Banten

Ekspor Anjlok, Iran Pangkas Produksi Minyak Imbas Blokade AS

Cristina Malonda | 3 Mei 2026, 16:37 WIB
Ekspor Anjlok, Iran Pangkas Produksi Minyak Imbas Blokade AS
Ekspor Anjlok, Iran Pangkas Produksi Minyak Imbas Blokade AS (foto: ilustrasi/istimewa)

AKURAT BANTEN – Iran mulai mengurangi produksi minyak mentahnya di tengah tekanan berat akibat blokade Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai respons atas kapasitas penyimpanan yang kian menipis seiring merosotnya ekspor energi negara tersebut.

Mengutip laporan dari Bloomberg pada Sabtu (2/5/2026) menyebutkan, pemerintah Iran menghadapi situasi genting dengan sisa ruang penyimpanan yang diperkirakan hanya cukup menampung produksi selama sekitar satu bulan ke depan, jika tidak ada perubahan kebijakan.

Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa keputusan untuk memangkas produksi dilakukan secara sengaja sebagai langkah antisipatif.

Baca Juga: Namanya Dicatut Yusril Tegas Bantah Pernah Nyatakan Status Keaslian Ijazah Jokowi

“Produksi dikurangi lebih awal untuk mencegah krisis saat tangki penyimpanan benar-benar penuh,” ujarnya.

Pengetatan blokade laut oleh militer AS di Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap ekspor minyak Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, volume ekspor dilaporkan anjlok tajam, sementara fasilitas penyimpanan domestik hampir mencapai batas maksimal.

Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026. Kondisi ini mempersempit jalur distribusi energi global, termasuk minyak, gas, dan pupuk, yang berdampak pada ekonomi dunia.

Baca Juga: Video Viral Amien Rais Soal Prabowo-Teddy Dihapus, Komdigi Sebut Fitnah dan Berisi Ujaran Kebencian

Sebagai respons, Washington memberlakukan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Militer AS mengklaim langkah ini telah menghentikan ekspor minyak Iran senilai sekitar 6 miliar dolar AS.

Dampak ekonomi di dalam negeri pun semakin terasa. Inflasi Iran yang sebelumnya sudah tinggi kini dilaporkan melonjak hingga melampaui 50 persen.

Proposal Damai Iran Diragukan Trump, Ancaman Serangan Kembali Menguat

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan tengah meninjau proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Iran. Namun, ia meragukan peluang proposal tersebut untuk diterima.

Berbicara kepada wartawan di Florida sebelum keberangkatan dengan Air Force One, Trump mengakui telah menerima gambaran awal proposal tersebut. Meski demikian, ia mengisyaratkan kemungkinan kembalinya aksi militer jika Iran dianggap melanggar kesepakatan.

Baca Juga: Makin Panas Kubu Roy Suryo Desak Polisi Tutup Kasus Ijazah Jokowi Lewat SP3

“Jika mereka bertindak buruk, serangan bisa saja dilanjutkan,” kata Trump, seperti dikutip Al Jazeera.

Trump juga menilai Iran berada dalam posisi terdesak akibat dampak konflik berkepanjangan dan blokade yang melumpuhkan ekonomi negara itu.

Dalam pernyataan lanjutan di platform Truth Social, ia bahkan menyebut sulit membayangkan proposal Iran bisa diterima karena Teheran dinilai belum “membayar harga yang cukup” atas tindakannya selama puluhan tahun.

Baca Juga: Viral! Amien Rais Kritik Kedekatan Prabowo dan Seskab Teddy, Singgung Kisah Nabi Luth dan Kepercayaan Publik

Iran Tegaskan Siap Damai atau Perang

Pemerintah Iran merespons pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa keputusan kini berada di tangan AS. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan negaranya siap menghadapi dua kemungkinan: jalur diplomasi atau konfrontasi lanjutan.

“Bola sekarang ada di pihak Amerika Serikat. Iran siap untuk negosiasi maupun menghadapi konflik,” ujarnya dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.

Sementara itu, Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menegaskan bahwa Iran tidak menolak dialog, namun menolak segala bentuk tekanan dalam perundingan.

Baca Juga: Tinjau Gudang Beras Lebak-Pandeglang, Anggota DPR RI Ali Zamroni Pastikan Stok Pangan Aman

Negosiasi Mandek, Risiko Konflik Baru Meningkat

Upaya perdamaian yang dimediasi Pakistan sejauh ini belum membuahkan hasil. Proposal Iran yang diajukan pada akhir April dilaporkan mencakup sejumlah poin penting, termasuk isu program nuklir.

Media Axios menyebut utusan AS, Steve Witkoff, mengusulkan revisi yang menempatkan kembali program nuklir Iran sebagai fokus utama negosiasi. Salah satu tuntutannya adalah larangan memindahkan uranium yang telah diperkaya selama proses perundingan berlangsung.

Ketegangan yang belum mereda membuat potensi konflik kembali terbuka. Seorang pejabat militer senior Iran bahkan menyebut kemungkinan bentrokan ulang dengan AS sebagai sesuatu yang “sangat mungkin terjadi”.

Baca Juga: 14 Poin Perdamaian Dibongkar Iran yang Bikin Heboh Amerika Serikat, Selat Hormuz Jadi Kunci

Harga Minyak Berfluktuasi, Pasar Global Waspada

Kabar mengenai proposal damai sempat menekan harga minyak global hingga turun hampir 5 persen. Meski begitu, harga energi masih bertahan sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik dimulai.

Penutupan Selat Hormuz yang belum berakhir menjadi faktor utama yang terus menahan pasokan global dan menjaga harga tetap tinggi. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.