Banten

Tajuk Panas: "Emang Ada Negara Tolol Tak Cari Untung?" Sindiran Pedas Politikus PDIP ke Jokowi soal Whoosh 'Proyek Sosial'

Saeful Anwar | 31 Oktober 2025, 10:14 WIB
Tajuk Panas: "Emang Ada Negara Tolol Tak Cari Untung?" Sindiran Pedas Politikus PDIP ke Jokowi soal Whoosh 'Proyek Sosial'

AKURAT BANTEN-Ketegangan politik kembali memanas, kali ini menyoroti proyek mercusuar nasional, Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. 

Pernyataan Presiden ke-7 Joko Widodo yang menyebut Whoosh sebagai "investasi sosial" yang tidak melulu mencari laba, sontak memicu kritik tajam. 

Salah satu kritik paling keras datang dari kader PDI Perjuangan, Ferdinand Hutahaean.

Melalui akun media sosialnya, Ferdinand tak segan melayangkan sindiran pedas, menuding klaim Jokowi sebagai sebuah manipulasi yang tidak masuk akal dalam kacamata investasi global.

Baca Juga: :TRAGEDI PILU SISWI MTS SUKABUMI: Jasad Tergantung, Polisi Selidiki Surat Wasiat yang Menyebut Omongan Teman Jadi Pemicu 'Sakit Hati' Mendalam

Manipulasi atau Heroisme? Keraguan pada Klaim Investasi Sosial

Ferdinand Hutahaean secara terang-terangan menyoroti diksi "investasi sosial" yang digunakan Presiden Jokowi. 

Jokowi menyampaikan bahwa Whoosh dibangun bukan untuk keuntungan finansial semata, melainkan sebagai investasi sosial untuk mengatasi kemacetan parah di wilayah Jabodetabek dan Bandung.

Namun, bagi Ferdinand, narasi tersebut terasa seperti upaya untuk memelas kepercayaan publik sekaligus mengaburkan fakta.

"Bapak berbicara seolah heroik, ini investasi sosial, dan bapak memelas untuk meminta rakyat percaya sama apa yang bapak sampaikan," tulis Ferdinand, menyiratkan keraguan atas ketulusan klaim tersebut.

Kritik Ferdinand semakin menusuk ketika ia menyinggung posisi Tiongkok sebagai mitra utama dalam proyek triliunan rupiah ini.

Baca Juga: Tragedi SUKABUMI: Siswi MTsN Sukabumi Tewas Gantung Diri, Tulis Surat Wasiat, Bongkar Luka Batin Korban Perundungan

"Emang Ada Negara Setolol Itu yang Tidak Cari Laba?"

Titik kritis dari sindiran Ferdinand adalah pertanyaannya tentang motivasi Tiongkok sebagai investor. 

Ia menegaskan, tidak mungkin sebuah negara mau menanamkan modal besar tanpa adanya hitungan untung dan kesepakatan bisnis yang solid.

"Bagaimana bapak bicara pada China bahwa ini proyek yang tidak cari untung, atau cuma proyek sosial," cecar Ferdinand.

Ia melanjutkan dengan pernyataan yang sangat provokatif, mempertanyakan logika di balik narasi "proyek sosial" tersebut:

"Emang ada negara setolol itu yang tidak mencari laba," tegasnya.

Pernyataan ini bukan hanya menyerang klaim Jokowi, tetapi juga menyiratkan bahwa ada "kesepakatan dan hitung-hitungan untung" yang sengaja tidak dibuka ke publik agar Tiongkok bersedia berinvestasi. 

Dengan demikian, narasi "investasi sosial" dicurigai hanya sebagai selubung untuk meredam polemik biaya, utang, dan pengembalian modal.

Baca Juga: BIKIN HEBOH! Pegawai SATPOL PP, Gegara Jago Bahasa Inggris, 'Paksa' Gubernur Realisasikan Program Bahasa bagi ASN DKI

Whoosh: Dari Solusi Kemacetan Menjadi Beban Anggaran

Pernyataan "Whoosh bukan cari laba, tapi investasi sosial" disampaikan Presiden Jokowi saat ditemui di Solo pada Senin (27/10/2025). 

Presiden berdalih bahwa pembangunan Whoosh adalah solusi radikal terhadap masalah kemacetan kronis yang telah melanda selama 20 hingga 40 tahun terakhir.

Namun, di tengah kontroversi laba vs. sosial ini, proyek Whoosh juga menghadapi isu serius lainnya, termasuk pembengkakan biaya dan potensi beban utang yang sangat besar. 

Beberapa pihak lain, bahkan dari internal PDIP, juga mulai mengaitkan kritik mereka dengan dugaan mark up proyek yang belakangan santer diperbincangkan.

Dengan kritik keras dari politikus seperti Ferdinand Hutahaean, fokus perdebatan kini bergeser: Apakah Whoosh benar-benar murni investasi sosial untuk rakyat, atau justru proyek investasi hard-cash triliunan rupiah yang kini dibungkus narasi heroik untukmenutupi risiko finansial dan utang?(**) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman