Banten

Panas! Andi Azwan Sindir Rismon Sianipar: Tak Lagi Galak Setelah Kasus ‘Bohir’ Mencuat

Abdurahman | 4 April 2026, 12:23 WIB
Panas! Andi Azwan Sindir Rismon Sianipar: Tak Lagi Galak Setelah Kasus ‘Bohir’ Mencuat
Ketua Umum Jokman Nusantara Bersatu, Andi Azwan dan sosok Rismon Sianipar, pakar forensik digital yang selama ini vokal menyerang. (dok Istimewa)

AKURAT BANTEN– Tensi ketegangan antara kubu pendukung setia Jokowi dengan pihak yang meragukan keaslian ijazahnya kembali mencapai titik didih.

Ketua Umum Jokman Nusantara Bersatu, Andi Azwan, melontarkan sindiran pedas yang menohok sosok Rismon Sianipar, pakar forensik digital yang selama ini vokal menyerang.

Andi Azwan secara terang-terangan menyebut adanya perubahan drastis dalam sikap Rismon setelah isu mengenai keterlibatan "bohir" atau penyokong dana mulai terendus publik.

Baca Juga: Heboh Temuan Kotak Misterius Dipinggir Jalan, Bertuliskan: 'Siapapun yang Menemukan Tolong Dikuburkan Dengan Layak, Allah Akan Membalas Kebaikanmu'

Sindiran Menohok: "Dulu Singa, Sekarang Meong"

Dalam pernyataannya baru-baru ini, Andi Azwan menyoroti nyali Rismon Sianipar yang dianggap mulai menciut.

Menurut Andi, Rismon yang sebelumnya terlihat sangat determinan dan agresif dalam menyuarakan tudingan ijazah palsu, kini justru tampak kehilangan "taringnya" di hadapan hukum.

"Dulu dia galak seperti singa di media sosial, tapi sekarang setelah kasus ini masuk ke ranah hukum dan isu bohir mencuat, dia sudah seperti meong," cetus Andi Azwan dengan nada satire.

Baca Juga: Dunia Terbelalak! Ukraina Tawarkan Jasa 'Buka Blokir' Selat Hormuz, Putin & Teheran Terancam?

Siapa 'Bohir' yang Bermain di Balik Layar?

Andi Azwan mensinyalir bahwa gerakan Rismon Sianipar bukanlah gerakan murni, melainkan ada desain besar yang didukung oleh kekuatan finansial tertentu.

Munculnya istilah "Bohir" ini seolah membuka tabir bahwa ada aktor-aktor politik atau penyandang dana yang berkepentingan menjaga agar isu ijazah Jokowi tetap hidup demi kepentingan elektoral atau degradasi citra.

Publik pun mulai berspekulasi mengenai aliran dana yang sempat disebut-sebut mencapai angka fantastis, guna membiayai operasional dan narasi yang dibangun oleh kubu penggugat.

Baca Juga: Tak Libatkan AS, Inggris dan Prancis Inisiasi Pertemuan Virtual Lebih dari 40 Negara, Bahas Solusi Damai Buka Selat Hormuz

Rismon Sianipar Mulai 'Buka-bukaan' dan Melunak?

Di sisi lain, Rismon Sianipar yang kini berstatus tersangka pencemaran nama baik, mulai menunjukkan tanda-tanda "kompromi".

Meski tetap bersikukuh dengan argumen teknisnya, Rismon mulai membicarakan tentang restorative justice dan melakukan revisi besar-besaran pada hasil penelitiannya.

Perubahan sikap inilah yang dianggap Andi Azwan sebagai indikasi bahwa Rismon mulai goyah setelah merasa dukungan dari para "penyokong" tidak lagi sekuat sebelumnya atau karena tekanan hukum yang makin nyata.

Baca Juga: Iran Berhasil Tembak Jatuh Jet Siluman Canggih F-35E Skuadron Elite Angkatan Udara AS dan Diduga Pilot Pesawat Berhasil Ditangkap

3 Poin Intrik yang Menjadi Sorotan Publik:

  • Perubahan Narasi: Dari serangan frontal menjadi upaya pembelaan diri melalui revisi penelitian hingga 700 halaman.

  • Tekanan Hukum: Langkah Polda Metro Jaya yang memproses laporan terhadap Rismon dianggap sebagai titik balik melemahnya perlawanan sang pakar.

  • Misteri Penyandang Dana: Pernyataan Andi Azwan tentang bohir memicu tuntutan publik agar pihak kepolisian juga menelusuri siapa saja aktor intelektual dan penyokong dana di balik gerakan ini.

Baca Juga: Dubes Iran di Jakarta Serukan Persatuan Umat Islam, Soroti Perang dengan AS-Israel sebagai Isu Martabat

Kesimpulan: Akhir dari Sebuah Drama Politik?

Bagi Andi Azwan, kasus ijazah ini sudah terang benderang. Ia meyakini keaslian dokumen Presiden ke-7 tersebut dan menganggap apa yang dilakukan Rismon hanyalah bagian dari pesanan pihak tertentu.

Dengan mencuatnya isu "bohir", publik kini tidak lagi hanya fokus pada kertas ijazah, melainkan pada siapa yang membayar untuk kegaduhan ini. (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman