Serangan Israel di Markas UNIFIL Tewaskan Prajurit Indonesia, MUI Tuntut Pertanggungjawaban

AKURAT BANTEN - Misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), termasuk pasukan Indonesia, kembali berduka. Dikabarkan satu personel tewas dan seorang lainnya mengalami luka serius akibat ledakan proyektil di wilayah operasi mereka.
Menurut National News Agency (NNA) Lebanon, ledakan itu dipicu oleh serangan militer Israel pada hari Minggu. UNIFIL menyatakan insiden terjadi di dekat Adshit al-Qusayr, distrik Marjayoun.
“Kami masih belum mengetahui asal proyektil ini dan telah memulai penyelidikan untuk memastikan seluruh kondisi terkait,” ujar UNIFIL melalui akun resminya di X.
Misi PBB menambahkan, “Seorang penjaga perdamaian meninggal secara tragis ketika proyektil meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr. Sementara satu personel lainnya mengalami luka kritis. Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa saat menjalankan tugas demi perdamaian.”
Belasungkawa terdalam disampaikan UNIFIL kepada keluarga, rekan, dan teman sejawat korban.
“Doa kami juga menyertai penjaga perdamaian yang terluka dan saat ini dirawat di rumah sakit,” imbuh pernyataan tersebut.
UNIFIL menegaskan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701. Tindakan semacam ini bahkan bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Laporan NNA menambahkan bahwa markas kontingen Indonesia di Adshit al-Qusayr menjadi sasaran penembakan artileri Israel.
Menyoroti kabar tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras serangan Israel ke Lebanon.
MUI mendesak pemerintah RI untuk menuntut pertanggungjawaban atas gugurnya seorang prajurit TNI yang tergabung dalam misi pasukan perdamaian PBB.
"Kepada pemerintah Indonesia agar mengambilkan langkah diplomatik yang tegas melalui jalur bilateral maupun multilateral guna menuntut pertanggungjawaban atas insiden ini," kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim, Senin (30/3/2026).
Ketegangan di Lebanon selatan terus meningkat akibat serangan Israel yang menargetkan kelompok Hizbullah.
Serangan ini disebut sebagai respons atas serangan kelompok milisi ke wilayah Israel, yang diklaim sebagai dukungan untuk Iran.
Selain serangan udara, Israel juga menurunkan pasukan darat di Lebanon selatan, dengan sejumlah tentara mereka tewas dalam bentrokan dengan Hizbullah.
Dalam situasi memanas, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich bahkan menyerukan pencaplokan wilayah Lebanon selatan.
Insiden ini menjadi pengingat serius tentang risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon, termasuk kontingen Indonesia, sekaligus menekankan pentingnya perlindungan internasional bagi mereka yang berani menjalankan misi demi perdamaian dunia. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










