Kisah Mutmainah: Setia Mendampingi Ustadz Yahya Waloni, Susah, Senang, Hingga Ikut Memeluk Islam

AKURAT BANTEN-Duka menyelimuti dunia dakwah Indonesia. Ustadz Yahya Waloni, sosok yang dikenal dengan ceramahnya yang berapi-api, telah berpulang.
Beliau mengembuskan napas terakhir di usia 55 tahun saat menyampaikan khutbah di Masjid Darul Falah, Makassar, pada Jumat (6/6/2025).
Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam, terutama bagi sang istri tercinta, Mutmainah.
Sosok Mutmainah mungkin tidak banyak dikenal publik, namun di balik nama besar Ustadz Yahya Waloni, ada seorang wanita bernama Mutmainah yang menyimpan kisah kesetiaan luar biasa.
Ia adalah pilar bagi sang ustadz, mendampingi di setiap lika-liku perjalanan hidupnya, baik dalam suka maupun duka.
Cinta yang Mengubah Segalanya: Kisah Mualaf Mutmainah
Kesetiaan Mutmainah tak hanya teruji dalam aspek kehidupan sehari-hari, melainkan juga dalam perjalanan spiritual.
Ia adalah Lusiana, nama lamanya, yang pada tahun 2006, mengikuti jejak suaminya memeluk agama Islam.
Sebuah keputusan besar yang menunjukkan dalamnya ikatan cinta dan keyakinan di antara keduanya.
Setelah bersyahadat, Lusiana berganti nama menjadi Mutmainah, sebuah nama yang sarat makna ketenangan dan keteguhan iman.
Tak hanya Mutmainah, ketiga buah hati mereka pun turut mengikuti jejak kedua orang tuanya.
Silvana kini bernama Nur Hidayah, Sarah menjadi Siti Sara, dan putra bungsunya bernama Zakaria.
Ini adalah bukti nyata sebuah keluarga yang bersama-sama menemukan dan menjalani keyakinan baru, sebuah kisah inspiratif tentang transformasi dan kebersamaan.
Baca Juga: Innalillahi! Ustadz Yahya Waloni Meninggal Dunia Usai Khutbah Jumat di Makassar
Detik-Detik Terakhir Ustadz Yahya Waloni: Kesaksian yang Mengharukan
Hari itu, Jumat Agung, Ustadz Yahya Waloni telah dijadwalkan untuk menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Darul Falah.
Pagi harinya, beliau bahkan sempat memberikan khutbah Idul Adha di masjid lain. Bersama Mutmainah, sang istri setia, ia menginap di Hotel Prima, Makassar.
Harfan Jaya Sakti (39), Sekretaris Pengurus Masjid Darul Falah, menjadi salah satu saksi mata yang mengharukan.
Ia menceritakan, Ustadz Yahya Waloni terjatuh tak sadarkan diri di mimbar setelah khutbah pertama, tepat saat hendak menyampaikan doa penutup di khutbah kedua.
"Masih sempat berdiri, di khutbah kedua, dan ingatkan kita pentingnya bertauhid kepada Allah SWT," ujar Harfan.
Prof. Dr. Syahruddin Usman (61), guru besar Tarbiyah UIN dan salah satu jamaah, juga menyimak dengan jernih pesan-pesan Ustadz Yahya Waloni yang bertemakan "kekuatan iman" dan "ujian Nabi Ibrahim yang menyembelih Ismail".
"Usai baca shalawat nabi dan sebelum bacakan doa khutbah terakhir, langsung pegang dada, jatuh di mimbar. Saya kira mau minum," kenang Harfan.
Namun, kondisi Ustadz Yahya Waloni tak lagi sadarkan diri. Jamaah segera mengangkat beliau ke mobil dan membawanya ke RS Klinik Bahagia Minasa Upa, meski takdir berkata lain.
Sekitar pukul 14.00 WITA, kabar duka itu pun menyebar: Ustadz Yahya Waloni telah wafat.
Terlihat dalam foto yang beredar, Mutmainah menangis pilu mengetahui kepergian belahan jiwanya.
Ia digandeng jemaah wanita lainnya, mencoba tegar di tengah badai kesedihan yang menghantam.
Jenazah Ustadz Yahya Waloni akan diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan di kediamannya.
Mengenal Lebih Dekat Ustadz Yahya Waloni: Dari Teolog Kristen Menjadi Pendakwah Islam
Ustadz Yahya Waloni, terlahir dengan nama Yahya Yopie Waloni pada 30 November 1970 di Manado, berasal dari keluarga Minahasa yang taat beragama Kristen.
Sebelum memeluk Islam, beliau memiliki latar belakang yang mendalam di dunia teologi Kristen.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua atau Rektor Sekolah Tinggi Theologia (STT) Calvinis Ebenhaezer di Sorong pada tahun 1997-2004, dan juga sempat menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) hingga tahun 2006.
Perjalanan spiritualnya membawanya ke Tolitoli pada tahun 2006, di mana ia akhirnya mendapatkan bimbingan ikrar syahadat dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat.
Sejak saat itu, Yahya Waloni mendedikasikan hidupnya untuk dakwah Islam.
Tentu, perjalanan dakwah Ustadz Yahya Waloni tak lepas dari kontroversi, termasuk kasus ujaran kebencian yang pernah menjeratnya.
Namun, di balik semua itu, ada kisah pribadi yang tak terpisahkan dari Mutmainah, sang istri yang setia mendampingi dalam setiap jejak langkahnya, menjadi saksi bisu suka dan duka, hingga akhir hayat (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






