Bantuan Malaysia Untuk Korban Bencana Sumatra Disebut 'Tak Seberapa', Ucapan Tito Tuai Kontroversi: Dinilai Lukai Etika Diplomasi!

AKURAT BANTEN - Pernyataan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian terkait bantuan kemanusiaan dari Malaysia untuk korban banjir di Aceh berbuntut panjang. Ucapan yang awalnya dilontarkan dalam sebuah siniar kini berkembang menjadi polemik diplomatik yang dinilai mencederai sensitivitas hubungan antarnegara serumpun.
Kontroversi ini tak lagi berhenti pada perdebatan warganet. Reaksi keras justru datang dari tokoh senior Malaysia, mantan Menteri Luar Negeri Rais Yatim, yang secara terbuka menegur Tito melalui sebuah video yang viral di media sosial pada Jumat, 19 Desember 2025.
Baca Juga: TRAGIS! Bus Cahaya Trans Terguling di Exit Tol Krapyak, 16 Penumpang Tewas
Dalam video tersebut, Rais Yatim menyampaikan kekecewaannya atas pernyataan Mendagri RI yang dianggap meremehkan niat baik Malaysia. Ia menekankan bahwa bantuan kemanusiaan seharusnya dipandang sebagai wujud solidaritas, bukan dinilai dari besar kecilnya angka.
“Belajarlah adab dan budi bahasa sebelum bercakap di hadapan umum,” ujar Rais Yatim dengan nada tegas, menegaskan pentingnya etika dalam komunikasi pejabat publik, terlebih yang menyangkut hubungan antarnegara.
Polemik ini berawal dari pernyataan Tito dalam siniar Suara Lokal Mengglobal yang tayang di YouTube pada Sabtu, 13 Desember 2025. Dalam kesempatan itu, Tito menyinggung bantuan medis dari Malaysia yang nilainya kurang dari Rp1 miliar atau sekitar 60 ribu dolar AS.
Baca Juga: Kisruh Tambang Ormas Meledak di PBNU, Fahmy Radhi: Sejak Awal Lebih Banyak Mudarat
Tito menyebut angka tersebut “tidak seberapa” jika dibandingkan dengan kemampuan anggaran Indonesia. Pernyataan itu disebut dimaksudkan untuk menunjukkan kapasitas dan kemandirian nasional, namun justru dinilai publik sebagai ungkapan yang kurang empatik.
Di mata sebagian kalangan, ucapan tersebut terdengar merendahkan niat baik Malaysia, negara yang selama ini memiliki kedekatan historis, kultural, dan emosional dengan Indonesia, khususnya dengan masyarakat Aceh.
Pengamat hubungan internasional menilai kasus ini sebagai contoh klasik pentingnya kehati-hatian pejabat negara dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik. Satu kalimat yang keliru dapat berimplikasi luas, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung diplomasi regional.
Baca Juga: Angkasa Pura Pastikan Tidak Ada Pesawat Tergelincir di Bandara Soekarno-Hatta
Hingga kini, belum ada pernyataan klarifikasi resmi yang bersifat langsung dari Tito Karnavian kepada pihak Malaysia. Publik pun menanti langkah pemerintah untuk meredam ketegangan agar hubungan baik Indonesia–Malaysia tetap terjaga.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa dalam diplomasi, sikap rendah hati dan penghormatan terhadap niat baik pihak lain sering kali jauh lebih bermakna dibandingkan hitungan angka atau besaran bantuan semata.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










