Telan Anggaran 3M Per Bulan, Pelajar Kota Tangerang Tak Melirik Si Benteng

AKURAT BANTEN - Program transportasi Si Benteng tengah menjadi sorotan setelah sebelumnya sempat dipertanyakan efektivitasnya sebagai kendaraan plat merah yang dikelola Perseroda TNG, penelusuran wartawan menemukan bahwa layanan yang menyedot subsidi sekitar Rp3 miliar per bulan itu bahkan hampir tidak dikenal oleh rata-rata pelajar di SMK Negeri 3 Kota Tangerang salah satu kawasan yang dilintasi armada tersebut.
Dalam penelusuran pada Kamis (11/12/2025), mayoritas pelajar mengaku tidak mengetahui keberadaan Si Benteng, apalagi memanfaatkannya sebagai moda transportasi harian.
Suna, salah satu siswi kelas 10, warga Cipondoh mengatakan dirinya baru mendengar nama Si Benteng saat diwawancarai sepulang sekolah.
Baca Juga: Kamboja Resmi Tarik Mundur Semua Atlet dari SEA Games 2025 Thailand, Ini Alasannya
"Enggak tau. Enggak pernah naik juga. Saya pulangnya ke wilayah Cipondoh," ujar Suna di halaman SMK 3 Kota Tangerang.
Hal senada diungkapkan Tyo, siswa kelas 10 lainnya yang juga menegaskan bahwa satu-satunya transportasi umum yang ia kenal di Kota Tangerang adalah Bus Tayo.
"Kalau Si Benteng enggak pernah denger. Saya taunya Tayo," ucapnya.
Temuan di lapangan menunjukkan bahwa hampir rata-rata pelaja di sekolah tersebut tidak mengetahui dan memanfaatkan Si Benteng pada jam berangkat atau pulang sekolah.
Sebagian besar pelajar disana memilih pulang menggunakan angkot, ojek, atau dijemput orang oleh orang tuanya.
Sementara itu, sebut saja Anggun, salah satu siswi kelas 11, yang mengaku mengetahui keberadaan Si Benteng, mengatakan tidak pernah menggunakannya karena rutenya yang tidak searah dengan rumahnya.
Baca Juga: Gubernur Aceh Kaget Dengar Kabar 80 Ton Bantuan Banjir Hilang: 'Entah Ke Mana, Akan Kita Cek!'
Selain itu, Anggun juga mengaku, belum mengetahui adanya program Pemerintah Kota Tangerang melalui si Benteng yang digunakan gratis untuk pelajar berangkat atau pulang sekolah.
"Soalnya enggak ada yang searah. Jadi tetap naik angkot. Kalau pernah digratisin, saya enggak tau infonya," jelasnya.
Padahal, dikutip dari www.tangerangkota.go.id Pemkot Tangerang merancang program ini sebagai solusi atas persoalan akses transportasi pelajar, khususnya dari keluarga berpenghasilan rendah.
Melalui layanan bus dan angkot gratis, pemerintah ingin memastikan tidak ada anak yang terkendala biaya perjalanan menuju sekolah.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangerang, Achmad Suhaely, menjelaskan bahwa kebijakan layanan gratis yang mulai berjalan sejak 2 Mei 2025 merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap generasi muda.
Baca Juga: Comeback di Bernabéu, Manchester City Tekuk Real Madrid dan Rebut Posisi di Klasemen Liga Champions
"Pendidikan adalah hak setiap anak. Kami ingin memastikan bahwa tak ada lagi anak Kota Tangerang yang absen sekolah karena kesulitan biaya atau akses transportasi. Layanan bus Tayo dan Si Benteng gratis ini adalah upaya kami untuk hadir di tengah rakyat," jelas Suhaely. Senin (22/9/25)
Namun. Minimnya minat pelajar tersebut memperkuat kritik Anggota DPRD Kota Tangerang, Saiful Milah, yang sejak awal menyoroti efektivitas yang menyedot anggaran jumbo pada program tersebut.
"Kita harapannya pemerintah fair. Kalau perlu gratiskan, jangan lagi berbayar. Lengkapi itu (Si Benteng) dengan CCTV dan GPS berbasis trayek," tegas Abah Saiful.
Baca Juga: Rokok Ilegal Senilai Ratusan Ribu Batang Digagalkan Patroli Laut Bea Cukai di Teluk Bintan
Ia menilai tidak ada alasan mempertahankan program yang tidak diminati, terlebih jika terus menyedot subsidi miliaran rupiah.
"Kalau sudah gratis dan peminatnya ada, teruskan. Tapi kalau peminatnya tidak ada, walaupun gratis, berarti perlu kita hapus. Lebih baik subsidinya untuk kebutuhan lain. Rumah sakit umum kita juga masih payah," tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










