Banten

Temuan BRIN, Sungai Purba yang Tenggelam Ini Mungkin Jadi Rute Migrasi Manusia Modern Awal

Viona Sebastian Nolani | 1 Juni 2026, 13:20 WIB
Temuan BRIN, Sungai Purba yang Tenggelam Ini Mungkin Jadi Rute Migrasi Manusia Modern Awal
Sungai Purba Paparan Sunda Diduga Jadi Jalur Migrasi Manusia Modern Awal. (brin.go.id)

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan yang menunjukkan bahwa jaringan sungai purba di wilayah Paparan Sunda kemungkinan besar berperan sebagai jalur utama perpindahan manusia modern awal saat melakukan migrasi di kawasan Asia Tenggara pada masa prasejarah.

“Penelitian geomorfologi dan paleogeografi menunjukkan Paparan Sunda pada masa Pleistosen memiliki sistem sungai besar yang kini telah tenggelam akibat kenaikan muka laut,” ungkap Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono.

Menurut Vida, keberadaan sungai-sungai purba itu diduga menjadi koridor ekologis penting yang mendukung pergerakan manusia prasejarah ke berbagai wilayah, baik ke kawasan pedalaman maupun menuju Wallacea.

“Mobilitas manusia prasejarah kemungkinan tidak hanya mengikuti jalur pesisir, tetapi juga memanfaatkan sistem sungai purba sebagai jalur perpindahan,” katanya.

Baca Juga: BRIN Ungkap Ancaman Besar di Pantura, Penurunan Tanah dan Kenaikan Muka Laut Makin Mengkhawatirkan

Ia menjelaskan bahwa migrasi manusia modern dari Afrika ke Asia Tenggara berlangsung melalui proses yang panjang dan tidak terjadi hanya dalam satu gelombang.

Salah satu teori yang banyak digunakan untuk menjelaskan fenomena tersebut adalah coastal migration theory atau teori migrasi pesisir.

Teori ini menyebutkan bahwa manusia purba cenderung bergerak melalui wilayah pantai karena lebih mudah dilalui serta menyediakan sumber makanan yang melimpah dibandingkan daerah pedalaman.

“Pada masa glasial, permukaan laut turun sehingga membentuk daratan luas yang menghubungkan wilayah-wilayah di Asia Tenggara. Kondisi ini memungkinkan mobilitas manusia, flora, dan fauna di Paparan Sunda,” ujarnya.

Baca Juga: BRIN Ungkap Rahasia Sistem Peringatan Dini Gempa Jepang yang Mampu Selamatkan Industri dan Kereta Cepat

Lebih lanjut, Vida menuturkan bahwa bagian timur Paparan Sunda memiliki peran strategis karena menjadi jalur penghubung menuju Wallacea dan Sahul, yang mencakup kawasan Australia-Papua.

Berbagai temuan arkeologi di Kalimantan juga memperkuat indikasi keberadaan manusia modern antara 45.000 hingga 30.000 tahun lalu.

Bukti tersebut berasal dari penemuan alat batu, sisa fauna, hingga jejak hunian di gua-gua prasejarah.

Meski demikian, penelitian mengenai migrasi manusia awal di Asia Tenggara masih menghadapi sejumlah kendala.

Salah satu tantangan terbesar adalah kondisi lingkungan tropis yang membuat fosil sulit bertahan dalam jangka waktu panjang.

“Tingkat keasaman tanah yang tinggi mempercepat kerusakan tulang dan kolagen sehingga menyulitkan proses penanggalan absolut,” jelasnya.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, BRIN terus mengembangkan berbagai penelitian lanjutan melalui survei geofisika, kajian sedimen, serta penerapan metode penanggalan modern guna menghasilkan data yang lebih akurat terkait pola migrasi manusia prasejarah di kawasan Paparan Sunda.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menegaskan bahwa pembahasan mengenai migrasi manusia purba memiliki nilai penting karena berkaitan langsung dengan upaya memahami asal-usul dan perkembangan awal peradaban manusia di Nusantara.

Sebagai wujud keseriusan dalam bidang penelitian tersebut, BRIN saat ini memberikan perhatian lebih besar terhadap studi evolusi dan persebaran manusia di Asia Tenggara.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah pembentukan Center for Human Evolution, Adaptation, and Dispersal in Southeast Asia (CHEADSEA), yang telah memperoleh perhatian resmi dari UNESCO.

“Melalui forum akademik dan lembaga kajian seperti ini, diharapkan muncul berbagai inspirasi baru serta penguatan kolaborasi riset terkait migrasi manusia prasejarah,” tutupnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.