Dijuluki Bapak Program Rudal Iran, Siapa Hassan Tehrani Moghaddam?

AKURAT BANTEN - Iran dikenal sebagai salah satu negara dengan arsenal rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah. Mulai dari rudal balistik jarak pendek hingga jarak menengah.
Bahkan sistem yang mampu menjangkau ribuan kilometer, kekuatan ini menjadi tulang punggung strategi pertahanan Teheran dalam menghadapi tekanan dari Barat dan Israel.
Namun, di balik pesatnya perkembangan teknologi militer tersebut, terdapat satu sosok kunci yang dianggap sebagai fondasi utama kekuatan rudal Iran, Hassan Tehrani Moghaddam. Jenderal dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) ini bahkan dijuluki sebagai “Bapak Program Rudal Iran”.
Baca Juga: Breaking News! Gugatan Ijazah Palsu Jokowi Resmi Ditolak, Ini Putusan Lengkap Hakim Solo
"Ia merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pengembangan teknologi rudal Iran modern, terutama pada era pasca Revolusi Iran".
"Moghaddam mulai dikenal pada awal 1980-an saat Perang Iran-Irak. Dalam situasi perang dan embargo senjata, ia berperan dalam membangun fondasi awal sistem persenjataan rudal Iran. Ia mendirikan pusat-pusat penelitian artileri dan rudal pertama di Iran setelah revolusi 1979".
Dalam situasi penuh keterbatasan, ia mendirikan pusat penelitian artileri dan rudal pertama pasca revolusi.
Baca Juga: Tuduhan Penistaan Agama ke Jusuf Kalla, Akademisi Universitas Muhammadiyah: 'Dinilai Mengada-ada'
Salah satu proyek awalnya adalah pengembangan roket artileri jarak jauh Naze’at pada 1987, yang memiliki jangkauan sekitar 100–130 km. Meski masih sederhana dan tanpa sistem kendali canggih, ini menjadi langkah awal penting dalam kemandirian teknologi militer Iran.
Dari rudal Scud-B buatan Soviet. Sistem ini kemudian menjadi dasar bagi berbagai pengembangan rudal berikutnya.
Memasuki pertengahan 2000 an, Moghaddam memimpin pengembangan Ghadr-110, rudal balistik jarak menengah dengan jangkauan hingga 2.000 km. Proyek ini menandai lompatan besar dalam kemampuan strategis Iran.
Baca Juga: Anggaran BBM Tembus Rp178,45 Miliar, Pemkot Tangerang Klaim WFH Jadi Solusi Efisiensi
Sejak saat itu, Iran terus memperluas arsenalnya, mencakup rudal jarak pendek, menengah, hingga sistem jelajah modern yang sepenuhnya dirancang di dalam negeri.
Hassan Tehrani Moghaddam tewas pada 12 November 2011 dalam ledakan di fasilitas rudal Bid Kaneh, dekat Teheran. Insiden tersebut juga menewaskan lebih dari selusin anggota militer lainnya.
Hasil investigasi resmi menyebutkan bahwa ledakan itu merupakan kecelakaan, bukan sabotase. Meski demikian, kematiannya tetap menyisakan berbagai spekulasi di tingkat internasional.
Baca Juga: Italia Geram! Soal Donald Trump Serang Paus Leo XIV, Hubungan Diplomatik Terancam?
Terlepas dari itu, warisan Moghaddam tetap hidup dalam kekuatan militer Iran saat ini.
Mayor Jenderal Mohammad Baqeri, secara terbuka menyebut bahwa negaranya “berutang besar” kepada Moghaddam atas pencapaian tersebut.
Dalam sebuah peringatan kematiannya, Baqeri menyatakan bahwa dedikasi Moghaddam telah menjadikan Iran sebagai salah satu kekuatan rudal utama di kawasan.
Adapun perkembangan pesat program rudal Iran telah memicu kekhawatiran dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Arab Saudi, dan Israel. Mereka menilai kemampuan tersebut berpotensi mengancam stabilitas regional dan global.
Namun, Iran bersikeras bahwa program rudalnya bersifat defensif. Pemerintah Teheran menegaskan bahwa rudal-rudal tersebut adalah alat pencegah (deterrence) terhadap kemungkinan serangan musuh.
Bahkan, Iran berulang kali menegaskan bahwa kemampuan rudalnya “tidak dapat dinegosiasikan”.
Baca Juga: Update BPS 2026: 11 Ribu Penerima Bansos Dicoret Akibat 'Inclusion Error', Apa Itu?
Selain rudal, Iran juga mengembangkan berbagai sistem pertahanan modern. Salah satu yang menarik perhatian dunia adalah sistem pertahanan udara Khordad 3.
Pada Juni 2019, sistem ini digunakan untuk menembak jatuh drone mata-mata Amerika Serikat yang diduga melanggar wilayah udara Iran. Insiden tersebut menjadi bukti nyata kemampuan teknologi militer lokal Iran.
"Hassan Tehrani Moghaddam bukan sekadar tokoh militer, tetapi arsitek utama di balik transformasi Iran menjadi kekuatan rudal yang disegani. Di tengah tekanan internasional dan embargo panjang, ia berhasil meletakkan dasar kemandirian militer negaranya".
Baca Juga: Dua Perempuan Jadi Tersangka Penistaan Agama, Usai Video Injak Al-Quran Viral
Kini, program rudal Iran tidak hanya menjadi simbol kekuatan, tetapi juga alat strategis dalam menjaga posisi geopolitik negara tersebut di panggung dunia. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










