Banten

Detik-Detik Mencekam di Ketapang: Belasan WNA China Diduga 'Ngamuk' Serang 5 Prajurit TNI dan Rusak Fasilitas Perusahaan

Saeful Anwar | 16 Desember 2025, 11:19 WIB
Detik-Detik Mencekam di Ketapang: Belasan WNA China Diduga 'Ngamuk' Serang 5 Prajurit TNI dan Rusak Fasilitas Perusahaan

AKURAT BANTEN – Sebuah insiden keamanan yang luar biasa tegang mengguncang kawasan pertambangan emas PT Sultan Rafli Mandiri (PT SRM) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Pada Minggu sore (14/12/2025), sebanyak 15 Warga Negara Asing (WNA) asal China diduga terlibat dalam aksi penyerangan brutal terhadap lima anggota TNI dan perusakan fasilitas perusahaan, menciptakan kegaduhan besar di wilayah tersebut.

Akibat insiden ini, lima prajurit TNI dikabarkan mengalami luka-luka, sementara dua unit kendaraan operasional milik perusahaan luluh lantak.

Pihak kepolisian, melalui Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris, membenarkan adanya kejadian dan kini tengah melakukan pendalaman intensif.

Baca Juga: Kontroversi Klub Turki Dan Misteri Masa Depan! Megawati 'Megatron' Hangestri Buka Suara Usai Gemilang di SEA Games 2025

Unjuk Senjata Tajam dan Airsoft Gun: Aksi 15 WNA Bikin Gaduh

Kekacauan ini bermula di Desa Pemuatan Batu, Kecamatan Tumbang Titi, pada pukul 15.40 WIB.

Menurut keterangan Chief Security PT SRM, Imran Kurniawan, insiden penyerangan bermula dari aktivitas mencurigakan yang melibatkan drone di atas area pertambangan.

Pemicu Awal: Sekitar pukul 15.30 WIB, Iwan, seorang anggota pengamanan sipil PT SRM, memergoki empat WNA China tengah menerbangkan drone di sekitar lokasi perusahaan.

Pengejaran Gabungan: Iwan segera melakukan pengejaran. Bersamaan dengan itu, lima anggota TNI dari Batalyon Zeni Tempur 6/Satya Digdaya (Yonzipur 6/SD) Anjungan, yang kebetulan sedang menjalani Latihan Dalam Satuan (LDS) di PT SRM, ikut bergabung.

Total enam orang (satu petugas keamanan dan lima prajurit TNI) mengejar pilot drone tersebut tanpa membawa senjata api.

Baca Juga: BUKAN MENYERAH BIASA: ‘Bendera Putih’ di Aceh Tamiang, Isyarat Jeritan Hati Rakyat yang Terlantar Pasca-Banjir Bandang Perlu Perhatian

Diserang Mendadak: Kalah Jumlah dan Senjata

Momen mencekam terjadi hanya sekitar 300 meter dari pintu masuk PT SRM.

Ketika Iwan dan para prajurit TNI berhasil mendekati empat WNA pilot drone, tiba-tiba datang sebelas WNA China lainnya yang diduga telah bersiap.

Mereka datang dengan membawa perlengkapan yang mengkhawatirkan:

  • Empat bilah senjata tajam (sajam) berupa parang.
  • Airsoft gun.
  • Alat setrum.

Imran Kurniawan menjelaskan, para WNA tersebut tanpa ragu langsung menyerang keenam anggota.
"Mereka langsung melakukan penyerangan terhadap enam anggota menggunakan senjata tajam," katanya.

Dalam kondisi kalah jumlah dan kalah senjata, tim pengejar terpaksa mundur dan berlari menuju area perusahaan untuk menghindari bentrokan yang lebih fatal.

Mobil dan sepeda motor perusahaan yang mereka gunakan untuk pengejaran pun menjadi sasaran perusakan.

Baca Juga: BERITA TERKINI! Mengguncang Politik Jabar: 'Ibu Cinta' Gugat Cerai Kang Emil di Tengah Badai Kasus

Motif Masih Misterius, Polisi Turun Tangan

Pasca kejadian, kerugian perusahaan diperkirakan cukup besar akibat kerusakan parah pada kendaraan.

Salah satu barang bukti, sebilah parang beserta sarungnya milik WNA China, berhasil diamankan oleh anggota pengamanan.

Hingga saat ini, motif di balik penerbangan drone dan aksi penyerangan yang terkoordinasi tersebut masih menjadi tanda tanya besar.

Baca Juga: DARURAT SAMPAH TANGSEL! Komedian David Nurbianto 'Sentil' Pemerintah: Ironi Kota Elit, Sampah Menumpuk dari Flyover hingga UMJ

Kapolres Ketapang, AKBP Muhammad Harris, menyatakan bahwa pihak kepolisian telah mengambil langkah cepat:

  • Klarifikasi Pihak Terkait: Mengumpulkan keterangan dari PT SRM, anggota TNI yang menjadi korban, dan pihak-pihak lain yang terlibat.
  • Penanganan Awal: Personel Polsek Tumbang Titi sudah berada di lokasi untuk penanganan awal dan pengamanan.
  • Koordinasi Imigrasi: Bekerja sama dengan Imigrasi setempat untuk mendata dan memproses status keimigrasian 15 WNA yang diduga terlibat.

"Sementara masih kami klarifikasi terlebih dulu dengan pihak-pihak terkait untuk berita tersebut," jelas AKBP Muhammad Harris, Senin (15/12/2025).

Insiden ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi dan korban luka, tetapi juga menyoroti potensi kerentanan keamanan di kawasan pertambangan, serta perlunya penertiban dan pengawasan ketat terhadap aktivitas WNA di lokasi vital nasional (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman