Banten

'Saya Tidak Peduli!', Trump Pilih Perang Nuklir Lawan Iran Meski Ekonomi AS Berdarah-darah

Abdurahman | 14 Mei 2026, 07:24 WIB
'Saya Tidak Peduli!', Trump Pilih Perang Nuklir Lawan Iran Meski Ekonomi AS Berdarah-darah
Donald Trump, potret resmi 2025 (Wikipedia)

AKURAT BANTEN– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang publik dengan pernyataan yang sangat kontroversial.

Di tengah lonjakan harga BBM dan inflasi yang mencekik warga Amerika, Trump secara blak-blakan menyatakan bahwa nasib dompet rakyatnya bukanlah prioritas utama saat ini.

"Satu-satunya hal yang penting adalah Iran tidak boleh punya senjata nuklir. Saya tidak memikirkan situasi keuangan warga Amerika. Saya tidak memikirkan siapapun," tegas Trump dengan nada dingin di hadapan wartawan di Gedung Putih, Selasa (12/05/2026).

Baca Juga: Hubungan Memanas! Kadin China Kirim Surat 'Peringatan' ke Prabowo: Keluhkan Pungli Hingga Aturan Mencekik!

Prioritas Tunggal: Tanpa Nuklir, Tanpa Kompromi

Pernyataan ini muncul saat AS dan Israel masih terjebak dalam konflik terbuka dengan Teheran yang meletus sejak Februari lalu.

Trump, yang bersiap bertolak ke Beijing untuk bertemu Xi Jinping, menegaskan bahwa motivasi utamanya hanyalah keamanan nasional jangka panjang, bukan fluktuasi pasar atau harga pangan.

Ketika ditanya apakah kesulitan finansial warga AS memotivasinya untuk segera mengakhiri perang melalui kesepakatan damai, jawaban Trump singkat dan tajam: "Tidak sedikit pun."

Bagi saya, apakah pasar saham naik atau turun sedikit itu tidak penting. Yang paling penting adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Setiap warga Amerika harus paham itu, tambah Trump.

Baca Juga: Manchester City Hajar Crystal Palace 3-0, Anak Asuh Guardiola Masih Berpeluang Beri Kutukan Runner Up ke Arsenal

Ekonomi AS di Ambang Krisis: Rakyat Menjerit?

Kontras dengan pernyataan "bodo amat" sang Presiden, data di lapangan menunjukkan kondisi yang sangat kontras:

Harga BBM Melejit: Penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga bensin rata-rata di AS menyentuh $4,50 per galon.

Inflasi Terparah: April 2026 mencatatkan lonjakan inflasi tertinggi dalam tiga tahun terakhir sebesar 3,8%, dipicu oleh biaya energi yang tak terkendali.

Biaya Perang: Data terbaru menunjukkan perang ini telah menyedot anggaran pembayar pajak AS hingga $38 miliar hanya dalam hitungan bulan.

Baca Juga: Mental Juara Sang Megabintang, Cristiano Ronaldo Yakin Dirinya Masih Bisa Bawa Al Nassr Sabet Gelar Juara Liga Saudi

Visi Heroik atau Kecerobohan Politik?

Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, membela pernyataan bosnya.

Ia berargumen bahwa tanggung jawab utama seorang Presiden adalah keselamatan nyawa warga negara.

Jika Iran memiliki nuklir, ancamannya jauh lebih permanen daripada sekadar krisis ekonomi sementara.

Namun, laporan intelijen AS justru memberikan nada berbeda.

Meskipun perang telah berlangsung intens, waktu yang dibutuhkan Iran untuk membangun bom nuklir dikabarkan tetap stabil di angka 9 hingga 12 bulan.

Hal ini memicu pertanyaan besar: Apakah pengorbanan ekonomi rakyat AS sebanding dengan hasil yang dicapai?

Baca Juga: Bikin Juri Terpaku! Siswa Ini Berani Protes Keras di LCC 4 Pilar, Kini Malah Banjir Tawaran Kuliah ke China!

Reaksi Publik: Disapproval Rating Meroket

Tidak mengejutkan, publik mulai gerah.

Survei terbaru menunjukkan angka ketidakpuasan terhadap manajemen ekonomi Trump mencapai 70%, rekor tertinggi sepanjang masa jabatannya.

Para kritikus menyebut pernyataan Trump sebagai momen "Let them eat cake" versi modern—sebuah ketidakpedulian elit terhadap penderitaan rakyat di akar rumput.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman