, BI Yakin Inflasi Tetap Jinak hingga 2026
Kondisi ini mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran rumah tangga.
Pengamat ekonomi menyarankan masyarakat mulai membuat perencanaan belanja sejak dini.
Membeli bahan pokok secukupnya, memanfaatkan produk lokal, serta menghindari pembelian berlebihan bisa membantu menjaga stabilitas harga sekaligus menghemat pengeluaran.
Selain itu, Ramadan identik dengan meningkatnya konsumsi makanan siap saji dan takjil.
Baca Juga: LPEM UI Prediksi Inflasi Oktober Naik, Cuaca dan Biaya Logistik Jadi Pemicu Utama
Jika tidak dikendalikan, pengeluaran rumah tangga bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat.
Karena itu, penting untuk memprioritaskan kebutuhan utama dan menghindari belanja impulsif.
Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan aktif menggelar pasar murah dan memantau distribusi bahan pokok agar tidak terjadi kelangkaan.
Kolaborasi antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat menjadi kunci menjaga stabilitas harga.
Baca Juga: Waspada! Rupiah Tertekan, Dolar AS Menggeliat Jelang Data Inflasi Amerika
Kenaikan inflasi memang menjadi siklus tahunan menjelang Ramadan, namun dampaknya bisa diminimalkan jika semua pihak bersiap sejak awal.
Dengan perencanaan keuangan yang baik, masyarakat tetap bisa menjalani ibadah puasa dengan tenang tanpa tekanan ekonomi berlebihan.
Ramadan bukan hanya tentang konsumsi, tetapi juga tentang kesederhanaan dan kebersamaan.
Dengan belanja bijak dan pengeluaran terkontrol, keluarga tetap dapat menikmati bulan suci dengan penuh keberkahan meski harga pangan mengalami kenaikan.
Potensi inflasi ini menjadi pengingat bahwa kesiapan finansial sangat penting.
Jika masyarakat mampu mengelola belanja secara bijak, dampak kenaikan harga menjelang Ramadan 2026 dapat dihadapi dengan lebih tenang dan terencana.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini







