Perang AS Israel Iran Diprediksi Berlarut hingga Berbulan-bulan Meski Lebaran di Depan Mata
AKURAT BANTEN - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan masih akan terus memanas meskipun negara-negara di kawasan Teluk segera memasuki perayaan Idul Fitri dalam waktu dekat.
Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menilai konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memiliki potensi berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah pernyataan resmi dari pejabat Iran menunjukkan kesiapan negara tersebut untuk menghadapi perang yang tidak singkat.
Faisal menyebut sikap para petinggi Iran mengindikasikan bahwa Teheran telah mempersiapkan diri menghadapi konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Perang akan terus berlanjut karena kunci akhirnya perang ada di Iran. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Naini bilang Iran siap berperang selama enam bulan melawan Amerika Serikat dan Israel,” kata Faisal.
Baca Juga: Perampokan Sadis di Bekasi Terungkap, Polisi Pastikan Motif Pelaku Hanya Ingin Mencuri
Menurutnya, pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Iran tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menghentikan konfrontasi dalam waktu dekat.
Bahkan, sejumlah pejabat lain di Teheran juga mengungkapkan sikap serupa terkait kesiapan menghadapi tekanan militer dari dua negara tersebut.
Salah satu pernyataan tegas datang dari juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.
Dalam keterangannya, Baghaei menyatakan bahwa Iran telah bertekad untuk menghadapi konflik dengan seluruh kemampuan yang dimiliki negara itu.
Faisal menilai sikap tersebut memperkuat sinyal bahwa Iran tidak akan mudah mundur dari medan konflik.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Iran bahkan menolak ide penghentian sementara pertempuran atau gencatan senjata.
Menurut Faisal, penolakan terhadap usulan gencatan senjata juga pernah ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
“Bagi Iran, perang baru akan berhenti jika Amerika dan Israel menyerah, dalam arti menghentikan perang,” ucap Faisal.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Iran menempatkan penghentian serangan dari pihak lawan sebagai syarat utama untuk mengakhiri konflik.
Di sisi lain, perkembangan dari pihak Amerika Serikat juga menunjukkan kesiapan menghadapi konflik dalam jangka waktu yang tidak singkat.
Faisal mengungkapkan bahwa markas besar Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon dikabarkan tengah menyiapkan skenario operasi militer yang bisa berlangsung hingga seratus hari.
Langkah tersebut dinilai sebagai indikasi bahwa Washington juga memperhitungkan kemungkinan perang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
“Artinya, kedua pihak mengisyaratkan perang akan berlangsung lama. Apalagi Presiden Amerika Trump sebelumnya menyatakan perang akan terjadi dalam empat hingga lima minggu, kemudian direvisi kembali menjadi lima minggu,” ujar Faisal.
Ia menilai perubahan pernyataan mengenai durasi konflik tersebut menunjukkan situasi yang masih dinamis dan sulit diprediksi.
Selain melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, konflik ini juga berdampak langsung pada negara-negara di kawasan Teluk.
Negara-negara tersebut tergabung dalam organisasi Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC).
Anggota GCC terdiri dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.
Sebagian besar negara di kawasan tersebut memiliki populasi mayoritas Muslim dan tengah bersiap menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Namun demikian, posisi strategis negara-negara tersebut membuat mereka tidak sepenuhnya berada di luar konflik.
Beberapa negara Teluk diketahui menjadi lokasi penempatan aset militer milik Amerika Serikat.
Hal itu membuat wilayah mereka berpotensi menjadi sasaran serangan balasan dari Iran.
Ketegangan di Timur Tengah sendiri meningkat drastis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Baca Juga: Perampokan Sadis di Bekasi Terungkap, Polisi Pastikan Motif Pelaku Hanya Ingin Mencuri
Serangan tersebut memicu eskalasi konflik yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Berdasarkan laporan yang beredar, lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas akibat rangkaian serangan tersebut.
Korban jiwa dalam konflik itu juga termasuk tokoh penting Iran, yakni Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Peristiwa tersebut semakin memperkeruh situasi keamanan di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.
Sejumlah pengamat menilai perkembangan situasi ke depan akan sangat dipengaruhi oleh langkah strategis dari masing-masing pihak yang terlibat.
Jika tidak ada upaya diplomasi yang signifikan, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dikhawatirkan bisa berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan banyak pihak.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










