Menteri PPPA Minta Maaf Usai Usulan Gerbong Khusus Perempuan di Tengah KRL, Tuai Sorotan Publik
AKURAT BANTEN - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka setelah pernyataannya mengenai usulan pemindahan gerbong khusus perempuan di KRL menuai polemik luas.
Usulan tersebut sebelumnya disampaikan Arifah saat meninjau korban kecelakaan tragis antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di RSUD Bekasi.
Kala itu, ia mengusulkan agar gerbong perempuan tidak lagi ditempatkan di posisi paling depan atau belakang, melainkan berada di tengah rangkaian kereta.
Namun, pernyataan tersebut dinilai sebagian masyarakat kurang sensitif di tengah suasana duka akibat kecelakaan maut tersebut.
Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya pada Rabu, Arifah mengakui bahwa pernyataannya tidak tepat.
“Terkait pernyataan saya pasca insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat,” ujar Arifah.
Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat, terutama korban dan keluarga yang terdampak langsung.
“Untuk itu saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” lanjutnya.
Arifah menegaskan, dirinya sama sekali tidak bermaksud mengesampingkan keselamatan penumpang lain.
Menurutnya, fokus utama saat ini adalah penanganan korban, pemulihan kondisi keluarga, serta peningkatan sistem keselamatan transportasi publik.
“Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini yang menjadi fokus utama adalah keselamatan, penanganan korban, serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa keselamatan seluruh penumpang, tanpa membedakan gender, harus menjadi prioritas utama.
Baca Juga: iPhone 17e Segera Masuk Indonesia Usai Kantongi TKDN 40 Persen, Sinyal Peluncuran Kian Dekat
“Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu baik perempuan maupun laki-laki,” tegasnya.
Lebih lanjut, Arifah memastikan pemerintah sedang berupaya maksimal menangani seluruh korban, termasuk memberikan perlindungan psikologis bagi anak-anak dan keluarga yang mengalami trauma.
Kementerian PPPA, kata dia, akan terus mengawal pemenuhan hak perempuan dan anak yang terdampak tragedi tersebut.
“Mari kita bersama-sama memusatkan perhatian pada penanganan korban, doa, serta upaya perbaikan sistem keselamatan transportasi publik agar tragedi serupa tidak kembali terjadi,” tandasnya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang
- 10Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan








