Banten

LEBAK BERGOLAK! Aksi Mogok Massal Siswa SMAN 1 Cimarga Guncang Banten, Tuntut Kepsek Pencopotan Usai Insiden Tamparan

Saeful Anwar | 15 Oktober 2025, 17:32 WIB
LEBAK BERGOLAK! Aksi Mogok Massal Siswa SMAN 1 Cimarga Guncang Banten, Tuntut Kepsek Pencopotan Usai Insiden Tamparan

 

AKURAT BANTEN-Ketenangan di dunia pendidikan Banten tiba-tiba terusik. Pusatnya adalah SMA Negeri 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, yang kini menjadi saksi bisu gelombang protes massal siswa.

Pemicunya? Sebuah tamparan yang dilayangkan Kepala Sekolah kepada salah satu muridnya.

Insiden yang terjadi pada Jumat (10/10) itu bukan hanya sekadar pelanggaran disiplin, namun telah memantik api kemarahan dan solidaritas yang belum pernah terjadi.

 Baca Juga: KPK 'Turun Gunung': Bedah Total Program Makan Gratis Prabowo, Bongkar Celah Rawan Korupsi, Ini Temuan Sementaranya.

Sekolah "Mencekam": 630 Siswa Tolak Belajar

Sehari setelah kejadian, suasana sekolah berubah total. Sebanyak 630 siswa dari 19 kelas kompak melakukan aksi mogok belajar.

Kelas-kelas kosong, dan koridor yang biasanya ramai dengan tawa berubah mencekam oleh gelombang protes.

Puncak kemarahan siswa terpampang nyata dalam sebuah spanduk yang terbentang di area sekolah: “Kami Tidak Akan Sekolah Sebelum Kepsek Dilengserkan”.

Ini adalah ultimatum keras, simbol perlawanan terhadap pimpinan sekolah, Dini Fitria. Mereka menuntut keadilan bagi teman mereka, Indra Lutfiana Putra (17), yang menjadi korban tamparan.

 Baca Juga: BONGKAR! Jurang Perbedaan Menu Makan Bergizi Gratis: Mewah ala Sukabumi vs Minimalis ala Depok!

Beda Versi: Disiplin atau Tamparan Spontan?

Kepala Sekolah, Dini Fitria, muncul memberikan klarifikasi yang justru memperuncing masalah. Ia mengakui penamparan itu, namun membantah motifnya sekadar urusan rokok.

“Saya kecewa bukan karena dia merokok, tapi karena tidak jujur. Saya spontan menegur dengan keras, bahkan sempat memukul pelan karena menahan emosi.

Tapi saya tegaskan, tidak ada pemukulan keras,” ujar Dini, mencoba meredam isu yang kadung viral.

Menurut Dini, kemarahannya dipicu oleh upaya sang siswa yang berusaha menghindar dan bersikap tidak jujur setelah ditegur karena merokok di sekitar sekolah.

Ia berdalih tindakannya hanya reaksi emosional sesaat yang kini ia sesali.

Namun, pengakuan ini dibantah keras oleh siswa korban, Indra Lutfiana Putra.

Indra menceritakan bahwa saat ia sudah membuang puntung rokoknya di warung dekat sekolah, ia justru merasa tidak dipercaya dan dipaksa mencari puntung itu lagi di hadapan siswa lain.

“Saya udah buang rokoknya, tapi disuruh cari lagi. Saya enggak bohong, tapi malah ditampar,” ungkap Indra.

 Baca Juga: Indonesia Dilanda Kemarau Ekstrem, Ini Ikhtiar Spiritual Umat Islam, Tata Cara Shalat Istisqa' Mohon Hujan Berkah

Gubernur Banten Ambil Sikap Tegas: Kepsek Dinonaktifkan!

Situasi yang tidak kondusif, di mana kegiatan belajar mengajar terhenti total, memaksa otoritas tertinggi di Banten turun tangan.

Mediasi yang coba diinisiasi pihak sekolah, komite, dan Dinas Pendidikan menemui jalan buntu karena siswa tetap pada tuntutan pencopotan.

Akhirnya, Pemerintah Provinsi Banten mengambil langkah tegas. Gubernur Banten, Andra Soni, menyatakan tidak ada toleransi untuk kekerasan.

“Sudah kita proses untuk dinonaktifkan. Tidak ada toleransi untuk kekerasan di lingkungan pendidikan,” tegas Gubernur pada Selasa (14/10). Kepala sekolah Dini Fitria kini harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

 Baca Juga: GEGARA APBN! Atalia Praratya Diserbu Santri di Rumah Pribadi: Tuntut Pemecatan karena Dinilai 'MELUKAI' Hati Korban Bencana!

Publik Terbelah: Pro-Disiplin vs Anti-Kekerasan

Ironisnya, kasus ini justru memicu perdebatan panas di media sosial, yang kini menjadi medan pertempuran opini.

Ribuan warganet justru berbalik menyalahkan orang tua siswa karena melaporkan kepala sekolah ke polisi.

Mereka menilai, sang kepala sekolah hanya menegakkan disiplin dan membela wibawa guru.

“Kalau semua orang tua tidak terima anaknya ditegur, habislah wibawa guru,” tulis seorang pengguna X (Twitter) yang disukai ribuan orang.

Baca Juga: 3 Miliar Pengguna! Instagram 'Gila-Gilaan' Tambah 1 Miliar Orang dalam 2 Tahun, Ini Dua Rahasia Meta Menjegal TikTok

Netizen juga menyoroti adanya aturan kawasan tanpa rokok di sekolah (Permendikbud No. 64 Tahun 2015) yang seharusnya dipatuhi.

Namun, di sisi lain, sebagian masyarakat mengingatkan publik agar tidak menjustifikasi tindakan fisik dalam bentuk apa pun.

Mereka berpendapat bahwa kekerasan emosional atau fisik bukanlah cara yang tepat dalam mendidik.

Kasus di SMAN 1 Cimarga kini menjadi pengingat keras bahwa dunia pendidikan harus dibangun di atas komunikasi, rasa hormat, dan pengelolaan emosi yang matang — bukan emosi sesaat dan saling tuding.

Konflik ini adalah pelajaran mahal bagi guru untuk mengelola emosi, dan bagi siswa untuk memahami bahwa disiplin adalah tanggung jawab, bukan hukuman (**) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman