Terbongkar Faktor Pemicu DBD di Perkotaan, Ternyata Bukan Cuma Nyamuk

AKURAT BANTEN - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang serius di Indonesia.
Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus ini dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari kondisi lingkungan, sosial, hingga ekonomi yang berbeda di setiap daerah.
Riset terbaru yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya perbedaan karakteristik risiko dan faktor pemicu infeksi dengue antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal bertajuk Urban-rural disparities in self-reported dengue infection: A comprehensive analysis of the 2023 Indonesian health survey.
Baca Juga: Teknologi Baru Bongkar Praktik Susu Palsu, Kandungan Berbahaya Kini Mudah Dideteksi
Penelitian yang mengacu pada data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 itu melibatkan 877.531 responden dari 38 provinsi. Hasilnya menunjukkan bahwa angka kasus infeksi demam berdarah dengue (DBD) yang dilaporkan masyarakat lebih tinggi di kawasan perkotaan dibandingkan pedesaan.
Persentase kasus di wilayah urban mencapai 0,73 persen, sementara di wilayah rural tercatat 0,52 persen.
Periset Pusat Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Mara Ipa, mengatakan tingginya angka DBD di perkotaan dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, mobilitas masyarakat yang tinggi, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan nyamuk Aedes aegypti.
Selain itu, faktor infrastruktur, kondisi perumahan, sanitasi, hingga kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan turut memengaruhi risiko penularan.
Baca Juga: Indonesia Siap Masuk Era Nuklir? BRIN Dorong PLTN Jadi Penopang Energi Masa Depan
“Rumah dengan kepadatan penghuni tinggi, sumber air yang berada di dalam rumah, serta kebiasaan tidak rutin membersihkan tempat penampungan air menjadi faktor yang meningkatkan risiko infeksi di wilayah urban,” ujarnya.
Ia menambahkan, anak usia sekolah di kawasan perkotaan menjadi kelompok yang paling rentan terpapar dengue.
Tingginya aktivitas di luar rumah dan lingkungan padat penduduk diduga meningkatkan risiko terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Kondisi lingkungan tempat tinggal juga dinilai memiliki pengaruh besar terhadap penyebaran dengue.
Di sisi lain, Periset Pusat Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Muhammad Choirul Hidajat, menyebut kelompok ekonomi menengah ke atas di perkotaan lebih banyak tercatat terdiagnosis dengue.
Hal tersebut diduga berkaitan dengan akses layanan kesehatan dan pemeriksaan laboratorium yang lebih mudah dijangkau.
“Hal ini diduga karena kelompok tersebut lebih mudah mengakses layanan kesehatan dan pemeriksaan laboratorium sehingga kasus lebih banyak terdeteksi. Penelitian menemukan adanya asosiasi antara jenis sumber air rumah tangga dan risiko dengue, yang kemungkinan mencerminkan kondisi pengelolaan lingkungan serta praktik penyimpanan air di wilayah urban,” ia menjelaskan.
Riset tersebut juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan tempat penampungan air.
Warga perkotaan yang jarang membersihkan wadah penyimpanan air diketahui memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi dengue.
Genangan air menjadi lokasi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak sehingga meningkatkan potensi penyebaran penyakit.
Sementara itu, masyarakat di wilayah pedesaan yang rutin melakukan langkah pencegahan gigitan nyamuk terbukti memiliki risiko lebih rendah terkena DBD.
Meski demikian, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan fasilitas pencegahan masih menjadi kendala utama di daerah rural.
“Pekerja sektor informal di pedesaan cenderung lebih jarang melaporkan infeksi dengue, yang kemungkinan dipengaruhi keterbatasan akses layanan kesehatan dan pemeriksaan medis,” Choirul mengungkapkan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tim peneliti BRIN menegaskan bahwa penyebaran dengue tidak hanya dipengaruhi faktor biologis semata, tetapi juga berkaitan erat dengan determinan sosial seperti kondisi hunian, akses layanan kesehatan, perilaku pencegahan, hingga pengelolaan lingkungan rumah tangga.
Karena itu, upaya penanganan demam berdarah perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.
Daerah pedesaan membutuhkan peningkatan akses kesehatan serta edukasi pencegahan, sedangkan kawasan perkotaan perlu memperkuat pengendalian lingkungan dan membangun konsistensi perilaku hidup bersih masyarakat.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









