Banten

Kontroversi Koboi di Kabinet Prabowo: Komentar Berani Menkeu Baru yang Guncang Publik

Saeful Anwar | 10 September 2025, 09:56 WIB
Kontroversi Koboi di Kabinet Prabowo: Komentar Berani Menkeu Baru yang Guncang Publik

 

AKURAT BANTEN-Pergantian kepemimpinan sering kali membawa angin segar, namun perombakan kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 8 September 2025, justru memicu gelombang diskusi yang meluas, bahkan hingga ke panggung internasional.

Bukan sekadar isu domestik, media terkemuka Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), turut menyoroti perombakan ini dalam pemberitaannya yang berjudul “Can Indonesia's Cabinet Reshuffle Restore Public Trust and Calm Protesters?”

Artikel SCMP tersebut mengulas secara mendalam apa yang terjadi di balik panggung politik Indonesia, menyoroti beberapa poin krusial yang membuat keputusan ini menjadi perhatian dunia.

Baca Juga: Badai Kritik Hantam Menteri Keuangan Purbaya: Remehkan '17+8 Tuntutan Rakyat', BEM UI Tuntut Pencopotan!

Perombakan kabinet ini terjadi tak lama setelah demonstrasi besar yang melanda seluruh Indonesia.

Awalnya dipicu oleh kemarahan publik terhadap tunjangan perumahan anggota parlemen yang dianggap terlalu mewah, protes ini dengan cepat meluas menjadi luapan kekecewaan terhadap ketidaksetaraan ekonomi dan kenaikan biaya hidup.

Situasi memanas setelah insiden tragis tewasnya seorang pengemudi ojek berusia 21 tahun saat aksi protes di Jakarta, yang menambah bara dalam api kemarahan massa.

Dalam konteks inilah, Presiden Prabowo mengambil langkah cepat dan tegas. Beberapa nama besar yang dikenal publik, seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menko Polhukam Budi Gunawan, dicopot dari jabatannya.

Baca Juga: Tangis Pecah Sri Mulyani Saat Pamit, Dihantui Kenangan dan Kebijakan Kontroversial: Mengapa Sang Menteri Menangis?

Selain itu, muncul juga Kementerian Haji dan Umrah yang berdiri sendiri, menandakan fokus baru pada pelayanan keagamaan.

"Perubahan ini dilakukan setelah berbagai pertimbangan, masukan, dan evaluasi oleh presiden," ujar Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dalam artikel yang dikutip SCMP, menegaskan bahwa ini adalah keputusan yang matang. 

Pesan Politik di Balik Perubahan

SCMP melihat perombakan ini bukan sekadar pergantian posisi, melainkan manuver politik strategis.

Dari lima menteri yang dicopot, empat di antaranya berasal dari era pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Hal ini menimbulkan interpretasi bahwa Presiden Prabowo sedang berupaya mengonsolidasikan kekuasaan.

Nicky Fahrizal, seorang peneliti politik dari CSIS Indonesia, menjelaskan pandangan ini: "Sudah jelas Prabowo sedang memperketat barisannya, dengan alasan utama untuk menentukan siapa yang akan menjadi loyalisnya dan siapa yang bisa melaksanakan program-programnya.

" Perubahan ini seolah menjadi pesan bahwa kabinet baru akan diisi oleh orang-orang yang sepenuhnya sejalan dengan visi dan misinya.

 Baca Juga: Ganti Menteri Keuangan, Pasar Bergejolak: Sinyal Bahaya atau Awal Era Baru?

Kontroversi di Hari Pertama Menkeu Baru

Salah satu sorotan terbesar dalam pemberitaan SCMP adalah tentang Menteri Keuangan yang baru, Purbaya Yudhi Sadewa.

Kurang dari 24 jam setelah dilantik, Purbaya langsung memicu kontroversi dengan pernyataan yang berani.

Saat ditanya tentang protes yang marak, Purbaya menyebutnya hanya mewakili "sebagian kecil dari rakyat kita, yang merasa hidup mereka masih belum cukup."

Ia juga optimistis bisa mengendalikan ekonomi hingga mencapai pertumbuhan 8%.

"Kalau saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6 atau 7 persen, (protes) akan otomatis hilang. Orang-orang akan sibuk mencari kerja dan makan enak daripada protes," kata Purbaya.

Baca Juga: Yudo Sadewa Sebut Sri Mulyani Agen CIA, Ternyata Anak Purbaya Yudhi Sadewa Bukan Orang Sembarangan?

Pernyataan ini sontak menuai reaksi. Keesokan harinya, Purbaya meminta maaf atas gaya bicaranya yang ia sebut "seperti koboi" dan meminta wartawan untuk memberinya waktu untuk bekerja.

Meskipun Purbaya optimis, banyak ekonom ragu. Gumilang Sahadewo, seorang ekonom dari Universitas Gadjah Mada, mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa dicapai hanya dengan kata-kata.

"Ada banyak indikator ekonomi yang perlu kita perbaiki, termasuk modal manusia, tata kelola kelembagaan, dan mengurangi salah alokasi sumber daya dalam pembuatan kebijakan formal," ujar Gumilang. Menurutnya, pondasi yang kuat adalah kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diinginkan.

Perombakan kabinet Presiden Prabowo Subianto ini menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana dinamika politik domestik bisa menarik perhatian global.

Di mata dunia, keputusan ini tidak hanya dilihat dari sudut pandang internal, tetapi juga sebagai cerminan dari tantangan politik dan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini (**) 

 

 

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman