Banten

Industri Otomotif Naik Tajam, Pengamat Ungkap Faktor Sebenarnya di Balik Lonjakan Penjualan

Viona Sebastian Nolani | 17 Mei 2026, 19:47 WIB
Industri Otomotif Naik Tajam, Pengamat Ungkap Faktor Sebenarnya di Balik Lonjakan Penjualan
Ilustrasi pameran mobil. (iStock)

AKURAT BANTEN - Pengamat otomotif menilai lonjakan kinerja industri kendaraan bermotor saat ini tidak didorong oleh peningkatan konsumsi ritel masyarakat.

Sebaliknya, pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh percepatan belanja korporasi serta meningkatnya permintaan di segmen kendaraan komersial ringan.

Salah satu pendorongnya berasal dari kebutuhan operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menyebut kenaikan penjualan mobil bukan berasal dari konsumsi individu.

Baca Juga: Penentuan Idul Adha 2026 Dimulai Hari Ini, Kemenag Gelar Sidang Isbat

Hal ini dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat serta kebijakan pengetatan kredit kendaraan.

“Melainkan akselerasi belanja perusahaan dan lembaga (untuk armada fleet) dan lonjakan kuat permintaan di sektor mobil komersial ringan,” kata Yannes dikutip dari Bloomberg Technoz pada Minggu (17/5/2026).

Ia menjelaskan, permintaan di sektor komersial meningkat seiring kebutuhan logistik nasional dan berbagai proyek strategis pemerintah.

Program MBG, misalnya, turut mendorong pemesanan armada niaga dalam jumlah besar untuk mendukung operasional distribusi.

Baca Juga: Beasiswa Kemenag 2026 Buka Pendaftaran, Kuliah S2-S3 Cuma 4,5 Tahun

Di sisi lain, meski penjualan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) tumbuh signifikan hingga dua kali lipat, pasar masih didominasi oleh kelompok early adopter, kelas menengah, hingga kalangan atas.

Umumnya, kendaraan listrik tersebut menjadi mobil ketiga atau lebih, didukung strategi agresif perusahaan agen pemegang merek (APM) yang memberikan diskon harga.

Langkah diskon tersebut dilakukan untuk mengurangi stok kendaraan agar tidak berujung pada kapasitas produksi yang menganggur atau idle capacity.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan wholesales atau distribusi dari pabrikan ke dealer mencapai 80.776 unit pada April 2026.

Baca Juga: Rahasia Jemaah Haji Mandiri SUB 77, Lansia Bisa Adaptasi Cepat Berkat Cara Tak Biasa Ini

Angka ini melonjak 55% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan April 2025 yang tercatat 52.108 unit.

Sementara itu, penjualan ritel atau distribusi dari dealer ke konsumen mencapai 75.730 unit sepanjang April 2026, tumbuh 30,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 58.174 unit.

Secara bulanan, wholesales mobil pada April 2026 juga naik 31,8% dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 61.268 unit.

Penjualan ritel turut meningkat 13,7% dari 66.595 unit pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: 9 Penambang Tewas Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal Sumbar, Fakta Tragisnya Terungkap

Secara kumulatif, penjualan wholesales mobil sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 289.787 unit atau tumbuh 12,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 257.647 unit.

Adapun penjualan ritel selama empat bulan pertama 2026 tercatat 287.581 unit, meningkat 6,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 268.940 unit.

Dari sisi merek, Toyota masih memimpin pasar otomotif nasional dengan total wholesales 86.270 unit sepanjang Januari–April 2026.

Posisi kedua ditempati Daihatsu dengan 48.280 unit.

Selanjutnya, Mitsubishi Motors mencatatkan penjualan 24.279 unit, diikuti Suzuki dengan 24.154 unit, serta BYD yang membukukan penjualan sebanyak 17.098 unit.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.