Banten

Peneliti BRIN Ungkap Khasiat Tersembunyi Madu Stingless Bee Indonesia, Bisa Lawan Kanker hingga Bakteri

Viona Sebastian Nolani | 5 Juni 2026, 13:55 WIB
Peneliti BRIN Ungkap Khasiat Tersembunyi Madu Stingless Bee Indonesia, Bisa Lawan Kanker hingga Bakteri
BRIN Temukan Probiotik dari Madu Lebah Tanpa Sengat, Berpotensi Jadi Pangan Fungsional dan Antikanker. (brin.go.id)

AKURAT BANTEN - Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan bakteri asam laktat probiotik yang berasal dari madu dan bee pollen lebah tanpa sengat (stingless bee) asli Indonesia.

Bakteri tersebut diketahui memiliki beragam aktivitas biologis penting, seperti antibakteri, antibiofilm, antioksidan, antikanker, hingga berpotensi membantu mengontrol kadar gula darah.

Penemuan ini membuka peluang besar dalam pengembangan pangan fungsional dan nutribiotik berbasis kekayaan hayati Indonesia.

Penelitian dilakukan oleh tim dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN bersama mitra peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Baca Juga: RUU Pemilu Jadi Prioritas DPR, Bahtra Banong Soroti Putusan MK dan Kuota 30 Persen Perempuan

Dalam riset tersebut, para peneliti memanfaatkan madu dan bee pollen dari tujuh spesies lebah tanpa sengat yang berasal dari wilayah Yogyakarta dan Sumbawa.

Hasil riset itu telah dipublikasikan di jurnal internasional Antonie van Leeuwenhoek dan International Microbiology.

Selain itu, penelitian tersebut juga sudah mendapatkan pendaftaran paten dengan nomor S00202605018.

Peneliti PRTPP BRIN, Ema Damayanti, mengungkapkan bahwa madu dari lebah tanpa sengat selama ini dikenal kaya akan senyawa bioaktif.

Baca Juga: Profil Chatib Basri yang Katanya Jadi Menteri Keuangan yang Baru Gantikan Purbaya Yudhi Sadewa

Meski demikian, keberadaan mikroorganisme probiotik di dalam madu dan bee pollen masih belum banyak dikaji, khususnya di Indonesia.

“Kami menemukan bahwa madu lebah tanpa sengat Indonesia menyimpan bakteri asam laktat yang tidak hanya mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, tetapi juga memiliki aktivitas antibakteri, antibiofilm, antikanker, dan antioksidan yang sangat baik. Ini menunjukkan potensinya sebagai kandidat probiotik untuk pangan fungsional,” ujar Ema.

Dalam studi tersebut, tim peneliti berhasil mengisolasi sejumlah bakteri asam laktat dari madu dan bee pollen berbagai spesies lebah tanpa sengat, di antaranya Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, Tetragonula clypearis, Tetragonula sarawakensis, Lepidotrigona terminata, Tetragonula drescheri, dan Tetragonula biroi.

Dari seluruh isolat yang diperoleh, tujuh isolat terbaik dipilih berdasarkan kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen.

Selanjutnya, ketujuh isolat tersebut dianalisis menggunakan teknologi whole genome sequencing (WGS), metabolomik berbasis UHPLC-HRMS, serta berbagai pengujian karakter probiotik lainnya.

Hasil analisis menunjukkan bahwa isolat unggulan itu teridentifikasi sebagai Lacticaseibacillus rhamnosus dan Pediococcus acidilactici.

Ema menjelaskan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa bakteri hasil isolasi mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa.

Selain itu, bakteri tersebut juga dapat mencegah pembentukan biofilm yang sering menjadi penyebab meningkatnya resistensi bakteri terhadap pengobatan. Tidak hanya sampai di situ, bakteri probiotik ini juga menunjukkan aktivitas antikanker terhadap lini sel kanker kolon WiDr serta memiliki aktivitas antioksidan tinggi berdasarkan pengujian DPPH, ABTS, dan FRAP.

“Kami juga menemukan aktivitas penghambatan α-amilase yang cukup signifikan. Potensi ini menarik karena berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah, sehingga berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan sehat,” tambah Ema.

Analisis genom lanjutan mengungkap adanya biosynthetic gene clusters (BGCs) yang berperan dalam memproduksi berbagai senyawa bioaktif, termasuk bakteriosin dan senyawa antimikroba alami.

Di sisi lain, analisis metabolomik berhasil mengidentifikasi berbagai metabolit bioaktif yang mendukung manfaat kesehatan dari bakteri tersebut.

Menurut Ema, kombinasi pendekatan genomik dan metabolomik menjadi langkah penting untuk memahami mekanisme biologis probiotik lokal Indonesia secara lebih mendalam.

“Indonesia memiliki keanekaragaman hayati lebah tanpa sengat yang sangat besar. Potensi ini tidak hanya penting bagi ketahanan pangan dan biodiversitas, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri pangan fungsional dan kesehatan berbasis riset,” jelasnya.

Ke depan, tim peneliti BRIN akan melanjutkan penelitian hingga tahap formulasi produk serta uji aplikasi pada pangan fermentasi maupun suplemen probiotik.

Penelitian lanjutan juga diperlukan guna memastikan keamanan, stabilitas, dan efektivitas bakteri probiotik tersebut untuk kebutuhan industri.

Penemuan ini semakin memperkuat peran BRIN dalam pengembangan riset pangan fungsional berbasis biodiversitas Indonesia.

Selain itu, hasil penelitian tersebut juga diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi produk kesehatan alami bernilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan daya saing nasional.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.