Banten

Whoosh Jakarta-Surabaya 3 Jam Terganjal Utang Triliunan? AHY Buka Suara: Jangan Sampai Infrastruktur Jadi Beban!

Saeful Anwar | 22 Oktober 2025, 14:38 WIB
Whoosh Jakarta-Surabaya 3 Jam Terganjal Utang Triliunan? AHY Buka Suara: Jangan Sampai Infrastruktur Jadi Beban!

 

AKURAT BANTEN – Rencana ambisius perpanjangan rute Kereta Cepat Indonesia-China (Whoosh) dari Jakarta-Bandung hingga ke Surabaya menjadi sorotan.

Proyek yang menjanjikan waktu tempuh fantastis, Jakarta-Surabaya hanya 3 jam, kini dihadapkan pada bayang-bayang polemik utang proyek sebelumnya.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa perpanjangan rute ini tak boleh terhambat, namun juga harus disertai skema pembiayaan yang berkelanjutan dan memitigasi risiko utang.

Baca Juga: HP Anda Diintai? Waspada! Ini 7 Tanda Tak Terbantahkan Ponsel Anda Disadap yang Wajib Anda Tahu!

Dilema Utang vs Konektivitas: Mimpi Jakarta-Surabaya 3 Jam

AHY mengakui bahwa realisasi rute Whoosh ke Surabaya dan permasalahan utang yang membelit proyek Whoosh Jakarta-Bandung adalah dua sisi mata uang yang harus didekati secara cermat.

“Di satu sisi, kita ingin konektivitas secara signifikan. Bisa dibayangkan, kalau Jakarta-Surabaya bisa ditempuh 3 jam saja, maka signifikan dari sisi travel time,” ujar AHY di kantor Kemenko IPK, Selasa (21/10/2025).

Jarak tempuh yang terpangkas drastis (dari sekitar 10-12 jam perjalanan darat/kereta konvensional) ini diprediksi akan merevolusi mobilitas, efisiensi bisnis, dan pariwisata antar dua kota metropolitan terbesar di Jawa. Namun, mimpi ini membawa tantangan besar, yaitu beban biaya dan skema utang yang harus diselesaikan dari proyek pendahulu.

AHY mengingatkan, "Utang ini tidak boleh menghambat rencana besar kita untuk mengembangkan konektivitas berikutnya, tadi Jakarta sampai dengan Surabaya."

Baca Juga: HEBOH! Warung Jukut Goreng Epy Kusnandar Diusik 'Preman': Bukan Pungli, Polisi Tegaskan Cuma Persoalan Makanan Habis dan Jukir Mabuk

Kunci Solusi AHY: TOD dan Nilai Tambah Kawasan

Menko AHY menegaskan bahwa proyek infrastruktur raksasa tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan jalur semata, melainkan harus memberikan manfaat atau keuntungan yang dirasakan secara luas dan mampu menciptakan stabilitas pembiayaan.

Solusinya terletak pada pengembangan kawasan di sekitar stasiun, atau yang dikenal sebagai konsep Transit-Oriented Development (TOD).

“Kawasan-kawasan transit itu harus menjadi nilai tambah yang juga bisa mendukung stabilitas pembiayaan dengan pengembangan konsep TOD... dengan pengembangan kawasan kita bisa menangkap potensi nilai tambah dari tanah atau lahan,” papar AHY.

Baca Juga: Isu Perang Dingin Purbaya vs Luhut di Sidang Kabinet, Purbaya Angkat Bicara!

Mengapa TOD Penting?

Konsep TOD memastikan bahwa stasiun Kereta Cepat menjadi pusat kegiatan ekonomi dan sosial. Ini adalah strategi cerdas untuk:

Mendukung Pembiayaan: Nilai tambah dari properti dan lahan di sekitar stasiun (melalui skema konsesi, sewa, atau kerjasama) diharapkan dapat menghasilkan pendapatan yang signifikan untuk membantu menstabilkan keuangan proyek, termasuk dalam konteks penyelesaian utang.

Menciptakan Sentra Ekonomi Baru: TOD mengubah stasiun menjadi simpul interaksi. Hal ini akan memicu pertumbuhan ekonomi lokal, lapangan kerja, dan pemerataan pembangunan di luar wilayah Jakarta dan Bandung.

Saat ini, pemerintah sedang mengkaji intensif berbagai opsi penyelesaian utang Whoosh, dengan harapan skema yang tepat dapat ditemukan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara langsung.

Keterlibatan holding BUMN, Danantara, sebagai penanggung jawab proyek, menjadi salah satu opsi utama dalam mengurai benang kusut utang sambil memastikan kelanjutan proyek strategis nasional ini.

Kelanjutan Whoosh ke Surabaya bukan hanya soal kecepatan, tapi juga strategi jangka panjang agar infrastruktur vital ini benar-benar menjadi aset ekonomi, bukan hanya beban utang negara (**) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman