Siap Selat Hormuz Ditutup Total, Ancaman Trump Tidak Buat Iran Takut Sama Sekali

AKURAT BANTEN - Memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memunculkan kekhawatiran baru di kancah internasional.
Ancaman yang dilontarkan Presiden AS, Donald Trump, dinilai dapat memicu langkah ekstrem dari Teheran, termasuk kemungkinan menutup Selat Hormuz jalur penting perdagangan energi dunia.
Pengamat intelijen Zulfan Lindan menilai situasi ini tidak bisa dianggap remeh.
Ia melihat Iran memiliki posisi strategis yang dapat digunakan sebagai alat tekanan terhadap negara-negara Barat.
Baca Juga: Situasi Makin Genting, 22 Negara Turun Tangan Kawal Kapal Minyak di Selat Hormuz
Salah satu yang paling krusial adalah kendali atas Selat Hormuz, jalur yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Menurutnya, dalam kondisi tertekan, Iran berpotensi mengambil langkah drastis sebagai bentuk respons terhadap tekanan politik maupun militer.
Penutupan jalur tersebut, jika benar terjadi, akan membawa konsekuensi besar yang tidak hanya dirasakan oleh Amerika Serikat, tetapi juga negara-negara lain yang bergantung pada suplai energi dari Timur Tengah.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Baca Juga: Waduh! Trump Ancam Iran Serangan Lanjutan Pulau Kharg Jika Tak Segera Buka Selat Hormuz
Sebagian besar distribusi minyak global melewati wilayah tersebut.
Gangguan sekecil apa pun dapat langsung berdampak pada lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan pasar internasional.
Situasi yang berkembang saat ini menunjukkan adanya peningkatan tensi yang signifikan.
Retorika keras, manuver militer, hingga ancaman terbuka menjadi bagian dari dinamika konflik yang belum mereda.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi yang lebih luas.
Zulfan juga menyoroti bahwa penutupan Selat Hormuz bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga dapat memicu ketegangan militer yang lebih besar.
Negara-negara dengan kepentingan energi besar kemungkinan tidak akan tinggal diam jika jalur vital tersebut terganggu.
Namun demikian, langkah tersebut juga menyimpan risiko besar bagi Iran sendiri.
Penutupan jalur internasional bisa dianggap sebagai pelanggaran serius yang berpotensi memicu respons keras dari komunitas global, termasuk kemungkinan intervensi militer.
Di tengah situasi yang semakin kompleks, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kedua pihak.
Upaya diplomasi masih menjadi harapan utama untuk meredakan ketegangan, meski hingga kini belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Apabila konflik terus berlanjut tanpa solusi, bukan tidak mungkin krisis ini akan meluas dan berdampak pada stabilitas ekonomi global.
Baca Juga: Iran Tutup Jalur Minyak Dunia, Trump Tegaskan Banyak Negara Siap Amankan Selat Hormuz
Selat Hormuz pun kembali menjadi titik perhatian dunia, sebagai simbol betapa pentingnya kawasan tersebut dalam menjaga keseimbangan energi internasional.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Perang Berbalik Arah? Ukraina Mulai Rebut Wilayah Rusia Berkat Serangan Drone Mematikan
- 10Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang








