Gaza Diterpa Krisis Kelaparan Terburuk, PBB: Semua Warga Berisiko Tak Dapat Makan

AKURAT BANTEN - Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut wilayah itu kini sebagai tempat paling lapar di dunia.
Setelah hampir dua dekade konflik berkepanjangan, harapan untuk perdamaian masih jauh dari kenyataan, sementara warga Gaza kini harus berjuang hanya untuk bisa makan.
Baca Juga: BREAKING: Ribuan Buruh Kepung Istana! Tuntut Pemerintah Hentikan Badai PHK Nasional.
Serangan militer Israel yang kembali dilancarkan sejak Maret 2025 setelah jeda enam minggu gencatan senjata, memperburuk akses terhadap bantuan. Dampaknya langsung terasa: bahan makanan dan obat-obatan menjadi barang langka. Ribuan keluarga terjebak dalam kondisi yang tak manusiawi, dengan akses pangan dan air bersih yang hampir mustahil.
Baca Juga: Anti Ngelag! Ini 5 HP RAM 12 GB Premium Harga 3 Jutaan, Wajib Kamu Punya!
"Gaza adalah wilayah paling lapar di muka Bumi saat ini," ujar Jens Laerke, juru bicara dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), dalam sebuah konferensi pers di Jenewa.
"Ini adalah satu-satunya tempat di dunia di mana seluruh penduduknya—100 persen—berada dalam risiko kelaparan," lanjutnya.
Baca Juga: Kabar Gembira Buat Warga Jakarta, PBB-P2 Tahun Ini Dibebaskan 100 Persen
Meski dalam beberapa hari terakhir Israel telah melonggarkan blokade yang diberlakukan sejak 2 Maret, krisis belum juga mereda. Truk-truk bantuan mulai diizinkan masuk, tetapi prosesnya jauh dari lancar.
Dari sekitar 900 truk yang diberi izin melintasi perbatasan, baru sekitar 600 yang benar-benar berhasil masuk dan menurunkan barang bantuannya di sisi Gaza.
Baca Juga: Shopee Seller Wajib Tahu! 7 Strategi Digital Marketing yang Terbukti Ampuh
Sebagian bantuan tersebut bahkan sempat diserbu oleh warga yang kelaparan sebelum bisa didistribusikan secara resmi. PBB menyatakan memahami aksi warga tersebut.
“Saya tidak bisa menyalahkan mereka. Itu memang bantuan yang seharusnya sudah menjadi hak mereka. Hanya saja distribusinya belum terjadi sebagaimana yang direncanakan,” ucap Laerke.
Baca Juga: Momen Bersejarah di Magelang: Prabowo dan Macron Naik Maung Tinjau Pasukan Akmil
Namun, narasi PBB ini tidak diterima begitu saja oleh pemerintah Israel. Daniel Meron, Duta Besar Israel untuk Jenewa, menyatakan bahwa PBB menyajikan informasi yang tidak utuh dan cenderung berpihak.
“Badan-badan PBB memilih fakta yang menguntungkan mereka. Mereka menyudutkan Israel dan menutup mata terhadap fakta bahwa kami dan mitra kami sebenarnya terus berupaya memastikan bantuan kemanusiaan sampai kepada warga yang benar-benar membutuhkan,” tulis Meron dalam pernyataannya di platform X.
Baca Juga: Dugaan Penganiayaan di Ponpes Ora Aji: Santri Dilaporkan Dianiaya hingga Trauma
Meski saling klaim masih terjadi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan mendesak untuk bantuan pangan, air bersih, dan obat-obatan belum terpenuhi secara maksimal.
Ketika pertikaian politik terus berlangsung, rakyat Gaza kembali harus menanggung beban yang paling berat. Mereka tak lagi memikirkan kapan perang akan berakhir—yang penting, hari ini bisa makan atau tidak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










