Banten

Makin Panas! Siapa Paling Berjasa Bawa Jokowi ke Istana? JK Klaim Dirinya, Projo: ‘Bukan Karena Satu Orang!’

Abdurahman | 20 April 2026, 21:47 WIB
Makin Panas! Siapa Paling Berjasa Bawa Jokowi ke Istana? JK Klaim Dirinya, Projo: ‘Bukan Karena Satu Orang!’
Sekretaris Jenderal Projo Freddy Alex Damanik dalam keterangannya, Minggu (19/4/2026) (sumber: detik.com)

AKURAT BANTEN– Sebuah perdebatan hangat mengenai sejarah perjalanan politik Presiden Joko Widodo mendadak mencuat ke publik.

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), kembali mengingatkan publik akan peran besarnya di masa lalu.

Namun, klaim sang "Kingmaker" ini langsung mendapat tanggapan dingin dari relawan Pro Jokowi (Projo).

Baca Juga: Polemik Termul Memanas, PDIP Tegaskan Tak Ikut Campur Konflik JK dan Relawan Jokowi

Klaim Sang Penentu Jalan

Dalam sebuah pernyataan yang menjadi sorotan, Jusuf Kalla mengungkapkan bahwa dirinya memiliki peran krusial saat menarik Jokowi dari Solo ke Jakarta.

JK menyebut bahwa dialah yang meyakinkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk mengusung Jokowi di Pilgub DKI 2012, yang menjadi "batu loncatan" utama menuju kursi RI-1.

Narasi ini memposisikan JK sebagai aktor di balik layar yang membukakan pintu sejarah bagi seorang Jokowi. Tanpa lobi-lobi politik tersebut, banyak yang bertanya-tanya apakah fenomena "Jokowi" akan pernah terjadi di tingkat nasional.

Baca Juga: Istilah Termul Kembali Ramai, JK Singgung Peran di Balik Kemenangan Jokowi

Projo: Kemenangan Itu Milik Rakyat, Bukan Hadiah Tokoh

Mendengar klaim tersebut, Sekjen Projo, Freddy Alex Damanik, segera memberikan klarifikasi tajam.

Bagi Projo, menyederhanakan kemenangan Jokowi sebagai jasa satu atau dua orang tokoh elit adalah sebuah kekeliruan besar dalam memahami demokrasi Indonesia.

Kemenangan Jokowi bukanlah hasil sulap politik satu orang atau 'hadiah' dari seorang tokoh. Ini adalah resultan dari energi jutaan rakyat Indonesia yang menginginkan perubahan. Jangan mengerdilkan militansi rakyat di akar rumput hanya untuk sebuah klaim jasa. — Freddy Alex Damanik, Sekjen Projo.

Baca Juga: Terungkap! Alasan Megawati Sempat Tak Mau Teken Pencalonan Jokowi Jika Bukan JK Wakilnya

Tiga Kekuatan di Balik Istana

Projo menegaskan bahwa ada harmoni kekuatan yang membuat Jokowi bisa bertahan dan menang dalam dua periode kepemimpinan, yaitu:

  1. Dukungan Organik Rakyat: Rakyat mencintai gaya kepemimpinan yang merakyat dan tulus.

  2. Militansi Relawan: Jutaan orang bergerak secara sukarela tanpa dikomando oleh elit politik tertentu.

  3. Kendaraan Partai yang Solid: Peran PDIP dan koalisi yang memberikan legitimasi konstitusional.

Baca Juga: Ijazah Jokowi Asli, Firdaus Oiwobo Sentil JK, 'Jangan Terpancing Roy Suryo'

Perseteruan Narasi di Masa Transisi

Munculnya kembali isu "siapa yang paling berjasa" ini dinilai para pengamat sebagai bagian dari persaingan narasi di akhir masa jabatan Jokowi.

Di satu sisi, ada tokoh senior yang ingin memastikan tempatnya dalam sejarah, sementara di sisi lain, organisasi relawan ingin memastikan bahwa marwah "Gerakan Rakyat" tetap menjadi alasan utama keberhasilan seorang pemimpin.

Pertanyaannya kemudian, apakah publik akan lebih percaya pada narasi "lobi elit" ala Jusuf Kalla, atau narasi "kekuatan rakyat" yang didengungkan oleh Projo?

Satu yang pasti, sejarah telah mencatat bahwa Jokowi berhasil mengubah wajah politik Indonesia selamanya. (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman