Hizbullah Pilih Perang! Tolak Negosiasi Damai dengan Israel, Konflik di Lebanon Memanas

AKURAT BANTEN - Konflik yang terjadi di kawasan Lebanon nampaknya semakin memanas. Baru-baru ini Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa pihaknya menolak segala bentuk negosiasi langsung dengan Israel dan memilih untuk terus melanjutkan perlawanan bersenjata.
Pernyataan ini disampaikan di tengah rencana pembicaraan antara perwakilan Lebanon dan Israel yang akan digelar di Washington.
Dalam pidato yang disiarkan melalui al-Manar TV, Qassem menyatakan bahwa kelompoknya akan tetap bertahan di medan konflik.
Ia menyebut bahwa serangan yang dilakukan Israel, yang menurutnya mendapat dukungan dari Amerika Serikat, tidak hanya menargetkan Hizbullah, tetapi juga berdampak luas pada seluruh wilayah Lebanon.
Qassem menyoroti kesepakatan gencatan senjata yang tercapai pada November 2024, yang sebelumnya telah mengakhiri konflik selama 15 bulan antara kedua pihak.
Ia menuduh Israel tidak mematuhi isi perjanjian tersebut, khususnya terkait penarikan pasukan dari wilayah Lebanon.
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Tewaskan Sekretaris Dekat Pimpinan Hizbullah, Konflik Kian Memanas!
Di sisi lain, Israel menuding Hizbullah belum memenuhi kewajiban untuk melucuti persenjataan.
Situasi ini memicu saling tuding pelanggaran yang terus memperkeruh hubungan kedua pihak, meskipun skala pertempuran besar telah mereda.
Menurut Qassem, upaya diplomasi internasional sejauh ini belum mampu menghentikan kekerasan yang terjadi. Ia menilai berbagai inisiatif yang diajukan tidak memberikan hasil nyata di lapangan.
Baca Juga: Jaringan Narkoba Iran Terbongkar di Pamulang, Polisi Sita Hampir 5 Kg Sabu
Ia juga menyerukan pemerintah Lebanon untuk mengambil langkah konkret, termasuk menjamin penarikan pasukan Israel, memfasilitasi kepulangan warga sipil yang mengungsi, mempercepat proses rekonstruksi dan mengupayakan pembebasan tahanan.
Qassem secara tegas menolak wacana negosiasi yang dianggapnya sebagai bentuk penyerahan diri.
Ia memperingatkan bahwa pembicaraan yang diinisiasi pihak Israel bertujuan untuk melucuti kekuatan Hizbullah sekaligus membuka jalan menuju normalisasi hubungan.
Baca Juga: BEM UI Desak Sanksi DO untuk 16 Mahasiswa FH Terkait Dugaan Pelecehan di Grup Chat
Selain itu, ia mengkritik tekanan dari pihak luar yang mendorong Lebanon untuk menghadapi Hizbullah. Menurutnya, upaya memperkuat militer nasional tidak boleh mengorbankan stabilitas dalam negeri.
Dalam pidatonya, Qassem juga mengajak seluruh faksi di Lebanon untuk menjaga persatuan dan menghindari tindakan yang dapat memperdalam perpecahan internal.
Ia menekankan pentingnya solidaritas nasional di tengah situasi yang semakin kompleks.
Baca Juga: Jejak Digital Tak Bisa Dihapus: Roy Suryo Bidik 'Dalang' di Balik Dokumen Palsu Lahan Viral
Ketegangan kembali meningkat sejak 2 Maret, ketika Hizbullah meluncurkan roket dari wilayah selatan Lebanon ke arah Israel, aksi pertama sejak gencatan senjata 2024 berlaku.
Israel kemudian merespons dengan meningkatkan operasi militernya di berbagai wilayah Lebanon.
Serangan balasan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, memperburuk situasi kemanusiaan dan meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










