Banten

Ferry Irwandi Bongkar Kejanggalan Kasus Nadiem Makarim: “Gak Masuk Akal!”

Viona Sebastian Nolani | 14 Mei 2026, 19:55 WIB
Ferry Irwandi Bongkar Kejanggalan Kasus Nadiem Makarim: “Gak Masuk Akal!”
Ferry Irwandi soroti kejanggalan kasus Nadiem Makarim, sebut proses hukum tak masuk akal dan terkesan dipaksakan. (Tangkapan Layar)

AKURAT BANTEN - Influencer dan kreator konten digital, Ferry Irwandi, ikut angkat suara terkait polemik kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.

Meski dikenal sebagai salah satu pengkritik kebijakan Nadiem selama menjabat, Ferry justru melihat adanya kejanggalan dalam proses penegakan hukum yang kini berjalan di pengadilan.

Ia menilai konstruksi dakwaan dalam perkara pidana korporasi terkait penataan sarana dan prasarana terkesan dipaksakan dan tidak selaras dengan logika pembuktian hukum pidana.

“Saya termasuk keras mengkritik kebijakan Pak Nadiem saat menjabat menteri,” ujar Ferry dikutip fajar.co.id, Kamis (14/5/2026).

Baca Juga: Korupsi Chromebook, Nadiem Makarim Pertanyakan Tuntutan Fantastis 27 Tahun Penjara

Ferry menegaskan, dirinya tidak sedang memberikan pembelaan secara membabi buta terhadap sosok mantan pejabat tersebut.

Namun, ia menuntut agar kejaksaan tetap menjunjung tinggi prinsip rasionalitas dan keadilan universal dalam proses hukum.

“Tapi melihat bagaimana proses hukum Pak Nadiem terjadi, jelas itu tidak bisa dibenarkan atau diwajarkan,” lanjutnya.

Menurutnya, kejanggalan dalam materi penyidikan kasus pengadaan teknologi informasi Chromebook semakin terlihat jika dibandingkan dengan fakta-fakta yang terungkap di persidangan.

Baca Juga: Nadiem Makarim Jadi Tahanan Rumah di Kasus Laptop Chromebook, Ini Aturan Ketatnya

“Balik lagi, ini kasus tipikor pengadaan. Dari sejauh fakta persidangan yang ada, benar-benar gak masuk akal,” tegasnya.

Ferry juga membandingkan kasus ini dengan dugaan keanehan hukum yang sebelumnya dialami pelaku industri kreatif nasional, Ibrahim Arief.

“Menurut pendapat saya, ini sama anehnya dengan yang menimpa Ibam (Ibrahim Arief) dan sangat dipaksakan,” imbuhnya.

Ia mengaku prihatin melihat sejumlah profesional dari kalangan pengusaha hingga akademisi ikut terseret dalam dinamika hukum yang dinilainya sarat kepentingan.

Baca Juga: Indonesia Usul Jadi Pusat Cadangan Minyak ASEAN, Bahlil: Ini Soal Bertahan Hidup

“Kesiksa banget ngeliat belakangan yang terjadi sama Pak Nadiem, sama Mas Ibam, sama Mas Wawan, sama Mas Khariq,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ferry menyoroti ketimpangan dalam penegakan hukum dengan membandingkan kasus ini terhadap dugaan pemborosan anggaran negara di sektor lain yang tidak tersentuh aparat.

“Meanwhile, di saat yang bersamaan, anggaran kaos kaki Rp6,9 miliar di BGN tidak dipermasalahkan,” katanya.

Ia juga menyinggung dugaan adanya pihak pejabat pembuat komitmen (PPK) yang disebut menerima aliran dana kickback namun belum ditindak oleh aparat penegak hukum.

Baca Juga: Dugaan Kekerasan Seksual di Pesantren Gegerkan Publik, Kemenag Ambil Langkah Tegas

“PPK di kasus korupsi Chromebook yang menerima uang kickback tidak ditangkap,” bebernya.

Di akhir pernyataannya, Ferry melontarkan kritik tajam terhadap praktik pameran uang sitaan hasil korupsi oleh aparat, yang menurutnya tidak diiringi dengan transparansi terkait pelaku.

“Uang sitaan korupsi dipamerkan triliunan, tapi kita gak tahu siapa koruptornya,” tandasnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.