Gajah Tesso Nilo Punah? Rentetan Banjir Bandang Sumatra Buat Populasi Gajah di Taman Nasional Tesso Nilo Terancam Hilang

AKURAT BANTEN — Populasi gajah liar di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau habitat alami Gajah Sumatera kini berada pada kondisi krisis.
Menurut pernyataan resmi dari pihak pengelola TNTN, jumlah individu gajah yang tersisa di kawasan konservasi tersebut diperkirakan hanya sekitar 150 ekor.
Sepanjang beberapa dekade terakhir, TNTN dikenal sebagai salah satu “surga” biodiversitas di Sumatera rumah bagi gajah, harimau, primata, burung, dan ratusan spesies flora-fauna lainnya.
Namun kondisi berubah drastis. Tahun 2004, diperkirakan terdapat sekitar 200 gajah di TNTN.
Baca Juga: Pasokan BBM Aceh Mulai Bangkit di Tengah Rintangan Banjir dan Longsor
Kini, angka itu menurun menjadi sekitar 150 ekor.
Meski penurunan dianggap “tidak terlalu drastis” oleh Kepala Balai TNTN, kenyataan bahwa habitat alami mereka tergerus secara masif tetap menjadi alarm keras bagi kelangsungan hidup Gajah Sumatera di kawasan ini.
Penyebab utama penurunan populasi gajah di TNTN adalah kerusakan habitat.
Kawasan hutan alami yang dulu lebat telah banyak beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, lahan pertanian maupun pemukiman ilegal.
Baca Juga: Dua Anggota Polda Riau Terseret Arus Banjir Padang Panjang, Kronologi Tragis Terungkap
Menurut data terbaru, bahkan lebih dari 60% kawasan hutan alami TNTN sudah rusak akibat aktivitas perambahan hutan, pembalakan liar, dan konversi lahan ilegal.
Kerusakan habitat ini memaksa gajah kehilangan jalur jelajah tradisional dan sumber makanan alami.
Tidak hanya itu, fragmentasi habitat membuat kelompok gajah terisolasi, mempersempit ruang gerak mereka.
Dengan ruang hidup yang kian sempit, gajah terutama individu muda dan anak kesulitan bertahan hidup dan mempertahankan kelangsungan populasi.
Baca Juga: Jejak Kayu Misterius di Tengah Banjir Sumatera Memicu Desakan Investigasi Nasional
Ditambah lagi, konflik manusia gajah kian meningkat ketika kawanan gajah memasuki area perkebunan atau pemukiman warga.
Meski berada di ambang kritis, pihak pengelola TNTN bersama organisasi konservasi telah mengambil beberapa langkah untuk menyelamatkan populasi dan habitat gajah:
Pemantauan populasi dan pergerakan gajah menggunakan GPS collar, untuk mendeteksi jalur jelajah dan meminimalkan konflik manusia-gajah.
Rehabilitasi habitat: upaya penanaman kembali, pemulihan lahan kritis, dan restorasi ekosistem agar kawasan hutan kembali mendukung kehidupan flora dan fauna.
Baca Juga: WASPADA! Kemenkes Ingatkan Bahaya Penyakit Mengintai Korban Banjir dan Longsor di Sumatera-Aceh
Program edukasi dan kolaborasi dengan masyarakat sekitar kawasan agar warga ikut menjaga habitat dan menjauhkan aktivitas ilegal seperti perambahan atau perburuan.
Selain itu, kelahiran anak-gajah secara berkala termasuk melalui program “elephant flying squad” di kawasan TNTN memberi sedikit harapan bahwa populasi gajah bisa bertahan, asalkan habitat dijaga.
Kehidupan manusia dan satwa liar seperti gajah tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan alam. Hutan seperti TNTN bukan hanya rumah bagi Gajah Sumatera, tapi juga penyimpan keanekaragaman hayati yang sangat penting flora, fauna, hingga mikroorganisme penopang ekosistem.
Jika gajah hilang dari TNTN, bukan hanya kita kehilangan simbol alam, tetapi juga ekosistem vital yang mendukung kehidupan manusia: pengatur iklim lokal, penyaring air, penopang keanekaragaman hayati.
Baca Juga: Medan Darurat, 1.829 Warga Mengungsi, Banjir Besar Picu Isu Kelangkaan BBM
Selain itu, kerusakan hutan dan konflik manusia-satwa bisa berdampak langsung pada manusia misalnya musnahnya sumber daya alam, terganggunya keseimbangan alam, dan meningkatnya risiko bencana ekologis.
Dengan populasi yang kini diperkirakan hanya tersisa 150 ekor gajah di Taman Nasional Tesso Nilo, kondisi ini menjadi peringatan bagi semua pihak pemerintah, masyarakat, dan dunia konservasi.
Upaya pemulihan dan pelestarian habitat harus dilakukan segera dan secara serius.
Tanpa tindakan nyata penegakan hukum, rehabilitasi hutan, edukasi masyarakat peluang Gajah Sumatera terus menurun dan bisa menuju kepunahan lokal, bukan tak mungkin punah total.
Tesso Nilo bukan hanya milik warga Riau, melainkan milik kita semua generasi sekarang dan masa depan.
Menyelamatkan gajah berarti menjaga alam, menjaga kehidupan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










