Banten

Dandhy Laksono Kritik Pelatihan Militer Manajer Kopdes, Singgung Pesan Terselubung soal Kekuasaan

Aullia Rachma Puteri | 29 Juni 2026, 07:09 WIB
Dandhy Laksono Kritik Pelatihan Militer Manajer Kopdes, Singgung Pesan Terselubung soal Kekuasaan
Dandhy Laksono menilai pelatihan militer bagi manajer Kopdes Merah Putih

AKURAT BANTEN – Jurnalis sekaligus sutradara dokumenter Dandhy Laksono mengkritisi kebijakan pemerintah yang memberikan pelatihan dasar kemiliteran kepada para calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih.

Menurutnya, program tersebut memunculkan pertanyaan mengenai batas antara pembinaan karakter dan keterlibatan institusi militer dalam sektor sipil.

Melalui unggahan di media sosial, Dandhy menilai pelatihan tersebut tidak hanya bertujuan membangun disiplin atau kepemimpinan peserta.

Ia beranggapan terdapat makna lain yang ingin disampaikan melalui pendekatan militer kepada para calon pengelola koperasi desa.

Baca Juga: Heboh! Santunan Rp50 Juta untuk Keluarga Peserta Kopdes Disorot, Disebut Lebih Kecil dari Denda Mundur

Dalam pandangannya, pelatihan semacam itu dapat membentuk pola pikir bahwa otoritas tertentu memiliki posisi dominan dalam kehidupan sipil.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga prinsip supremasi sipil yang menjadi salah satu pilar dalam sistem demokrasi.

Pernyataan Dandhy kemudian memicu beragam respons di ruang publik.

Sebagian pihak mendukung pandangannya dengan alasan pelatihan kemiliteran tidak relevan untuk meningkatkan kemampuan mengelola koperasi.

Baca Juga: Viral! Menkop Disorot Usai 5 Calon Manajer Kopdes Meninggal Saat Latsarmil, Pernyataannya Tuai Kritik

Namun, ada pula yang menilai pendidikan kedisiplinan justru dapat memberikan manfaat bagi para peserta.

Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa pelaksanaan pelatihan dasar kemiliteran tidak dimaksudkan untuk mengubah fungsi para manajer koperasi menjadi bagian dari institusi pertahanan.

Program tersebut disebut hanya berfokus pada pembentukan karakter, etos kerja, kepemimpinan, dan kedisiplinan.

Selain materi dasar kemiliteran, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan koperasi, administrasi, tata kelola keuangan, hingga pengembangan usaha yang berkaitan dengan potensi ekonomi desa.

Baca Juga: Ini Alasan Kemhan Wajibkan Calon Manajer Kopdes Merah Putih Ikut Latsarmil, Tapi Harus Memakan Korban hingga Meninggal Dunia

Pelatihan itu disusun dalam dua tahap.

Tahap awal berisi pembinaan karakter dan disiplin, sedangkan tahap berikutnya difokuskan pada peningkatan kompetensi teknis sebagai pengelola koperasi.

Program Latsarmil bagi manajer Kopdes Merah Putih belakangan menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai perdebatan mengenai urgensi pelaksanaannya.

Sejumlah kalangan menilai metode pembinaan dapat dilakukan tanpa melibatkan pendekatan kemiliteran, sementara pemerintah menegaskan bahwa materi yang diberikan telah disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Baca Juga: Gentengisasi Nasional Didorong Teknologi Baru Kopdes Merah Putih, Menkop Ungkap Formula Lebih Kuat dan Ramah Lingkungan

Hingga kini, pelaksanaan program tersebut masih terus berjalan.

Perbedaan pandangan antara pemerintah dan sejumlah pengamat menjadi bagian dari diskusi publik mengenai model pembinaan sumber daya manusia dalam pengembangan koperasi desa.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.