Banten

Trump Klaim Capai Kesepakatan Fantastis dengan Xi Jinping, China Siap Bantu Buka Selat Hormuz?

Viona Sebastian Nolani | 15 Mei 2026, 14:36 WIB
Trump Klaim Capai Kesepakatan Fantastis dengan Xi Jinping, China Siap Bantu Buka Selat Hormuz?
Presiden AS Donald Trump klaim telah mencapai kesepakatan besar dengan China. (flickr/Gage Skidmore)

AKURAT BANTEN - Presiden AS, Donald Trump, menyatakan dirinya berhasil mencapai "kesepakatan perdagangan fantastis" dengan Xi Jinping saat keduanya bertemu pada Jumat (15 Mei) dalam agenda penutup KTT negara-negara adidaya.

Menurut Trump, pertemuan tersebut juga menghasilkan tawaran dari China untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran penting dunia.

Trump datang ke Beijing dengan target menyelesaikan sejumlah kerja sama strategis di berbagai bidang, mulai dari pertanian, industri penerbangan, hingga kecerdasan buatan.

Selain itu, ia juga berupaya meredakan ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing, terutama terkait konflik yang terus memanas di Timur Tengah.

Baca Juga: Prediksi Skor PSBS Biak vs Arema FC: Singo Edan Datang Saat Badai Pasifik Sedang Terpuruk

Dalam lawatan tersebut, Trump kembali menunjukkan kedekatannya dengan Xi yang ia sebut sebagai "pemimpin hebat" sekaligus "sahabat".

Meski begitu, respons dari pemimpin China itu dinilai lebih tenang dan hati-hati dibanding pendekatan Trump yang terbuka.

Kendati demikian, Trump menegaskan bahwa kunjungannya ke China telah menghasilkan "banyak hal baik".

"Kami telah membuat beberapa kesepakatan perdagangan yang fantastis, sangat menguntungkan bagi kedua negara," katanya saat ditemani Xi berjalan melewati taman Zhongnanhai, kompleks pusat kepemimpinan China yang berada di dekat Kota Terlarang Beijing.

Baca Juga: Prediksi Skor Semen Padang vs Persebaya: Bajul Ijo Diunggulkan Tutup Musim dengan Kemenangan

Dalam wawancara bersama Fox News usai hari pertama KTT, Trump mengatakan pembicaraan dengan pemerintah China berlangsung positif dan Xi telah menyetujui beberapa poin penting yang diinginkan AS.

Terkait konflik Iran, presiden AS itu mengungkapkan bahwa Xi pada dasarnya telah memastikan China tidak akan memberikan bantuan militer kepada Teheran, yang sebelumnya disebut telah menutup Selat Hormuz.

"Dia mengatakan dia tidak akan memberikan peralatan militer... dia mengatakannya dengan tegas," kata Trump.

Baca Juga: SWx AI Buatan BRIN Diklaim Mampu Prediksi Cuaca Antariksa Lebih Cepat dan Akurat

"Dia ingin melihat Selat Hormuz dibuka, dan berkata 'jika saya dapat membantu sekecil apa pun, saya ingin membantu,'" tambah Trump.

Saat ditanya apakah isu Iran dibahas dalam pertemuan kedua pemimpin, Kementerian Luar Negeri China pada Jumat mengeluarkan pernyataan yang menyerukan "gencatan senjata yang komprehensif dan abadi".

"Jalur pelayaran harus dibuka kembali sesegera mungkin sebagai tanggapan atas seruan komunitas internasional," demikian isi pernyataan tersebut.

Meski suasana hangat dan penuh seremoni mewarnai pertemuan pada Kamis, Xi tetap memberikan peringatan tegas mengenai isu Taiwan yang selama ini menjadi sumber ketegangan geopolitik antara kedua negara.

Tak lama setelah pembicaraan dimulai, media pemerintah China melaporkan Xi mengingatkan Trump bahwa kesalahan langkah dalam persoalan sensitif Taiwan dapat menyeret kedua negara menuju "konflik".

Isu Taiwan sendiri tidak dibahas, sementara Trump juga memilih tidak menjawab pertanyaan wartawan terkait hal tersebut.

Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa presiden akan memberikan penjelasan lebih lanjut "dalam beberapa hari mendatang".

Agenda perdagangan diperkirakan menjadi fokus utama pertemuan pada Jumat.

Trump mengungkapkan satu kesepakatan besar telah dicapai setelah Xi setuju membeli "200 jet Boeing besar".

Komentar itu justru membuat saham perusahaan penerbangan AS Boeing melemah karena pasar mengharapkan pembelian dengan nilai yang lebih besar dari China.

Trump juga mengatakan Beijing menunjukkan minat membeli minyak dan kedelai dari AS.

China yang selama ini menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran diketahui sempat mengimpor minyak AS dalam jumlah kecil sebelum Trump memberlakukan tarif perdagangan tahun lalu.

Kebijakan tarif tersebut turut menekan impor kedelai AS oleh China, yang kemudian lebih memilih pasokan dari Brasil.

Selain perdagangan, Scott Bessent juga menyebut Trump dan Xi mulai membahas kemungkinan menetapkan "batasan" dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Menurut Bessent, "dua kekuatan super AI dunia akan mulai berbicara", meskipun pembatasan ekspor teknologi canggih AS ke China masih menjadi isu sensitif dalam hubungan kedua negara.

Kunjungan Trump ke Beijing ini menjadi lawatan pertama presiden AS ke China dalam hampir satu dekade terakhir.

Xi juga menyinggung konsep "Perangkap Thucydides", teori politik yang menggambarkan meningkatnya risiko perang ketika kekuatan baru yang sedang bangkit menantang negara besar yang sudah mapan.

Meski demikian, Xi menyatakan keyakinannya bahwa AS dan China tetap bisa "mengatasi" risiko tersebut.

Menanggapi pernyataan itu melalui media sosial pada Jumat dini hari, Trump mengatakan Xi "dengan sangat elegan menyebut AS mungkin sebagai negara yang sedang mengalami kemunduran".

Trump menegaskan Xi bukan merujuk pada AS di bawah kepemimpinannya saat ini, yang menurutnya tengah mengalami "kebangkitan luar biasa", melainkan era pemerintahan pendahulunya, Joe Biden.

"Dua tahun lalu, kita memang sebuah negara yang sedang mengalami kemunduran," tulis Trump.

"Sekarang, AS adalah negara terpanas di dunia, dan semoga hubungan kita dengan China akan lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya!" tambahnya.

Trump juga menyebut Xi telah "memberi selamat kepada saya atas begitu banyak kesuksesan luar biasa".

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.