Ekspor Anjlok, Iran Pangkas Produksi Minyak Imbas Blokade AS

AKURAT BANTEN – Iran mulai mengurangi produksi minyak mentahnya di tengah tekanan berat akibat blokade Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai respons atas kapasitas penyimpanan yang kian menipis seiring merosotnya ekspor energi negara tersebut.
Mengutip laporan dari Bloomberg pada Sabtu (2/5/2026) menyebutkan, pemerintah Iran menghadapi situasi genting dengan sisa ruang penyimpanan yang diperkirakan hanya cukup menampung produksi selama sekitar satu bulan ke depan, jika tidak ada perubahan kebijakan.
Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa keputusan untuk memangkas produksi dilakukan secara sengaja sebagai langkah antisipatif.
Baca Juga: Namanya Dicatut Yusril Tegas Bantah Pernah Nyatakan Status Keaslian Ijazah Jokowi
“Produksi dikurangi lebih awal untuk mencegah krisis saat tangki penyimpanan benar-benar penuh,” ujarnya.
Pengetatan blokade laut oleh militer AS di Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap ekspor minyak Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, volume ekspor dilaporkan anjlok tajam, sementara fasilitas penyimpanan domestik hampir mencapai batas maksimal.
Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026. Kondisi ini mempersempit jalur distribusi energi global, termasuk minyak, gas, dan pupuk, yang berdampak pada ekonomi dunia.
Baca Juga: Video Viral Amien Rais Soal Prabowo-Teddy Dihapus, Komdigi Sebut Fitnah dan Berisi Ujaran Kebencian
Sebagai respons, Washington memberlakukan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Militer AS mengklaim langkah ini telah menghentikan ekspor minyak Iran senilai sekitar 6 miliar dolar AS.
Dampak ekonomi di dalam negeri pun semakin terasa. Inflasi Iran yang sebelumnya sudah tinggi kini dilaporkan melonjak hingga melampaui 50 persen.
Proposal Damai Iran Diragukan Trump, Ancaman Serangan Kembali Menguat
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan tengah meninjau proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Iran. Namun, ia meragukan peluang proposal tersebut untuk diterima.
Berbicara kepada wartawan di Florida sebelum keberangkatan dengan Air Force One, Trump mengakui telah menerima gambaran awal proposal tersebut. Meski demikian, ia mengisyaratkan kemungkinan kembalinya aksi militer jika Iran dianggap melanggar kesepakatan.
Baca Juga: Makin Panas Kubu Roy Suryo Desak Polisi Tutup Kasus Ijazah Jokowi Lewat SP3
“Jika mereka bertindak buruk, serangan bisa saja dilanjutkan,” kata Trump, seperti dikutip Al Jazeera.
Trump juga menilai Iran berada dalam posisi terdesak akibat dampak konflik berkepanjangan dan blokade yang melumpuhkan ekonomi negara itu.
Dalam pernyataan lanjutan di platform Truth Social, ia bahkan menyebut sulit membayangkan proposal Iran bisa diterima karena Teheran dinilai belum “membayar harga yang cukup” atas tindakannya selama puluhan tahun.
Iran Tegaskan Siap Damai atau Perang
Pemerintah Iran merespons pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa keputusan kini berada di tangan AS. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan negaranya siap menghadapi dua kemungkinan: jalur diplomasi atau konfrontasi lanjutan.
“Bola sekarang ada di pihak Amerika Serikat. Iran siap untuk negosiasi maupun menghadapi konflik,” ujarnya dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.
Sementara itu, Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menegaskan bahwa Iran tidak menolak dialog, namun menolak segala bentuk tekanan dalam perundingan.
Baca Juga: Tinjau Gudang Beras Lebak-Pandeglang, Anggota DPR RI Ali Zamroni Pastikan Stok Pangan Aman
Negosiasi Mandek, Risiko Konflik Baru Meningkat
Upaya perdamaian yang dimediasi Pakistan sejauh ini belum membuahkan hasil. Proposal Iran yang diajukan pada akhir April dilaporkan mencakup sejumlah poin penting, termasuk isu program nuklir.
Media Axios menyebut utusan AS, Steve Witkoff, mengusulkan revisi yang menempatkan kembali program nuklir Iran sebagai fokus utama negosiasi. Salah satu tuntutannya adalah larangan memindahkan uranium yang telah diperkaya selama proses perundingan berlangsung.
Ketegangan yang belum mereda membuat potensi konflik kembali terbuka. Seorang pejabat militer senior Iran bahkan menyebut kemungkinan bentrokan ulang dengan AS sebagai sesuatu yang “sangat mungkin terjadi”.
Baca Juga: 14 Poin Perdamaian Dibongkar Iran yang Bikin Heboh Amerika Serikat, Selat Hormuz Jadi Kunci
Harga Minyak Berfluktuasi, Pasar Global Waspada
Kabar mengenai proposal damai sempat menekan harga minyak global hingga turun hampir 5 persen. Meski begitu, harga energi masih bertahan sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik dimulai.
Penutupan Selat Hormuz yang belum berakhir menjadi faktor utama yang terus menahan pasokan global dan menjaga harga tetap tinggi. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan
- 10Prediksi Australia vs Turki: Adu Generasi Baru di Laga Pembuka Grup D








