Rupiah Tertekan, Analis Prediksi Kurs Dolar AS Bisa Menyentuh Rp 19.000 pada Akhir Juni

AKURAT BANTEN - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih belum mereda di pasar keuangan domestik.
Hingga perdagangan Senin, 8 Juni 2026, mata uang Garuda kembali bergerak di zona negatif dan menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data perdagangan terkini, kurs USD/IDR pada pukul 13.49 WIB berada di posisi Rp 18.200 per dolar AS.
Baca Juga: Diperiksa Perdana Usai Ditahan KPK, Silmy Karim Bungkam saat Digiring Kembali ke Rutan
Angka tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 164 poin atau sekitar 0,91 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Sebelumnya, pada awal perdagangan Senin pagi, rupiah dibuka di level Rp 18.152 per dolar AS.
Pergerakan ini menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan yang masih membayangi mata uang nasional dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga: 5 Kandidat Terkuat Juara Piala Dunia 2026: Spanyol Memimpin, Argentina dan Prancis Mengintai
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, melihat peluang pelemahan rupiah masih cukup besar apabila kondisi eksternal belum menunjukkan perubahan yang berarti.
Menurutnya, nilai tukar rupiah berpotensi bergerak semakin lemah hingga mendekati level psikologis Rp 19.000 per dolar AS menjelang akhir bulan.
"Kalau saya lihat dari kondisi saat ini level Rp 19.000 di akhir bulan ini kemungkinan akan tercapai,” ujar Ibrahim.
Baca Juga: Curhat Siswa Korban Bullying di Hadapan Prabowo, Jawaban Presiden Jadi Sorotan
Ia menjelaskan bahwa salah satu sumber tekanan terbesar terhadap rupiah saat ini berasal dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat.
Data ketenagakerjaan AS yang dirilis lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar dinilai memberikan sinyal bahwa kondisi ekonomi Negeri Paman Sam masih cukup kuat.
Situasi tersebut membuat peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve menjadi semakin kecil dalam waktu dekat.
Baca Juga: Heboh Temuan Paspor Jemaah Haji Berserakan di BSD, Imigrasi Tangerang Lakukan Penyelidikan
Akibatnya, investor global cenderung mempertahankan aset berbasis dolar AS karena menawarkan tingkat imbal hasil yang relatif lebih menarik.
Arus dana yang mengalir ke aset dolar kemudian memperkuat mata uang AS dan secara bersamaan memberikan tekanan pada berbagai mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pandangan serupa juga disampaikan analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Baca Juga: Heboh Temuan Paspor Jemaah Haji Berserakan di BSD, Imigrasi Tangerang Lakukan Penyelidikan
Menurut Lukman, pelemahan rupiah dalam jangka pendek tidak hanya dipengaruhi oleh data ekonomi Amerika Serikat yang solid, tetapi juga oleh meningkatnya ketidakpastian global.
Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di sejumlah kawasan turut mendorong investor mencari instrumen yang dianggap lebih aman, salah satunya dolar AS.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan,” kata Lukman.
Baca Juga: Heboh Punya Indonesia Sistem Navigasi Otonom untuk Awasi Perairan Tanpa Awak
Kombinasi antara kuatnya data ekonomi AS, ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, serta meningkatnya risiko global membuat pergerakan rupiah masih menghadapi tantangan berat.
Pelaku pasar kini akan mencermati berbagai perkembangan ekonomi internasional dan kebijakan moneter AS yang berpotensi menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam beberapa pekan mendatang.
Jika tekanan eksternal terus berlanjut, peluang kurs dolar AS menuju level Rp 19.000 seperti yang diperkirakan sejumlah analis bukan lagi sekadar skenario, melainkan risiko yang perlu diwaspadai oleh pasar dan pelaku usaha di dalam negeri.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










