Puluhan Tahun Jual Daun Pisang, Perjuangan Nenek Painah Akhirnya Mengantarkannya ke Tanah Suci

AKURAT BANTEN - Usia senja tak menghalangi semangat Painah untuk menapakkan kaki di Tanah Suci.
Di usianya yang telah menginjak 65 tahun, perempuan asal Dusun Ngegok, Wonosobo, itu tampak penuh keyakinan saat tiba di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi, sebagai salah satu jemaah haji Indonesia tahun 2026.
Gurat usia memang tampak jelas di wajahnya.
Namun, langkahnya tetap mantap, mencerminkan perjalanan panjang penuh perjuangan yang telah ia tempuh selama bertahun-tahun.
Painah bukan sosok biasa di antara rombongan jemaah asal embarkasi Yogyakarta.
Ia dikenal sebagai penjual daun pisang yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari hasil memetik, melipat, menimbang, dan menjual daun pisang ke pasar tradisional.
Dari pekerjaan sederhana itulah, ia membangun harapan besar untuk bisa beribadah haji.
Setiap hari, sejak pukul 01.30 dini hari, Painah sudah memulai aktivitasnya.
Dengan tekad kuat, ia membawa ikatan daun pisang menuju Pasar Pagi Wonosobo.
Baca Juga: Tuntutan Berat Prajurit TNI dalam Kasus Pembunuhan Kepala Bank BUMN Gegerkan Publik
Pekerjaan berat tersebut telah ia jalani lebih dari empat dekade.
“Saya itu buruh. Buruh memetik daun, setiap hari tidak pernah telat. Itu sudah lebih dari 40 tahun,” ujar Painah.
Daun-daun pisang yang dipetik kemudian disusun rapi, dilipat, ditimbang per kilogram, lalu dimasukkan ke dalam karung sebelum dipasarkan.
Seluruh penghasilannya berasal dari usaha tersebut.
“Kalau sekarang memetik, lalu dilipat, ditimbang satu kilo satu kilo, lalu dimasukkan ke karung terus dijual ke pasar. Dari itu jualan daun, tidak lain-lain,” katanya.
Pendapatan yang ia peroleh setiap hari sangat bervariasi.
Baca Juga: Prabowo Tambah 6 Rafale untuk TNI AU, Ini Fungsi dan Kekuatan Alutsista Baru RI
Kadang hanya Rp15 ribu, namun pada kesempatan tertentu bisa mencapai Rp200 ribu.
Meski jumlahnya kecil dan tidak menentu, Painah disiplin menyisihkan sebagian penghasilannya demi mewujudkan impian berhaji.
Dengan penuh kesabaran, ia menabung dari uang receh hasil jualannya.
Sejak mendaftar haji pada 2012, ia terus berusaha memenuhi kebutuhan biaya perjalanan suci tersebut.
"Uangnya dikumpulkan di rumah. Kalau jualan kadang dapat Rp200 ribu, kadang Rp100 ribu, kadang Rp50 ribu, kadang Rp15 ribu. Saya jualan berangkat jam setengah dua dini hari sampai menjelang Subuh,” tuturnya.
Tak hanya mengandalkan pasokan dari pengepul, kini sebagian daun pisang yang dijual berasal dari kebun miliknya sendiri.
Selama 14 tahun menunggu antrean keberangkatan, rasa cemas sempat menghampiri dirinya.
Painah khawatir usia dan kondisi fisiknya tak lagi memungkinkan untuk berangkat.
Bahkan, ia pernah berpikir tabungan hajinya mungkin hanya akan digunakan untuk kebutuhan berobat di masa tua.
Namun, takdir berkata lain.
Kerja keras dan doa panjangnya akhirnya membuahkan hasil.
"Remen sanget (senang sekali) bisa sampai tanah suci menjalankan ibadah haji," ungkapnya.
Dalam perjalanan spiritual ini, Painah didampingi putranya, Sabar Munasir, yang menggantikan sang ayah karena tidak memenuhi syarat kesehatan.
"Saya menggantikan Bapak. Bapak tidak lolos istithaah," ujar Sabar.
Sabar mengungkapkan, perjuangan ibunya benar-benar dimulai dari bawah.
"Daftar haji pakai uang receh. Uang receh dikumpulkan untuk menabung haji. Ibu sudah bertahun-tahun menabung demi untuk haji," katanya.
Painah sendiri membutuhkan sekitar 20 tahun hanya untuk mengumpulkan biaya setoran awal.
Setelah itu, ia kembali berjuang mengumpulkan dana pelunasan dari hasil berjualan daun pisang.
Baca Juga: Prabowo Tambah 6 Rafale untuk TNI AU, Ini Fungsi dan Kekuatan Alutsista Baru RI
Kisah hidup Painah menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih cita-cita besar.
Dengan ketekunan, kerja keras, dan keyakinan, impian yang tampak mustahil pun dapat menjadi kenyataan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan
- 10Prediksi Australia vs Turki: Adu Generasi Baru di Laga Pembuka Grup D







