Bencana Pergerakan Tanah Hantam Cianjur: Ratusan Rumah Rusak, Warga Mengungsi

AKURAT BANTEN - Dua desa di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tengah berjuang menghadapi dampak bencana pergerakan tanah yang merusak ratusan rumah warga dan fasilitas umum.
Fenomena alam ini, yang terjadi akibat pergeseran massa tanah atau batuan, telah mengguncang kehidupan masyarakat di Desa Situhiang dan Desa Pangadegan.
Baca Juga: Polisi Bekuk Pelaku Mutilasi Perempuan di Sumbar, Diduga Sudah Bunuh 3 Orang
Hujan deras yang terus-menerus mengguyur wilayah ini selama dua bulan terakhir menjadi pemicu utama, ditambah dengan kondisi tanah yang labil, membuat bencana ini tak terelakkan.
Kehancuran yang ditimbulkan tak hanya merenggut tempat tinggal, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi warga yang kini harus mencari tempat berlindung.
Camat Pagelaran, Reki Nopendi, menjelaskan bahwa pergerakan tanah ini dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang melemahkan struktur tanah di kawasan tersebut.
Menurut data yang dihimpun, setidaknya 200 rumah warga terdampak bencana ini, dengan 66 di antaranya mengalami kerusakan parah hingga tak lagi layak huni.
“Di Desa Situhiang, ada 34 rumah yang rusak berat, sementara di Desa Pangadegan tercatat 32 rumah dalam kondisi serupa,” ungkap Reki saat berbincang dengan wartawan pada Kamis (19/6).
Ia menambahkan bahwa pergerakan tanah masih berlangsung hingga saat ini, membuat warga semakin cemas akan keselamatan mereka.
Baca Juga: WNI di Iran Terancam, Indonesia Naikkan Status Siaga dan Siapkan Evakuasi di Tengah Konflik
Dampak bencana ini tak hanya terbatas pada rumah warga. Fasilitas umum seperti jalan lingkungan, masjid, dan bahkan sebuah puskesmas di kawasan tersebut turut menjadi korban.
Akses jalan yang rusak menyulitkan mobilitas warga, sementara kerusakan pada puskesmas menghambat pelayanan kesehatan di tengah situasi darurat.
“Kami melihat masjid yang biasa jadi tempat ibadah warga kini retak-retak, dan puskesmas juga tak bisa beroperasi maksimal,” ujar Reki dengan nada prihatin.
Kondisi ini memaksa pemerintah setempat untuk segera bertindak cepat guna meminimalisir dampak yang lebih luas.
Baca Juga: Update! Berikut Jadwal Terbaru Piala Presiden 2025, Persib vs Port FC jadi Pembuka
Untuk membantu warga yang kehilangan tempat tinggal, Pemerintah Kecamatan Pagelaran telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur.
Sementara itu, warga yang rumahnya rusak berat terpaksa menumpang di rumah kerabat atau keluarga yang lokasinya lebih aman.
“Kami sedang berupaya memberikan solusi terbaik, termasuk rencana relokasi sementara bagi warga yang terdampak parah,” kata Reki.
Selain itu, tim BPBD juga tengah melakukan asesmen di lapangan untuk menentukan langkah penanganan jangka pendek dan panjang, termasuk kemungkinan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak.
Baca Juga: Tiba di Rusia, Prabowo Disambut Hangat Jajar Kehormatan dan Siap Bertemu Putin
Reki juga mengimbau warga untuk tetap waspada, mengingat curah hujan yang tinggi masih berpotensi memicu bencana serupa. Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan warga dalam menghadapi situasi darurat, seperti memantau perubahan kondisi tanah di sekitar tempat tinggal mereka.
“Hujan masih terus turun, dan kami khawatir pergerakan tanah bisa meluas. Warga harus selalu siaga,” pesannya.
Pemerintah daerah juga berencana mengedukasi masyarakat tentang tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti retakan di tanah atau bangunan, agar mereka bisa segera mengungsi sebelum situasi memburuk.
Bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah Cianjur terhadap bencana alam, terutama di musim hujan. Warga kini berharap pemerintah segera memberikan bantuan yang memadai, mulai dari tempat tinggal sementara hingga perbaikan infrastruktur.
Di tengah keprihatinan, solidaritas antarwarga menjadi penopang utama, dengan banyak keluarga membuka pintu rumah mereka untuk menampung tetangga yang terdampak. Pemerintah dan BPBD diharapkan terus bergerak cepat, tidak hanya untuk menangani dampak bencana, tetapi juga untuk mencegah kerusakan lebih lanjut di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










