Banten

HEBOH! Impor Solar Anjlok 86% Berkat Biodiesel, Bahlil Kini Bidik Bensin dengan Etanol (E20)

Saeful Anwar | 29 Oktober 2025, 10:00 WIB
HEBOH! Impor Solar Anjlok 86% Berkat Biodiesel, Bahlil Kini Bidik Bensin dengan Etanol (E20)

AKURAT BANTEN– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, kembali mencuri perhatian dengan pengungkapan data dan rencana strategis yang agresif untuk menekan ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia.

Setelah sukses besar dengan program biodiesel, kini giliran BBM jenis bensin yang menjadi target melalui dorongan penggunaan etanol.

Kisah Sukses Biodiesel: Impor Solar Anjlok Hingga 86%!

Dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Selasa (28/10/2025), Bahlil Lahadalia memaparkan pencapaian gemilang program biodiesel. Transformasi ini terbukti mampu memangkas drastis impor BBM Solar.

"Konsumsi solar kita per tahun 34 sampai 35 juta ton per tahun. Sekarang (impor) tinggal 4,9 juta ton karena kita menuju B40 dan B50," ungkap Bahlil.

Angka ini menunjukkan penurunan impor solar yang sangat signifikan, menjadi kurang dari seperlima (sekitar 14%) dari total konsumsi.

Keberhasilan ini tidak hanya menghemat devisa negara, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam pemanfaatan minyak sawit (CPO) untuk energi terbarukan.

 Baca Juga: HEBOH! Wakil Kepala BGN Janjikan Rp5 Juta untuk Konten Viral, Ternyata Ini Fakta di Baliknya

Bensin Jadi Target Berikut: Etanol (E10 dan E20) Sebagai Solusi Mandiri

Tidak berhenti di solar, pemerintah kini mengalihkan fokus ke BBM jenis bensin.

Dengan konsumsi bensin mencapai 42 juta ton per tahun dan impor yang masih mendominasi di angka 22-23 juta ton, Bahlil menetapkan langkah serupa.

Rencananya? Mencampur bensin dengan Etanol (Ethanol), atau dikenal sebagai program E10 dan E20.

  • E10: Campuran 10% Etanol
  • E20: Campuran 20% Etanol

"Caranya bagaimana agar kita tidak terlalu banyak impor? Kita harus mendorong ke E10 dan E20," tegas Ketua Umum Partai Golkar ini.

Menurut Bahlil, Etanol yang berasal dari komoditas lokal seperti jagung, tebu, dan singkong memiliki efek ganda.

"Ini tidak hanya sekadar untuk mempertahankan energi kita. Tapi juga menciptakan lapangan kerja dan instrumen pertumbuhan yang bisa kita lakukan di daerah-daerah," paparnya, menyoroti dimensi ekonomi kerakyatan dari kebijakan ini.

Baca Juga: 'Nanti Saya Dimarahi': Menkeu Purbaya Tiba-Tiba 'Rem' Gaya Komunikasi 'Koboi'-nya, Mengapa?

Bantahan Keras: Etanol Tidak Merusak Kualitas Bensin!

Merespon polemik yang beredar, Bahlil Lahadalia dengan tegas membantah anggapan bahwa campuran etanol akan menurunkan kualitas bensin.

"Jadi, sangat tidak benar kalau ada diskusi-diskusi oleh berbagai kelompok yang mengatakan bahwa etanol ini adalah barang yang tidak bagus," bantahnya.

Untuk memperkuat argumennya, ia menyebutkan praktik yang telah dilakukan negara-negara maju dan berkembang:

Negara

Tingkat Campuran Etanol

India

E30

Amerika Serikat

E20 (Bahkan beberapa negara bagian sudah E85)

Thailand

E20

 Jadi, kita itu jangan selalu berpikir sesuatu yang seolah-olah ada sesuatu gitu," sindir Bahlil, mendesak agar Indonesia tidak tertinggal dalam inovasi energi.

Baca Juga: VIRAL! Tendangan Heroik Bawa Maut: BULAN, Gagalkan Komplotan Curanmor Siang Bolong di Bogor, Hingga Motor Pelaku Disita Polisi!

Sindiran Tajam untuk SPBU Swasta yang Menolak Kolaborasi

Isu Etanol ini sempat memicu polemik, terutama dari kalangan SPBU swasta yang membatalkan pembelian base fuel Pertamina karena adanya kandungan Etanol.

Menanggapi hal ini, Bahlil melontarkan sindiran keras.

"Yang kedua, jangan swasta memaksakan kehendak gitu loh. Apalagi SPBU-SPBU ini kan gitu... Jangan dikira kita tidak paham, seperti orang Papua bilang, adek kau baru mau tulis, kakak sudah baca," ujarnya, menggunakan perumpamaan khas yang menusuk.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar, juga telah mengklarifikasi bahwa kandungan etanol dalam base fuel (sekitar 3,5%) masih jauh di bawah batas regulasi yang memperbolehkan hingga 20% etanol.

Penolakan SPBU swasta tersebut dinilai sebagai upaya untuk tidak mengikuti transformasi energi nasional.

Baca Juga: VONIS KASUS ITE NIKITA MIRZANI: Divonis 4 Tahun Penjara dan Denda Rp1 Miliar, Lolos dari Jerat TPPU 11 Tahun Penjara!

Proyeksi Masa Depan

Pencanangan program pencampuran E10 untuk bensin di Indonesia ditargetkan untuk dimulai pada tahun 2026 mendatang. Dengan kesuksesan biodiesel sebagai cerminan, komitmen pemerintah untuk mencapai kemandirian energi melalui Etanol tampak semakin kuat.

Kebijakan ini akan menjadi ujian berikutnya bagi sinergi pemerintah, BUMN, dan sektor swasta dalam mewujudkan ketahanan energi nasional (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman