Banten

'Nanti Saya Dimarahi': Menkeu Purbaya Tiba-Tiba 'Rem' Gaya Komunikasi 'Koboi'-nya, Mengapa?

Saeful Anwar | 28 Oktober 2025, 20:12 WIB
'Nanti Saya Dimarahi': Menkeu Purbaya Tiba-Tiba 'Rem' Gaya Komunikasi 'Koboi'-nya, Mengapa?

AKURAT BANTEN– Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mendadak mengubah gaya komunikasinya yang selama ini dikenal ceplas-ceplos dan "koboi" di hadapan publik.

Perubahan drastis ini muncul setelah Bendahara Negara tersebut dibanjiri kritik, termasuk dari internal pemerintahan.

"Katanya ngomongnya harus begitu sekarang, enggak boleh ceplas-ceplos. Nanti saya dimarahi. Nanti saya investigasi lagi," ujar Purbaya dengan nada berhati-hati saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (27/10/2025).

Pernyataan "ngerem" ini disampaikan Purbaya ketika ditanya mengenai nasib kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) tahun depan, sebuah isu sensitif yang ditunggu-tunggu jutaan pegawai.

Ia memilih tidak menjanjikan kepastian dan menegaskan masih harus berdiskusi.
"Saya belum tahu, nanti saya diskusikan sama teman-teman di kantor," katanya, menunjukkan kehati-hatian yang kontras dengan karakternya sebelumnya.

Baca Juga: VIRAL! Tendangan Heroik Bawa Maut: BULAN, Gagalkan Komplotan Curanmor Siang Bolong di Bogor, Hingga Motor Pelaku Disita Polisi!

Ancaman Soliditas

Gaya komunikasi Purbaya yang ceplas-ceplos sebelumnya kerap menjadi sorotan, bahkan sejak awal menjabat.

Tindakan dan pernyataannya yang blak-blakan sering memicu reaksi publik dan kritik dari kementerian/lembaga lain.

Salah satu kritik tajam datang dari Mantan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Hasan Nasbi.

Hasan secara terbuka menilai, gaya komunikasi Menkeu berpotensi serius mengancam solidaritas kabinet dan dinilai bisa melemahkan citra pemerintahan secara keseluruhan di mata publik.

Ia menekankan pentingnya menjaga etika komunikasi antarpejabat di ruang terbuka.

Diketahui, kritik ini terkait dengan pernyataan-pernyataan Purbaya di masa lalu yang menyentil kementerian lain atau kebijakan yang belum final, sehingga menimbulkan kebingungan publik.

Baca Juga: VONIS KASUS ITE NIKITA MIRZANI: Divonis 4 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar, Lolos dari Jerat TPPU 11 Tahun Penjara!

Perubahan Strategi

Kehati-hatian Purbaya dalam merespons isu kenaikan gaji ASN 2026 ini menjadi titik penekanan atas "rem" yang ia terapkan.

Sebelumnya, Purbaya memang sempat memberi kode positif terkait potensi kenaikan gaji, namun kini ia memilih mengunci informasinya rapat-rapat.

Direktur Anggaran Kemenkeu bahkan sempat mengungkapkan bahwa alokasi anggaran khusus untuk kenaikan gaji ASN 2026 belum terlihat dalam Nota Keuangan maupun Rancangan APBN.

Ini berarti, pernyataan publik mengenai kebijakan vital seperti gaji harus benar-benar terukur dan hanya disampaikan setelah ada lampu hijau dari Presiden.

Keputusan Purbaya untuk tiba-tiba menahan diri ini mengindikasikan adanya tekanan atau instruksi dari internal kekuasaan yang lebih tinggi agar komunikasi publik para menteri lebih terkoordinasi dan tidak memicu polemik yang menggerus kepercayaan.

Menkeu 'Koboi' kini memilih jalur yang lebih aman: menunggu kepastian demi menghindari 'dimarahi' dan menjaga keharmonisan kabinet.

Perubahan sikap Menkeu Purbaya ini menjadi sorotan menarik, menandakan adanya penyesuaian strategi komunikasi di pemerintahan baru, demi memastikan semua pejabat berbicara dalam satu suara (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman