Laksa Tangerang Bertahan di Tengah Sepi: Cerita Ismail, Pedagang Turun-Temurun Sejak 2011

AKURAT BANTEN - Di balik kepulan uap kuah kuning yang khas, lapak laksa di kawasan sentra kuliner Tangerang masih setia bertahan. Salah satunya adalah lapak milik Ismail, pedagang laksa yang telah berjualan sejak 2011 dan menjadi saksi hidup pasang surut peminat kuliner khas Kota Benteng tersebut.
Ismail menuturkan, dirinya mulai berjualan laksa di kawasan tersebut sejak 2011. Namun, ketika pertama kali ia bergabung, sentra laksa itu sudah lebih dulu ada.
"Saya pas ke sini sudah ada. Kalau nggak salah, sentra ini ada dari tahun 2008 atau 2009," ujarnya, Selasa (3/2/26).
Baca Juga: Perang Tiket Mudik Dimulai! KAI Siapkan 37 Ribu Kursi per Hari, Pemudik Diminta Gerak Cepat
Laksa yang dijajakan Ismail dibuat dengan cara tradisional dan seluruh prosesnya dikerjakan di rumah.
Kata dia, bahan utama laksa adalah tepung beras yang berasal dari beras pera, jenis beras yang biasa digunakan untuk nasi gudeg.
"Berasnya direndam dulu beberapa jam, baru ditepung. Setelah itu diseduh air panas, diadonin," jelasnya.
Adonan tersebut kemudian dikukus selama kurang lebih empat hingga lima jam hingga matang.
Baca Juga: Rela Gundulin Rambut Kribo, Eddi Brokoli Galang Solidaritas untuk Korban Bencana Sumatera
Setelah itu, adonan baru dicetak menjadi mie laksa menggunakan alat tradisional, mirip seperti cetakan cendol.
"Nggak ada mesin, semuanya masih manual," katanya.
Ismail menjelaskan, laksa yang sudah jadi hanya mampu bertahan selama satu hari satu malam. Jika tidak habis hingga larut malam, kualitasnya pun akan menurun.
"Kalau lewat jam 10 atau 11 malam sebenarnya masih enak, cuma kualitasnya sudah agak kurang," tutur Ismail.
Lebih lanjut kata dia, laksa yang tidak habis biasanya dijemur hingga kering dan diolah kembali menjadi camilan goreng, sebagai cemilan dan tidak untuk dijual.
Dalam kondisi normal, Ismail mengatakan, memproduksi sekitar 10 liter laksa per hari. Dari jumlah itu, 5 liter bisa menghasilkan sekitar 100 porsi.
"Biasanya sehari dua bakul, kira-kira 200 porsi," ucapnya saat berbincang dengan wartawan.
Untuk kuah laksa, Ismail menggunakan bumbu tumisan berwarna kuning yang terdiri dari kunyit, cabai, bawang merah, bawang putih, dan kemiri.
Baca Juga: Polisi Kejar Pelaku Perusakan Rumah di Kramat Jati, Korban Alami Intimidasi dan Ancaman Keselamatan
Ia mengakui kini menggunakan bumbu jadi demi kepraktisan, meski dulunya bumbu digiling sendiri dan mengolah sendiri.
Kemudian, kuah dimasak bersama santan, lalu ditambahkan kentang dan kacang hijau. Lauk pendampingnya beragam, mulai dari ayam, telur, hingga ati ampela.
Ismail mengungkapkan, harga laksa pun terbilang terjangkau dan relatif tak berubah sejak hampir satu dekade terakhir.
"Laksa polos dibanderol Rp10.000, laksa telur dan ati ampela Rp15.000, sementara laksa ayam Rp25.000 per porsi. Dari tahun 2015-2016 sudah segitu, sampai sekarang nggak naik," kata Ismail.
Baca Juga: Bacaan Niat Puasa dan Keutamaan Nisfu Syaban, Malam Penuh keberkahan
Meski mempertahankan harga dan porsi, Ismail mengakui penjualan mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Jika sebelumnya bisa menghabiskan hingga tiga bakul per hari, kini dua bakul pun sering tak habis terjual.
"Sekarang paling laku 100-an porsi," ujarnya.
Penurunan itu, menurut Ismail, bukan karena cita rasa. Ia menegaskan resep laksa yang digunakan merupakan warisan turun-temurun dari keluarga.
"Resepnya dari ngkong-nya istri abang saya, asli orang Tangerang. Dari dulu pedagang laksa," katanya.
"Kalau rasa, insya Allah tetap kita pertahankan," imbuhnya
Ia menilai salah satu faktor sepinya pembeli adalah kondisi fasilitas sentra laksa yang kian memprihatinkan.
Terakhir kali dilakukan perbaikan hanya pada bagian atap pada 2017. Selebihnya, tidak ada pembenahan berarti hingga kini. Saat hujan, kios-kios kerap bocor dan pedagang maupun pembeli kehujanan.
Baca Juga: BI Tetap Percaya Inflasi 2026–2027 Akan Kembali ke Jalur Sasaran Meski Awal Tahun Menghangat
"Sering pelanggan ngeluh, apalagi kalau hujan bocor-bocor. Kita juga malu sebenarnya," ungkap Ismail.
Namun, ia dan pedagang lain tetap bertahan karena bergantung pada penghasilan dari berjualan.
Saat ini terdapat delapan kios di sentra laksa tersebut. Namun, hanya sekitar tiga kios di bagian depan yang buka hingga malam hari.
Sebagian besar pembeli datang pada pagi hingga siang hari, terutama untuk sarapan dan makan siang. Pada musim hujan, jumlah pengunjung cenderung menurun.
Dari sisi biaya, sejak 2025 para pedagang mulai dikenakan sewa lapak sekitar Rp4 juta per tahun. Sebelumnya, lapak diberikan secara gratis. Selain itu, terdapat retribusi sampah sebesar Rp20.000 per minggu.
Baca Juga: OJK Gaspol 8 Agenda Reformasi Pasar Modal, Analis Soroti Dampak Positif bagi Investor
Kalau sampah sih nggak masalah, cuma kalau lihat fasilitasnya, ya berat juga,” keluhnya.
Dampak kondisi tersebut terasa pada omzet. Jika dahulu omzet kotor per hari bisa mencapai Rp4 juta, kini untuk menyentuh Rp1 juta pun sulit.
"Sudah tiga tahun terakhir begini," ujar Ismail.
Di tengah keterbatasan itu, Ismail tetap berjualan demi menghidupi keluarga. Istrinya bekerja, sementara anggota keluarga lain membantu memasak di rumah. "Saya fokus jualan di sini," katanya.
Ismail berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kota Tangerang terhadap sentra laksa yang telah menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
"Harapannya dibantu renovasi lagi. Supaya fasilitasnya bagus, pengunjung ramai, laksa Tangerang makin dikenal," ujarnya.
Baginya, laksa bukan sekadar dagangan, melainkan warisan budaya yang seharusnya dijaga bersama. "Kalau tempatnya diperbaiki, insya Allah orang-orang datang lagi," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










