Enam Tahun Tak Pulang Lebaran, Perantau Asal Wonogiri Tewas dalam Tragedi Kereta di Bekasi Timur

AKURAT BANTEN - Ristuti Kustirahayu (37), seorang perempuan perantau asal Wonogiri, Jawa Tengah, menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan tragis antara kereta api jarak jauh dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam.
Insiden memilukan tersebut merenggut nyawa 15 orang, termasuk Ristuti yang selama belasan tahun diketahui bekerja keras di perantauan demi keluarganya.
Jenazah Ristuti kemudian diberangkatkan dari RSUD dr. Chasbullah Abdul Majid, Kota Bekasi, menuju kampung halamannya di Dusun Pucanganom, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, untuk dimakamkan.
Suasana haru pecah saat ambulans yang membawa jenazah tiba di rumah duka.
Tangis keluarga tak terbendung menyambut kepulangan Ristuti, yang ironisnya baru kembali setelah enam tahun lamanya tak sempat pulang saat momen Lebaran.
“Sudah 6 tahun ini tidak bertemu anak saya. Terakhir telepon itu Minggu kemarin. Ya seperti biasa, tanya kabar dan tidak ada firasat sama sekali,” ujar Sugeng Priyanto.
Ristuti diketahui telah berkeluarga dan memiliki dua anak selama menetap di Bekasi.
Meski telah lama tinggal jauh dari kampung halaman, keluarga menyebut almarhumah tetap dikenal sebagai sosok pekerja keras yang berjuang demi kehidupan lebih baik.
Menurut sang ayah, Ristuti telah merantau sejak sebelum menikah dan bekerja sebagai admin di sebuah toko bangunan.
Baca Juga: Duka Mendalam di Bekasi 15 Korban Tewas Kecelakaan Kereta Teridentifikasi, Ini Daftar Namanya
Kepergiannya meninggalkan luka mendalam, terlebih karena tahun ini ia sempat berencana pulang kampung.
“Ada rencana tahun ini pulang kampung. Namun takdir berkata lain,” kata Sugeng.
Setibanya di rumah duka, jenazah langsung dimandikan, disalatkan, lalu disiapkan untuk dimakamkan di pemakaman umum setempat.
Warga sekitar turut bergotong royong membantu seluruh proses pemakaman.
Solidaritas masyarakat desa pun terlihat kuat dalam mendampingi keluarga yang tengah berduka.
Kepala Dusun Pucanganom, Ngatimin, mengatakan kabar meninggalnya Ristuti diterima warga pada dini hari.
Baca Juga: Inflasi 3,01 Persen, Kota Tangerang Masuk Daftar 12 Besar Terbaik Versi Kemendagri
“Warga langsung membantu menyiapkan segala kebutuhan pemakaman. Kami ikut berduka cita,” ujarnya.
Kisah pilu Ristuti menjadi pengingat betapa kerasnya perjuangan para perantau, sekaligus menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang harus kehilangan orang tercinta secara mendadak.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










