Industri Sawit Nasional Terancam Ganoderma, BRIN Andalkan Teknologi Modern dan AI

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat riset strategis di sektor perkebunan melalui pengembangan teknologi pengendalian penyakit Ganoderma pada kelapa sawit.
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam webinar EstCrops_Corner #26 bertajuk “Strategi Pengelolaan Ganoderma Menuju Industri Sawit Nasional Berkelanjutan” yang digelar pada Jumat (29/05/2026) lalu.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Siti Hardiyanti, memaparkan hasil penelitian awal mengenai isolasi dan karakterisasi Ganoderma sp. yang dikenal sebagai salah satu patogen utama di perkebunan kelapa sawit.
Ia menjelaskan bahwa Ganoderma menjadi penyebab utama penyakit Basal Stem Rot/BSR (busuk pangkal batang) dan Upper Stem Rot/USR (busuk batang atas), yang selama ini menjadi ancaman besar bagi produktivitas sawit nasional.
Baca Juga: Produk Pangan Indonesia Diburu untuk Katering Haji, Menhaj Ungkap Kendalanya
Patogen tersebut menyerang bagian akar dan batang tanaman sehingga pertumbuhannya terganggu secara bertahap hingga berujung pada kerusakan parah bahkan kematian tanaman.
“Ganoderma merupakan salah satu patogen penting pada perkebunan kelapa sawit. Keberadaannya dapat menurunkan produktivitas secara signifikan serta menyebabkan kerugian ekonomi bagi petani maupun perusahaan perkebunan,” ujar Siti.
Ia menuturkan bahwa penyakit ini cukup sulit dikendalikan karena sifat patogennya yang soilborne atau mampu bertahan lama di tanah maupun sisa tanaman yang telah terinfeksi.
Kondisi itu membuat penyebaran penyakit berjalan perlahan tetapi terus berlangsung di area perkebunan.
Baca Juga: Heboh Dugaan Kekerasan Seksual di Pesantren Kukar, Kemenag Siapkan 5 Langkah Tegas
Menurutnya, dampak serangan Ganoderma tidak hanya menghambat penyerapan air dan unsur hara oleh tanaman, namun juga menurunkan produksi tandan buah segar secara signifikan.
Pada tingkat serangan yang lebih berat, tanaman bahkan dapat tumbang akibat pembusukan batang yang semakin parah.
Siti menjelaskan gejala penyakit berkembang secara bertahap tergantung umur tanaman dan tingkat infeksi.
Pada tanaman muda, gejala awal biasanya terlihat dari daun yang menguning, pertumbuhan terhambat, hingga kematian tanaman.
Sementara pada tanaman yang sudah menghasilkan, infeksi dapat dikenali melalui pelepah muda yang menguning, munculnya daun tombak, pelepah yang patah dan mengering, hingga bentuk tajuk tanaman yang tampak tidak normal.
“Pada fase lanjut, tubuh buah Ganoderma mulai muncul di pangkal batang yang mengalami pembusukan sehingga batang menjadi lunak dan tanaman berpotensi roboh,” ia menjelaskan.
Selain memaparkan gejala penyakit, Siti turut menjelaskan mekanisme penyebaran patogen yang dapat terjadi melalui kontak akar tanaman sehat dengan akar terinfeksi, sisa batang dan akar sakit di dalam tanah, hingga basidiospora yang terbawa angin, air, hewan, maupun aktivitas manusia di area perkebunan.
Menurutnya, salah satu kendala terbesar dalam pengendalian Ganoderma adalah sulitnya mendeteksi infeksi sejak tahap awal.
“Pada tahap awal infeksi, tanaman umumnya belum menunjukkan gejala visual yang jelas sehingga penyakit sering terlambat diketahui di lapangan,” ungkapnya.
Dalam presentasinya, Siti juga memaparkan tahapan isolasi dan karakterisasi Ganoderma sp. yang dilakukan di laboratorium.
Proses penelitian dimulai dari pengambilan sampel tubuh buah yang masih muda, segar, dan bebas kontaminasi sebelum dilakukan isolasi menggunakan medium PDA.
Karakterisasi dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis untuk mengamati ciri tubuh buah, koloni, spora, hingga hifa Ganoderma.
Selain itu, identifikasi molekuler menggunakan penanda ITS turut dilakukan guna mengetahui hubungan kekerabatan antar isolat berdasarkan wilayah asalnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memahami keragaman patogen sekaligus mendukung pengembangan strategi pengendalian yang lebih efektif dan spesifik sesuai karakteristik isolat di berbagai daerah perkebunan sawit Indonesia.
Di akhir paparannya, Siti menegaskan pentingnya penguatan riset lanjutan melalui pemanfaatan teknologi modern berbasis sains data dan bioteknologi.
Menurutnya, pengembangan sistem deteksi dini berbasis molekuler, biosensor, artificial intelligence/AI (kecerdasan buatan), remote sensing (penginderaan jauh), hingga pendekatan berbasis omics menjadi langkah strategis dalam mendukung pengelolaan Ganoderma yang lebih presisi.
“Pengembangan teknologi deteksi dini menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan Ganoderma pada perkebunan kelapa sawit. Selain itu, pendekatan berbasis data diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat sehingga produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional tetap terjaga secara berkelanjutan,” ia menegaskan.
Riset tersebut menjadi bagian dari komitmen BRIN dalam mendorong transformasi sektor perkebunan nasional berbasis inovasi dan teknologi modern.
Penguatan sistem deteksi serta pengendalian penyakit tanaman dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit Indonesia di tengah tantangan produktivitas dan perubahan lingkungan global.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









