Banten

AS dan Israel Waspada! Ini 3 Prediksi Ngeri Pasca Zolghadr Pimpin Keamanan Tertinggi Iran

Abdurahman | 25 Maret 2026, 22:31 WIB
AS dan Israel Waspada! Ini 3 Prediksi Ngeri Pasca Zolghadr Pimpin Keamanan Tertinggi Iran
Mohammad Bagher Zolghadr ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada 24 Maret 2026 (Istimewa)

AKURAT BANTEN – Geopolitik Timur Tengah kembali membara. Pasca tewasnya Ali Larijani dalam serangan udara Israel, Pemerintah Iran tidak main-main dalam menentukan langkah balasan.

Penunjukan Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) pada 24 Maret 2026, menjadi sinyal kuat bahwa Teheran sedang menyiapkan skenario "perang total".

Zolghadr bukan sekadar pejabat biasa; ia adalah jenderal veteran Garda Revolusi (IRGC) yang dikenal dingin dan tak kenal kompromi.

Dunia kini menyoroti apa yang akan terjadi selanjutnya. Berdasarkan analisis situasi terkini, inilah 3 prediksi ngeri yang bakal dihadapi Amerika Serikat dan Israel pasca Zolghadr memegang kendali keamanan Iran:

Baca Juga: Harga Minyak Bisa Tembus Angka Gila! Ancaman Ranjau Iran di Jalur Nadi Dunia Bikin AS Ketar-Ketir

1. Diplomasi Mati Suri, Kekuatan Militer Jadi Panglima

Selama ini, masih ada celah diplomasi di bawah kepemimpinan sebelumnya. Namun, dengan masuknya Zolghadr—seorang loyalis garis keras—pintu negosiasi diprediksi akan tertutup rapat.

Analis dari Al Jazeera menyebutkan bahwa penunjukan ini menambah "lapisan militer" yang sangat tebal dalam kebijakan luar negeri Iran.

Bagi AS, ini berarti setiap upaya perundingan nuklir atau gencatan senjata akan menemui jalan buntu.

Zolghadr lebih percaya pada kekuatan rudal balistik daripada retorika di meja perundingan.

Dunia harus waspada. Di bawah komando jenderal veteran IRGC ini, strategi Iran diprediksi akan jauh lebih agresif, menyasar titik-titik lemah infrastruktur yang bisa melumpuhkan lawan tanpa peringatan.

Baca Juga: Dunia Tegang Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, AS Siapkan Serangan, NATO Langsung Bergerak

2. Strategi "Kiamat Air" dan Serangan Infrastruktur Vital

Prediksi kedua jauh lebih mengerikan bagi warga Israel. Muncul laporan bahwa Iran, di bawah komando baru, mulai melirik target-target non-militer yang fatal, seperti pusat desalinasi air.

Jika infrastruktur ini dihancurkan, Israel dan sebagian wilayah Timur Tengah bisa menghadapi krisis air bersih yang mematikan.

Zolghadr dikenal sebagai ahli strategi perang asimetris yang mampu melumpuhkan lawan tanpa harus melibatkan konfrontasi militer terbuka yang masif, namun dampaknya jauh lebih merusak.

Baca Juga: Dua Kali Tak Berhasil, Iran Tolak Percaya untuk Berunding dengan Amerika

3. Bangkitnya Proksi Iran dengan Komando Lebih Agresif

Sebagai tokoh senior IRGC, Zolghadr memiliki kedekatan emosional dan taktis dengan jaringan proksi Iran di Lebanon, Yaman, hingga Irak.

Penunjukannya diprediksi akan menyatukan komando serangan yang lebih terorganisir terhadap aset-aset AS di kawasan tersebut.

Donald Trump boleh saja mengklaim adanya komunikasi rahasia, namun Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan tegas membantahnya.

Dengan Zolghadr di puncak keamanan, setiap gerakan proksi Iran dipastikan akan lebih agresif dan sulit ditebak oleh intelijen Barat.

Baca Juga: Tegang di Selat Hormuz! Dari 5 Kapal Pertamina, Ternyata Baru Segini yang Berhasil Lewat

Krisis Domestik: Perang di Tengah Kelaparan?

Di balik ancaman eksternal yang mengerikan, Zolghadr memikul beban berat. Iran saat ini memasuki pekan keempat perang dengan kondisi ekonomi yang berdarah-darah.

Inflasi meroket hingga titik yang tak terkendali.

Akses internet mati total, mengisolasi warga dari dunia luar.

Ketidakpastian kepemimpinan, di mana sosok Mojtaba Khamenei masih jarang muncul di publik.

Penunjukan Zolghadr dianggap sebagai langkah "tangan besi" untuk menekan gejolak di dalam negeri sekaligus menunjukkan taring ke luar negeri.

Baca Juga: Dunia Makin Gonjang-ganjing, Iran Tegaskan Kuasai Selat Hormuz Proposal AS Masih Digantung

Siapkah Dunia Menghadapi Zolghadr?

Langkah catur Teheran kali ini sangat berisiko. Dengan menempatkan sosok militer murni di posisi strategis, Iran seolah-olah sedang mengokang senjata dan menunggu waktu yang tepat untuk menarik pelatuknya.

Kini bola panas ada di tangan Washington dan Tel Aviv: akankah mereka memilih de-eskalasi, atau justru melayani tantangan "ngeri" dari Zolghadr? (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman