Beras Melimpah Sepanjang 2026 Stok Nasional Diproyeksi Tembus 47 Juta Ton

AKURAT BANTEN - Pemerintah memastikan kondisi pasokan pangan nasional berada dalam situasi yang kuat dengan cadangan beras yang diproyeksikan melimpah sepanjang tahun 2026.
Perkiraan terbaru menunjukkan ketersediaan beras nasional dapat mencapai lebih dari 47 juta ton sehingga dinilai mampu menutup kebutuhan konsumsi masyarakat selama setahun penuh.
Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Pangan Nasional Rachmi Widiriani mengatakan pemerintah terus memantau neraca pangan nasional untuk memastikan kecukupan stok tetap terjaga.
“Ketersediaan pangan nasional dipastikan dalam kondisi kuat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun,” kata Rachmi Widiriani.
Ia menjelaskan perhitungan terbaru yang dihimpun Badan Pangan Nasional menunjukkan total ketersediaan beras Indonesia pada 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 47,1 juta ton.
Menurutnya jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk mencukupi konsumsi masyarakat Indonesia yang relatif stabil sepanjang tahun.
“Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia sepanjang 2026,” ujarnya.
Rachmi menuturkan tingkat kebutuhan beras masyarakat Indonesia setiap bulan cenderung tidak banyak berubah sehingga membuat perencanaan stok lebih mudah diproyeksikan.
Rata-rata konsumsi nasional tercatat berada di kisaran 2,5 juta ton setiap bulan sehingga kondisi stok beras dinilai berada dalam kategori aman.
“Kebutuhan beras per bulan masyarakat Indonesia relatif stabil di angka 2,5 juta ton sehingga untuk beras Indonesia sudah surplus dan kita kuat,” terang Rachmi.
Jika dihitung secara rinci, ketersediaan beras nasional tahun ini berasal dari stok awal tahun yang diperkirakan mencapai sekitar 12,4 juta ton.
Jumlah tersebut kemudian ditambah dengan target produksi beras nasional pada 2026 yang diperkirakan mampu mencapai 34,7 juta ton.
Dengan kombinasi stok awal dan produksi tersebut maka total pasokan beras sepanjang tahun diproyeksikan mencapai sekitar 47,1 juta ton.
Sementara itu kebutuhan konsumsi nasional selama 2026 diperkirakan berada di angka sekitar 31,1 juta ton.
Perhitungan tersebut membuat Indonesia diproyeksikan masih memiliki sisa stok hingga sekitar 16 juta ton pada akhir tahun.
Cadangan tersebut dinilai menjadi penguat penting bagi ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi bantalan jika terjadi gangguan produksi.
Kondisi surplus beras itu juga menunjukkan bahwa pasokan pangan domestik tetap stabil meskipun situasi global saat ini diwarnai berbagai ketidakpastian geopolitik.
Rachmi menjelaskan tidak hanya beras yang mengalami surplus tetapi juga beberapa komoditas pangan lain yang diproduksi di dalam negeri.
“Seperti yang beberapa kali Bapak Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman sampaikan kita sudah mencukupi kita surplus beras kemudian beberapa komoditas lain juga surplus seperti telur ayam dan daging ayam,” jelasnya.
Pemerintah disebut terus memperkuat strategi ketahanan pangan melalui peningkatan produksi domestik serta pengelolaan distribusi yang lebih terencana.
Langkah tersebut dilakukan agar pasokan pangan tetap tersedia merata di berbagai wilayah sekaligus menjaga stabilitas harga bagi masyarakat.
Apabila terdapat komoditas tertentu yang membutuhkan tambahan pasokan dari luar negeri, kebijakan impor biasanya sudah dihitung sejak awal melalui perencanaan neraca pangan.
Dengan cara tersebut pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik, produksi dalam negeri, serta kestabilan harga di pasar.
“Jadi jangan khawatir untuk ketersediaan pangan saat ini kalau ada komoditas yang memang membutuhkan tambahan dari luar misalnya bawang putih maka itu sudah sejak awal diperkirakan,” ujar Rachmi.
Ia menambahkan jumlah kebutuhan dan jadwal kedatangan pasokan dari luar negeri juga telah diperhitungkan agar tidak mengganggu harga di pasar dalam negeri.
Baca Juga: Dulu Bintangi Angling Dharma, Siapa Sangka Artis Cantik Ini Kini Jadi Bos Besar OJK 2026!
“Dihitung berapa kebutuhannya dan didatangkan dari luar sesuai waktu kedatangan agar harga di dalam negeri tetap stabil,” tambahnya.
Secara terpisah Kepala Kantor Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menegaskan sektor pangan menjadi perhatian utama dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya ketahanan pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas nasional karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
“Bapak Presiden dari awal sudah sangat menekankan pentingnya soal swasembada pangan dan hari ini kita menjadi saksi betapa pentingnya persiapan yang dilakukan sejak satu setengah tahun lalu,” kata Qodari.
Ia menilai berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintah saat ini merupakan langkah antisipatif untuk menghadapi kemungkinan krisis global di masa depan.
“Di tengah krisis pada hari ini pangan kita boleh dibilang aman jadi Presiden Prabowo adalah sosok yang visioner yang mampu mengantisipasi masalah yang akan terjadi di masa depan,” ujarnya.
Qodari juga mengingatkan bahwa ketersediaan pangan menjadi syarat utama keberlangsungan sebuah negara.
Baca Juga: Dulu Bintangi Angling Dharma, Siapa Sangka Artis Cantik Ini Kini Jadi Bos Besar OJK 2026!
“Bapak Presiden Prabowo sudah berkali-kali menegaskan tanpa pangan tidak ada negara,” katanya.
Sementara itu Kepala Badan Pangan Nasional yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa kondisi pangan Indonesia saat ini berada dalam situasi aman.
Ia menyebut stok beras nasional yang tersedia saat ini bahkan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga ratusan hari ke depan.
“Kalau kita lihat data hari ini ketersediaan pangan kita sangat aman total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir jadi Indonesia aman,” kata Amran.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










