Indonesia Siap Masuk Era Nuklir? UGM dan BRIN Kembangkan Reaktor Mini untuk Target Net Zero 2060

AKURAT BANTEN - Harapan Indonesia untuk segera memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali mendapatkan angin segar setelah terjalinnya kerja sama antara Fakultas Teknik UGM dan Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN pada Selasa (12/5/2026).
Kolaborasi ini berfokus pada pengembangan desain reaktor nuklir skala kecil dan mikro guna mendukung percepatan transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN, Topan Setiadipura menjelaskan bahwa kerja sama dengan Pusat Studi Energi UGM bertujuan memperkuat pemanfaatan energi nuklir sebagai bagian dari bauran energi nasional yang terintegrasi dengan berbagai sumber energi lainnya.
Ia menilai pengembangan reaktor nuklir berkapasitas kecil sangat relevan dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki kebutuhan energi tersebar di banyak wilayah.
Baca Juga: 1.278 Jemaah Haji Terakhir Tinggalkan Madinah, Pesan Penting Petugas Jadi Sorotan
"Kebutuhan energi kita besar tetapi terdistribusi menjadi kebutuhan kecil di banyak tempat. Hal ini tepat untuk disuplai oleh teknologi reaktor nuklir mini atau mikroreaktor," terangnya.
Lebih lanjut, Topan mengatakan sasaran utama dari kolaborasi tersebut ialah menghasilkan desain reaktor yang telah memiliki lisensi dan dapat diterapkan secara nyata untuk kebutuhan nasional, bukan hanya sebatas proyek uji coba.
Penanggung jawab kerja sama dari BRIN, Dany Mulyana mengungkapkan bahwa reaktor yang tengah dikembangkan merupakan reaktor kecil dan mikro berbahan bakar uranium dioksida dengan tingkat pengayaan maksimal 20 persen menggunakan teknologi TRISO.
Reaktor itu dirancang untuk menghasilkan uap maupun gas panas yang bisa dimanfaatkan pada berbagai kebutuhan kogenerasi, termasuk produksi hidrogen hingga desalinasi air laut.
Baca Juga: BRIN-Australia Kolaborasi Lawan Tuberkulosis dan Malaria, Siapkan Inovasi Vaksin Baru
Menurut Dany, rancangan reaktor tersebut memiliki fleksibilitas kapasitas daya hingga maksimum 40 MWt, termasuk mikroreaktor dengan kapasitas di bawah 1 MWt.
Saat ini, BRIN juga melanjutkan pengembangan desain Reaktor Daya Eksperimental (RDE) menuju reaktor kecil PeLUIt-40.
"Kami mendiseminasikan desain ini ke perguruan tinggi agar dapat divalidasi oleh dosen dan peneliti, sekaligus dipelajari oleh mahasiswa," jelasnya.
Pengembangan desain konseptual reaktor dilakukan melalui sejumlah tahapan riset, mulai dari studi literatur, penyusunan spesifikasi desain awal, simulasi komputasi, hingga identifikasi kebutuhan laboratorium, perangkat lunak, perangkat keras, serta sumber daya manusia yang diperlukan.
Dany berharap kerja sama ini dapat menghasilkan data validasi untuk desain reaktor yang dikembangkan BRIN sekaligus memperluas keterlibatan akademisi dan mahasiswa dalam pengembangan teknologi nuklir di Indonesia.
Di sisi lain, Dekan Fakultas Teknik UGM, Selo mengatakan Indonesia telah menaruh harapan besar terhadap kehadiran PLTN sejak Program Teknik Nuklir UGM berdiri pada 1977.
Namun hingga kini, pembangunan PLTN masih menghadapi sejumlah hambatan, khususnya pada aspek kebijakan serta dinamika politik.
Meski begitu, ia menilai kemampuan teknologi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia di sektor nuklir terus menunjukkan perkembangan positif.
"Sumber daya manusia kita dinilai mampu tidak hanya mengoperasikan PLTN, tetapi juga mengembangkan desain reaktor dan teknologi pendukung lainnya," katanya.
Kolaborasi antara BRIN dan Fakultas Teknik UGM diharapkan menjadi langkah penting dalam memperkuat kesiapan Indonesia memasuki era energi nuklir.
Selain itu, kerja sama ini juga diyakini dapat mempererat sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset guna mendorong kemandirian teknologi nasional.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 10Bikin Guru Terharu, Celine dari Pontianak Dipercaya Bawa Baki Merah Putih di Istana






