Prabowo Ambil Alih Tanggung Jawab Penuh Whoosh: Said Didu Soroti 'Cabut Gigi Taring' Menkeu Purbaya dan Isu Korupsi!

AKURAT BANTEN-Polemik utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh mencapai babak baru setelah Presiden terpilih Prabowo Subianto secara tegas menyatakan akan mengambil alih tanggung jawab penuh atas proyek tersebut.
Pernyataan ini dinilai oleh pengamat politik senior, Said Didu, memicu beragam tafsiran sekaligus menciptakan kontradiksi tajam dengan sikap Menteri Keuangan (Menkeu) sebelumnya, Purbaya Yudi Sadewa.
Latar Belakang Pemanasan: Menkeu Ogah Sentuh APBN
Perdebatan publik mengenai nasib finansial Whoosh memanas pasca pernyataan Menkeu Purbaya yang tegas menolak menggunakan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menutupi kewajiban utang proyek tersebut. Sikap ini menciptakan ketegangan mengenai siapa yang seharusnya menanggung beban keuangan yang membengkak.
Titik didih diskusi ini, menurut Said Didu, terjadi ketika Prabowo memberikan "deklarasi perang" terhadap keraguan tersebut.
“Puncaknya kemarin Presiden Prabowo (bilang) ‘Tidak ada yang salah di kereta cepat ini dan saya akan ambil tanggung jawab’, kira-kira begitu,” ujar Said Didu dalam sebuah podcast yang diunggah di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Kamis (6/11/2025).
Tiga Tafsiran Tajam Pernyataan Prabowo
Bagi Said Didu, deklarasi Prabowo tersebut bukanlah pernyataan biasa, melainkan sebuah langkah politik strategis yang membuka tiga kemungkinan tafsiran utama di mata publik:
Pasang Badan untuk Jokowi: Tafsiran paling dominan adalah bahwa Prabowo memilih "memasang badan" untuk menutupi atau mengambil alih segala kesalahan terkait proyek warisan pemerintahan Joko Widodo.
Normalisasi Tanggung Jawab Kepala Negara: Tafsiran kedua adalah ini hanyalah fungsi normal seorang Presiden yang bertanggung jawab atas kebijakan pemerintahan sebelumnya.
Jaminan untuk Investor China: Said menduga kuat pernyataan ini bertujuan menenangkan pihak China, kreditor utama proyek, dengan jaminan pembayaran yang pasti, karena secara realistis, pendapatan operasional Whoosh sulit menutup utang.
Menenangkan PT KAI: Pernyataan ini juga ditujukan kepada Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, yang sempat menyebut Whoosh adalah "bom waktu", sehingga beban kekhawatiran operasional dipindahkan ke level negara.
Baca Juga: Air Mata dan Janji Setia di Tengah Badai: Begini Reaksi Pilu Habib Jafar Atas Penangkapan Onad
Kontradiksi yang Menganga: Purbaya Dicabut 'Gigi Taringnya'?
Aspek paling menarik dari analisis Said Didu adalah adanya perbedaan arah kebijakan yang kontras antara Presiden terpilih dengan Menkeu yang sebelumnya loyal mengikuti arahan Presiden.
“Bisa ditafsirkan bahwa ini gigi taringnya Purbaya dicabut, ‘Bahwa belum tentu apa yang dikatakan sesuai arahan saya sebagai Presiden,’ padahal Purbaya sering menyatakan bahwa dia mengikuti arahan Presiden,” tegas Said Didu.
Ironisnya, lanjut Said, pernyataan ini muncul di tengah harapan publik yang tinggi terhadap Prabowo sebagai figur yang diusung untuk memberantas korupsi dan melawan oligarki.
Said menyoroti bahwa pernyataan Prabowo yang langsung menyatakan mengambil tanggung jawab seolah bertolak belakang dengan retorika kerasnya di masa kampanye untuk "mengejar koruptor sampai Antartika", terutama saat muncul dugaan kasus korupsi dalam proyek Whoosh itu sendiri (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










