Banten

‘Saya Marah!’ – Titiek Soeharto Semprot Menhut Raja Juli Usai Video Truk Kayu Raksasa Melintas Pascabencana Sumatera

Saeful Anwar | 4 Desember 2025, 21:38 WIB
‘Saya Marah!’ – Titiek Soeharto Semprot Menhut Raja Juli Usai Video Truk Kayu Raksasa Melintas Pascabencana Sumatera


• Sakit Hati Rakyat: Temuan Truk Pengangkut Kayu Besar Dua Hari Setelah Banjir Bandang Memicu Amarah di Parlemen

AKURAT BANTEN – Suasana tegang menyelimuti Rapat Kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/12/2025).

Pertemuan yang seharusnya membahas penanganan sektor kehutanan justru diawali dengan pemutaran sebuah video yang memantik api kemarahan besar dari Ketua Komisi IV, Titiek Soeharto.

Video tersebut menampilkan iring-iringan truk yang mengangkut kayu gelondongan berdiameter raksasa, diperkirakan mencapai 1,5 meter.

Pemandangan ini sontak memicu emosi Titiek, mengingat aktivitas pengangkutan kayu itu terekam melintas di jalan raya hanya dua hari setelah bencana banjir bandang yang memporak-porandakan wilayah Sumatera dan menelan korban jiwa.

Baca Juga: MENEMBUS JALAN MEMATIKAN: Prajurit TNI AD Pikul Ratusan Kilo Bantuan, 5 KM ke Desa Teris

"Sungguh Menyakitkan, Ini Sama Saja Mengejek Rakyat!"

Setelah video berhenti, Titiek Soeharto tak mampu menahan rasa miris, sedih, sekaligus amarahnya.

Ia menyebut pemandangan tersebut sebagai tindakan yang tidak hanya menyakiti, tetapi juga menghina perasaan masyarakat yang sedang berduka.

“Terus terang saya sedih, miris, dan saya marah,” ujar Titiek dengan nada tinggi, menyoroti insensitivitas para pelaku penebangan.

Putri Presiden RI ke-2 itu mempertanyakan logika dan moralitas di balik aktivitas penebangan pohon berdiameter sebesar itu yang terjadi begitu saja di tengah situasi pascabencana.

“Ini manusia mana di Indonesia ini yang seenaknya aja bisa motong-motong kayu seperti itu?” tanyanya dalam forum tersebut.

Menurut Titiek, melintasnya truk-truk pengangkut kayu sesaat setelah musibah besar adalah bentuk "ngece" atau mengejek masyarakat.

“Sungguh menyakitkan Pak Menteri, ini suatu kalau orang Jawa bilang ngece (mengejek), perusahaan ini mengejek gitu, baru kita kena bencana dia lewat di depan muka kita,” tegasnya, menuding praktik tersebut sebagai pukulan telak bagi nurani publik.

Baca Juga: JEJAK GELAP RATU NARKOTIKA: Bukan Orang Sembarangan, Siapa Sebenarnya 'Dewi Astutik', Gembong 2 Ton Sabu yang Diburu Global?

Desakan Keras: Hentikan, Bukan Sekadar Moratorium! Titiek Minta Menhut Tak Gentar Walau Ada 'Pihak Berbintang'

Tak hanya meluapkan kemarahan, Titiek Soeharto langsung melayangkan desakan keras kepada Menhut Raja Juli Antoni agar mengambil tindakan yang jauh lebih ekstrem dan permanen.

Ia menilai kebijakan sebatas moratorium (penghentian sementara) tidak akan cukup untuk menghentikan praktik ilegal yang merusak lingkungan dan berpotensi memicu bencana lebih parah di masa depan.

“Kami tidak mau hanya sekadar moratorium. Moratorium itu besok-besok bisa dihidupin lagi. Tapi dihentikan, enggak usah ada lagi itu pohon-pohon besar yang dipotong-potong,” tegasnya, meminta kebijakan yang bersifat penghentian total.

Poin paling tajam yang dilontarkan mantan istri Presiden Prabowo Subianto itu adalah penekanan pada penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Titiek mendesak Menhut agar tidak gentar, bahkan jika di belakang praktik penebangan liar tersebut ada pihak-pihak yang memiliki pengaruh besar atau “berbintang”.

Baca Juga: JAWABAN TEGAS! Prabowo Minta Pembalakan Liar Ditelisik, Satgas PKH Bongkar Sumber Kayu Gelondongan Pakai 'Mata' Satelit!

“Mau siapa kek itu di belakangnya, mau bintang-bintang kayak mau apa, kita tegakkan hukum yang setegak-tegaknya, siapapun itu,” ucapnya, memberikan tamparan keras bagi sindikat illegal logging yang merasa kebal hukum.

Titiek Soeharto memastikan Komisi IV DPR akan menjadi benteng pendukung di belakang Raja Juli Antoni.

“Ditindak aja Bapak, enggak usah takut-takut, kami di belakang Bapak,” pungkasnya, menutup sesi dengan janji dukungan politik penuh untuk tindakan tegas Menhut.

Temuan truk kayu raksasa pascabencana ini menjadi bukti nyata bahwa praktik penebangan ilegal masih marak dan berani menunjukkan taringnya, seolah tak peduli dengan duka yang sedang menyelimuti bangsa.

Kini, bola panas berada di tangan Menteri Kehutanan untuk menjawab desakan Parlemen dan tuntutan keadilan dari rakyat (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman