Banten

Dibalik Pecahnya Konflik Perang AS - Iran, China Disebut Diam-Diam Raup Keuntungan?

Varin VC | 5 Mei 2026, 19:24 WIB
Dibalik Pecahnya Konflik Perang AS - Iran, China Disebut Diam-Diam Raup Keuntungan?
Ilustrasi - Konflik AS-Iran Memanas, China Dinilai Ambil Keuntungan Strategis dari Ketegangan Kawasan (Dok - iStockphoto)

AKURAT BANTEN - Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran kini memicu pergeseran peta kekuatan global yang tak terduga.

Di saat Washington sibuk dengan urusan militer, Beijing justru muncul sebagai pihak yang paling diuntungkan secara ekonomi dan geopolitik.

Mantan analis CIA, John Nixon, memberikan pandangan tajam bahwa strategi China yang tetap tenang di tengah badai Timur Tengah menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-negara produsen energi.

Baca Juga: Tragedi Sepatu Sempit di Samarinda, Penyesalan Ibu Pecah Usai Putranya Pergi dalam Keterbatasan

Nixon menilai China memiliki posisi tawar yang unik karena mereka tidak membawa agenda perang ke meja perundingan.

Sifat Beijing yang pragmatis dan transaksional, yang awalnya dianggap negatif, kini justru terlihat lebih stabil dibandingkan kebijakan luar negeri AS yang dinilai kian "ceroboh".

Perubahan persepsi ini membuat pesan-pesan diplomatik dari Negeri Tirai Bambu semakin mudah diterima oleh para pemimpin di kawasan Teluk.

Baca Juga: Gencatan Senjata Hanya Formalitas? Serangan Drone Iran ke Jantung Industri UEA Picu Amarah Negara-Negara Arab

Ketergantungan China pada sumber daya energi Timur Tengah menjadi pengikat hubungan yang sulit diputuskan.

Meskipun tren dunia mulai bergeser ke energi terbarukan, Beijing diprediksi akan tetap menjadi pelanggan setia bahan bakar fosil dalam waktu yang lama.

Hal ini menciptakan simbiosis mutualisme di mana negara-negara Arab merasa memiliki mitra bisnis yang lebih konsisten dibandingkan Amerika Serikat.

"China dipandang sebagai negara yang sangat transaksional, dan itu adalah hal negatif. Tapi, seiring waktu, pesan dari China akan lebih diterima jika AS terus ceroboh," kata Nixon dalam wawancaranya dengan Al Jazeera.

Baca Juga: Jokowi Digugat Perdata di PN Solo, Soroti Ijazah dan Ketidakhadiran Sidang

Pandangan senada juga datang dari Frank Lavin, mantan Duta Besar AS yang menilai China sangat lihai memanfaatkan keretakan hubungan antara AS dengan sekutu tradisionalnya di Eropa.

Ketika hubungan politik Washington memburuk, Beijing masuk dengan menawarkan kerja sama ekonomi yang menggiurkan.

Ini memberikan ruang bagi China untuk memperkuat pengaruhnya sebagai mitra strategis yang layak di kancah internasional.

Baca Juga: TRAGIS! Hanya karena Kaki Tak Sengaja Senggol Motor, Pria di Cengkareng Tewas Dibacok secara Brutal hingga Tewas

China bahkan mulai bermanuver di wilayah yang selama ini menjadi "halaman belakang" pengaruh AS, seperti penandatanganan perjanjian industri otomotif dengan Kanada.

Langkah berani ini diambil di tengah memburuknya relasi diplomatik antara AS dan Kanada.

Beijing seolah tidak menyia-nyiakan kesempatan sedikit pun untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kebijakan luar negeri Trump yang kontroversial.

Baca Juga: DLH Kota Tangerang Hentikan Layanan Angkut Sampah Dari TPS Ilegal di Kunciran

Di sisi lain, kebijakan Donald Trump yang keras terhadap NATO turut memperkeruh suasana internal aliansi pertahanan tersebut.

Trump tak segan melontarkan kritik pedas terhadap negara-negara anggota yang enggan membantunya dalam konfrontasi melawan Iran.

Ketegangan ini mencapai puncaknya ketika ia menyebut aliansi pertahanan tersebut tak lebih dari sekadar macan kertas yang tidak memiliki nyali.

"Trump sampai menjuluki aliansi pertahanan tersebut 'macan kertas' karena kecewa dengan sikap mereka yang menolak membantu melawan Iran," tulis laporan yang menyoroti perpecahan di blok Barat tersebut.

Baca Juga: Amerika Serikat Kawal Kapal di Selat Hormuz, Iran Langsung Ancam Serangan Dunia Deg-degan

Kekecewaan ini berujung pada keputusan drastis penarikan ribuan personel militer AS dari pangkalan-pangkalan di luar negeri, termasuk Jerman.

Sebanyak 5.000 prajurit dipulangkan sebagai bentuk protes terhadap Berlin yang dianggap kurang suportif.

Proses pemulangan pasukan ini diperkirakan akan memakan waktu hingga satu tahun, yang secara otomatis memperlemah kehadiran militer AS di Eropa dan memberi ruang bagi pengaruh luar untuk masuk.

Baca Juga: Makin Terbuka Kubu Roy Suryo Bongkar Hasil Audiensi, Singgung Kejanggalan Kasus Ijazah Jokowi

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Varin VC
Reporter
Varin VC
Varin VC
Editor
Varin VC