Banten

UPDATE MBG : KASUS KERACUNAN BIKIN PEMERINTAH BERSATU, MENKES SIAPKAN 'SISTEM MONITORING ALA COVID-19'

Saeful Anwar | 9 Oktober 2025, 09:50 WIB
UPDATE MBG : KASUS KERACUNAN BIKIN PEMERINTAH BERSATU, MENKES SIAPKAN 'SISTEM MONITORING ALA COVID-19'

  

AKURAT BANTEN-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi anak sekolah kini diterpa badai.

Serangkaian dugaan kasus keracunan makanan di berbagai daerah memaksa pemerintah bergerak cepat.

Bukan sekadar evaluasi, pemerintah kini membangun sistem pengawasan berlapis yang super ketat, bahkan disebut-sebut bakal mirip dengan mekanisme monitoring saat pandemi COVID-19.

Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah membentuk tim darurat untuk menyikapi insiden kesehatan di lapangan.

Fokus utama saat ini: memastikan makanan yang disajikan 100% aman dan menemukan akar masalah keracunan.

Baca Juga: Kontras Sikap MUI: Tolak Atlet Senam Israel, Tapi Lantunkan Doa Lolos Piala Dunia untuk Timnas di Tanah Arab

Menkes Budi Gunadi Sadikin: Data Keracunan Di-Update Harian, BGN Jadi Juru Bicara Resmi

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa seluruh laporan dugaan keracunan akibat MBG kini ditangani dengan sistem pelaporan yang terstruktur.

"Datanya sudah ada, dan kami update setiap hari," ujar Menkes Budi di Kompleks Istana, Jakarta, Rabu, 8 Oktober 2025.

Ia menjelaskan bahwa data insiden keracunan dikumpulkan secara berjenjang, dimulai dari Puskesmas di tingkat terdepan, lalu diteruskan ke BGN.

Untuk menghindari informasi simpang siur, Menkes Budi menegaskan bahwa BGN yang akan menjadi satu-satunya pihak yang merilis data resmi ke publik.

Langkah ini penting untuk menjaga transparansi dan akurasi informasi.

Baca Juga: 84 Hari Lagi 2026, Ini Cara Ambil Cuti Panjang Tanpa Harus Ambil Jatah Cuti dari Kantor

Lacak Sumber Masalah: Menghubungkan Puskesmas dengan Dapur SPPG

Mekanisme pelaporan Kemenkes dirancang untuk tidak hanya mencatat kasus, tetapi juga melacak sumber pastinya.

"Kami hubungkan laporan dari Puskesmas dengan sekolah-sekolah yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait. Ini agar kita tahu sumber pastinya dari mana," jelasnya.

Artinya, setiap insiden keracunan akan langsung dicocokkan dengan data dapur SPPG mana yang menyuplai makanan ke sekolah terdampak.

Ini adalah langkah krusial untuk melakukan penindakan spesifik dan menghentikan penyebaran masalah.

Baca Juga: Bencana Maut Ponpes Sidoarjo: 67 Korban Jiwa dan Kontroversi 'Takdir' vs. Tanggung Jawab Hukum

Pengawasan Eksternal Tiga Pilar: Kemenkes, BPOM, dan Kemendagri Turun Tangan

Masalah MBG ini tidak bisa hanya diawasi oleh satu lembaga.

Pemerintah menerapkan sistem pengawasan berlapis untuk menutup celah kesalahan, baik dari hulu hingga hilir.

Selain pengawasan internal harian oleh BGN di dapur-dapur SPPG, tiga kementerian/lembaga utama akan bertindak sebagai pengawas eksternal mingguan:

Baca Juga: KENAPA OBAT PAHIT SEKALI? Ternyata, Ini Taktik Bertahan Hidup Sejak Jutaan Tahun!

Kementerian Kesehatan (Kemenkes): Fokus pada kesehatan dan sanitasi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM): Fokus pada kualitas bahan baku dan standar makanan.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri): Fokus pada koordinasi di tingkat daerah.

"Pengawasan eksternal akan dilakukan setiap minggu oleh Kemenkes, Kemendagri, dan BPOM," kata Budi.

Pengawasan ini mencakup audit ketat terhadap kualitas bahan makanan, sanitasi dapur, serta proses penyajian di sekolah.

Baca Juga: Kemenag Tangerang Akan Audit Seluruh Bangunan Pesantren Pasca Ambruknya Musholla Al Khoziny

Cakupan Diperluas: Bukan Hanya Keracunan, Tapi Dampak Jangka Panjang Gizi

Pemerintah menyadari bahwa program sebesar MBG harus diukur tidak hanya dari insiden keracunan, tetapi juga dari dampak jangka panjangnya terhadap gizi anak.

Menkes Budi mengumumkan dua langkah strategis:

1. Monitoring Gizi Berkala

Penerima manfaat MBG akan diukur tinggi dan berat badannya setiap enam bulan sekali.

Hasil ini kemudian akan dikaitkan dengan data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah.

Tujuannya: "Dengan begitu kita bisa tahu sejauh mana program ini efektif memperbaiki gizi anak sekolah," tutur Budi.

2. Survei Gizi Nasional Meluas

Survei gizi nasional yang selama ini fokus pada balita stunting kini akan diperluas hingga anak usia sekolah.

Hal ini penting untuk mendapatkan "gambaran besar kondisi gizi nasional" yang komprehensif sebagai dasar perbaikan kebijakan di masa depan (**) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman