Ambisi Besar Indonesia Bangun Pusat Riset Rumput Laut Dunia di Lombok Timur
Akurat Banten - Indonesia menegaskan langkah serius untuk naik kelas dari sekadar produsen menjadi pusat inovasi komoditas laut bernilai tinggi melalui pembangunan International Tropical Seaweed Research Center atau ITSRC di Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Keberadaan fasilitas ini diproyeksikan menjadi motor penggerak baru yang bukan hanya menyentuh dunia akademik, tetapi juga kehidupan ekonomi masyarakat pesisir yang selama ini menggantungkan harapan pada laut.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyampaikan bahwa penguatan riset merupakan fondasi penting bila Indonesia ingin benar-benar berdiri sebagai poros rumput laut global.
“Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang. Karena itu, kita membangun pusat riset bertaraf internasional dengan standar dan jejaring yang memang global,” kata Stella.
Ia menuturkan, pilihan terhadap Teluk Ekas bukan keputusan yang lahir tiba-tiba, sebab wilayah tersebut telah lama hidup berdampingan dengan aktivitas budidaya dan penangkapan oleh warga setempat.
Melalui pendekatan ilmiah yang lebih kuat, pusat riset ini diharapkan mampu menghadirkan bibit unggul, metode produksi yang efisien, sekaligus kualitas panen yang sanggup bersaing di pasar internasional.
Indonesia sendiri saat ini dikenal sebagai pemain utama untuk rumput laut tropis dan menguasai sekitar tiga perempat kebutuhan dunia, sebuah angka yang menunjukkan potensi luar biasa bila dikelola lebih maju.
Baca Juga: Miris! Kebakaran Hanguskan Rumah Lansia di Polewali Mandar, Tabungan Rp10 Juta Ikut Ludes Terbakar
Menurut Stella, nilai perdagangan global komoditas ini telah menyentuh 12 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun dan tren kebutuhannya masih terus menanjak.
Besarnya pasar tersebut, lanjut dia, seharusnya diikuti dengan kemampuan riset dalam negeri sehingga keuntungan tidak berhenti pada penjualan bahan mentah semata.
Ia mengingatkan bahwa masa depan industri maritim Indonesia sangat bergantung pada keberanian membangun inovasi, termasuk memperkuat hilirisasi agar nilai tambah tercipta di tanah air.
Atas dasar itu, ITSRC dipersiapkan menjadi titik temu kolaborasi para ilmuwan nasional dengan jejaring peneliti kelas dunia.
“Kami bekerja sama dengan University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari China. Beijing Genomics Institute berkomitmen mendukung pendanaan Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, termasuk peralatan dan peneliti. Kemdiktisaintek juga telah mengalokasikan Rp1,5 miliar untuk tahap awal,” ucap Stella Christie.
Kemitraan lintas negara tersebut diharapkan membuka transfer pengetahuan, mempercepat pengembangan teknologi, serta memperluas akses pasar produk turunan rumput laut Indonesia.
Nantinya berbagai sarana akan berdiri di kawasan itu, mulai dari laboratorium modern, hunian bagi peneliti mancanegara, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur pendukung yang memadai untuk riset jangka panjang.
Secara lingkungan, Teluk Ekas memiliki karakter perairan tropis yang relatif aman dari gelombang besar dengan sirkulasi air yang baik sehingga cocok dijadikan laboratorium hidup.
Para peneliti dapat menguji produktivitas, menelaah daya tahan terhadap perubahan iklim, sampai mengembangkan biomassa dalam skala luas tanpa harus meninggalkan lokasi budidaya.
Baca Juga: Empat Tahun Tak Disesuaikan, Perda Bangunan Gedung Kota Tangerang Disorot
Selain Kappaphycus yang selama ini populer sebagai bahan baku karagenan, kawasan tersebut juga membuka peluang eksplorasi bagi jenis lain seperti Caulerpa, Ulva, serta Halymenia yang memiliki prospek industri menjanjikan.
Langkah pembangunan pusat riset ini pun membawa harapan baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri di hilir rantai pasok global, melainkan memimpin arah inovasi dari hulu ke hilir.
Dengan dukungan ilmu pengetahuan, jejaring internasional, serta keterlibatan masyarakat pesisir, mimpi menjadi pusat rumput laut dunia perlahan diarahkan menuju kenyataan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










