Netanyahu Abaikan Larangan Trump di Perang Iran, Buat AS dan Israel Retak?

AKURAT BANTEN - Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selama ini dikenal sangat solid.
Keduanya bahkan kerap menegaskan kuatnya koordinasi dalam menghadapi konflik dengan Iran.
Namun, setelah hampir tiga minggu perang berlangsung, perbedaan mendasar dalam tujuan dan strategi mulai terlihat jelas.
Sehingga nampak bahwa aliansi ini tidak sepenuhnya sejalan dalam menentukan arah akhir konflik.
Baca Juga: Serangan AS-Israel Tewaskan Juru Bicara IRGC, Iran Ancam Balasan Keras!
Salah satu contoh paling mencolok adalah ketika Trump secara langsung meminta Netanyahu untuk tidak menyerang fasilitas energi Iran, termasuk ladang gas strategis.
Permintaan ini muncul setelah serangan Israel sebelumnya memicu respons keras dari Teheran yang menargetkan pusat energi di Qatar, berimbas pada lonjakan harga energi global.
“Saya sudah bicara dengannya. Saya bilang, ‘Jangan lakukan itu,’ dan dia tidak akan melakukannya,” ujar Trump dalam sebuah wawancara.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Intip Ramalan Zodiak Cek Keberuntungan Soal Hati dan Keuangan!
Tidak hanya itu, Washington juga menunjukkan kekhawatiran saat Israel menyerang depot bahan bakar di sekitar Teheran, yang menyebabkan polusi udara beracun menyelimuti ibu kota Iran.
Trump bahkan menegaskan telah berbicara langsung dengan Netanyahu untuk menghentikan eskalasi tersebut.
Sikap ini menunjukkan bahwa AS cenderung berhati-hati dalam menjaga stabilitas global, terutama terkait energi dan dampak ekonomi internasional.
Baca Juga: Rayakan Idul Fitri 1447 H, Berikut Pesan Donald Trump untuk Umat Muslim Dunia
Perbedaan Tujuan: Militer vs Politik
Perbedaan paling signifikan terletak pada tujuan akhir perang. Pemerintahan Trump menekankan bahwa misi utama adalah melemahkan kemampuan militer Iran, terutama dalam hal pengembangan senjata nuklir, rudal balistik, dan kekuatan angkatan laut.
Sebaliknya, Netanyahu mengambil langkah lebih jauh. Ia secara terbuka menyuarakan keinginan untuk mengganti rezim di Iran. Israel juga tidak segan menargetkan pejabat tinggi Iran sebagai bagian dari strateginya.
Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, mengonfirmasi adanya perbedaan tersebut. Ia menyatakan bahwa Israel fokus pada pelumpuhan kepemimpinan Iran, sementara AS lebih terarah pada penghancuran kapasitas militernya.
Baca Juga: Tekan Konsumsi BBM, Pemerintah Bakal Terapkan WFH untuk ASN dan Swasta Pasca Lebaran
Selain itu, Trump masih membuka peluang untuk bekerja sama dengan elemen tertentu dalam pemerintahan Iran, menandakan pendekatan yang lebih fleksibel dan diplomatis.
Sebaliknya, Israel memilih jalur konfrontatif dengan menegaskan bahwa target mereka mencakup struktur kekuasaan Iran secara langsung.
Perbedaan ini memperlihatkan dua pendekatan yang kontras, AS berfokus pada stabilitas jangka panjang dan pembatasan ancaman militer. Sementara Israel mendorong perubahan politik drastis melalui tekanan militer langsung.
Baca Juga: Nekat Turun di Tol Saat Mudik, Kisah Keluarga Ini Viral dan Berujung Terlantar di Jalan Cepat
Meski perbedaan semakin terlihat, Netanyahu tetap menegaskan bahwa koordinasi dengan Trump sangat erat.
Ia bahkan menyebut hubungan keduanya sebagai salah satu yang paling solid dalam sejarah kerja sama kedua negara.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa kepentingan strategis masing-masing negara mulai divergen.
Jika AS ingin mengendalikan konflik tanpa memicu kekacauan global yang lebih luas, Israel justru melihat momentum ini sebagai peluang untuk mengubah peta politik Iran secara permanen.
Dengan pendekatan yang berbeda, AS yang lebih terukur dan Israel yang lebih agresif, arah konflik ke depan akan sangat ditentukan oleh sejauh mana kedua negara dapat menyelaraskan strategi mereka. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










