Banten

Selat Hormuz Lumpuh 95 Persen, Mengapa Harga Minyak Dunia Tak Kunjung Meledak?

Viona Sebastian Nolani | 11 Juni 2026, 18:09 WIB
Selat Hormuz Lumpuh 95 Persen, Mengapa Harga Minyak Dunia Tak Kunjung Meledak?
Ilustrasi kapal tanker melintasi Selat Hormuz di tengah konflik kawasan yang mengganggu jalur distribusi minyak dunia. (iStock)

AKURAT BANTEN - Meski Selat Hormuz mengalami gangguan besar selama berbulan-bulan terakhir, harga minyak dunia ternyata belum melonjak setinggi yang sebelumnya diperkirakan banyak analis.

Berbagai faktor, mulai dari jalur pengiriman alternatif hingga pergerakan minyak secara tidak resmi, dinilai membantu menjaga pasokan global tetap tersedia di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia.

Sebelum konflik dengan Iran pecah, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk petroleum melintasi jalur sempit tersebut setiap hari.

Baca Juga: Prabowo Ungkap Strategi Diplomasi Indonesia Hadapi Geopolitik Dunia yang Kacau

Jalur ini menjadi urat nadi ekspor minyak dari sejumlah negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Namun, situasi berubah drastis ketika lalu lintas komersial di Selat Hormuz merosot tajam.

Dalam beberapa bulan terakhir, volume pelayaran dilaporkan turun hingga 95 persen.

Kondisi itu memaksa sejumlah fasilitas pengolahan minyak di kawasan Teluk menghentikan operasionalnya dan memicu kekhawatiran akan krisis energi global.

Baca Juga: Pemerintah Gandeng Nokia dan NVIDIA, Indonesia Siap Jadi Kekuatan Baru AI Dunia

Pada awal tahun, sejumlah analis Wall Street memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi menembus level US$200 per barel apabila gangguan pasokan semakin memburuk.

Kenyataannya, harga minyak masih berada jauh di bawah proyeksi tersebut.

Saat ini, minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$93 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$91 per barel.

Kenaikan harga memang tetap terjadi dan mendorong harga bahan bakar di Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Perpres AI, Meutya Hafid Soroti Ancaman Data dan Adiksi Digital

Pasar energi di Asia dan Eropa juga terus berharap Amerika Serikat serta negara pemasok lainnya mampu menutup kekurangan pasokan minyak dari kawasan Teluk.

Meski demikian, harga minyak Brent secara konsisten bertahan di bawah level yang selama ini diprediksi sebagai skenario terburuk.

Banyak analis menilai stabilitas relatif tersebut dipengaruhi oleh kombinasi pengiriman tanker yang tidak terdeteksi dan pemanfaatan cadangan strategis.

Sementara itu, Presiden Donald Trump mengklaim terdapat faktor lain yang turut berkontribusi, yakni operasi rahasia Amerika Serikat untuk membantu jutaan barel minyak tetap mengalir ke pasar internasional.

Baca Juga: Indonesia Bersinar di WSIS Prizes 2026, 3 Inovasi Digital Ini Bikin Dunia Kagum

Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan minyak global akan berkurang sekitar 3,9 juta barel per hari sepanjang 2026.

Saat ini, sekitar 10,5 juta barel per hari kapasitas produksi minyak Teluk dilaporkan tidak beroperasi akibat dampak konflik.

Meski kehilangan pasokan cukup besar, pasar energi global masih menunjukkan ketahanan yang tidak terduga.

Salah satu faktor yang dianggap membantu menjaga pasokan adalah fenomena yang disebut analis sebagai pengiriman minyak "hantu".

Baca Juga: Menhan Sjafrie Tinjau Proyek Mobil Nasional di Subang, Target Produksi 300 Ribu Unit per Tahun

Dalam praktik ini, jutaan barel minyak mentah diduga tetap bergerak melewati Selat Hormuz meskipun lalu lintas komersial resmi menurun drastis.

Laporan pada Mei lalu mengungkap bahwa sedikitnya dua kapal tanker super dan satu kapal tanker gas alam cair (LNG) mematikan transponder Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) mereka.

Langkah tersebut memungkinkan kapal-kapal tersebut melintasi Selat Hormuz tanpa terdeteksi oleh sistem pelacakan publik, meskipun risikonya sangat tinggi.

Analis JP Morgan memperkirakan aliran minyak ilegal pada dua pekan terakhir Mei mencapai lebih dari 2 juta barel per hari.

Baca Juga: Persiapan Haji 2027 Resmi Dimulai, Kemenhaj Siapkan Transformasi Besar Pelayanan Jemaah

Pergerakan semacam ini dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap pasokan global karena membantu memastikan minyak tetap sampai ke tangan pembeli.

Banyak pengamat meyakini bahwa "kebocoran" pasokan minyak dari Selat Hormuz tersebut menjadi salah satu alasan utama harga minyak tidak melonjak ekstrem.

Bob McNally dari Rapidan Energy Group menjelaskan kepada CNN:

“Kami berasumsi lalu lintas Hormuz hanya 0% hingga 10% dari arus sebelum perang, tetapi dengan kebocoran ini, angkanya bisa sedikit lebih tinggi. Ini jelas tidak cukup untuk menghindari penarikan persediaan yang besar dan agresif, tetapi setidaknya mengurangi sebagian dampaknya.”

Selain itu, skema transfer minyak antar kapal dan berbagai pengaturan informal lainnya juga diduga membantu sebagian ekspor minyak mentah tetap keluar dari kawasan Teluk meski situasi keamanan memburuk.

Menurut McNally, langkah-langkah tersebut memang tidak cukup untuk mencegah krisis sepenuhnya, tetapi berhasil menahan laju penurunan stok minyak global.

Faktor lain yang ikut menopang stabilitas pasar adalah penggunaan jalur distribusi alternatif.

Arab Saudi, misalnya, meningkatkan pemanfaatan pipa Timur-Barat sepanjang 746 mil yang mampu mengalirkan hingga 7 juta barel minyak per hari dari ladang minyak ke terminal ekspor di pesisir Laut Merah.

Uni Emirat Arab juga mengoperasikan infrastruktur serupa yang dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Namun, kapasitas jalur alternatif tersebut tetap terbatas dan tidak mampu menggantikan seluruh volume minyak yang biasanya melewati jalur laut tersebut.

Akibatnya, perlambatan produksi minyak masih sulit dihindari.

Dari sisi permintaan, negara-negara konsumen utama turut melakukan penyesuaian.

China menjadi contoh paling menonjol. Impor minyak mentah melalui jalur laut pada Mei turun ke kisaran 6,5 juta hingga 7,5 juta barel per hari, dibandingkan 8,1 juta barel per hari pada April.

Selain mengurangi impor, kilang minyak China juga memanfaatkan sekitar 1 juta barel per hari dari stok yang telah dikumpulkan selama setahun terakhir.

Negara tersebut diperkirakan memiliki cadangan minyak strategis dan komersial antara 1,2 miliar hingga 1,4 miliar barel, menjadikannya salah satu cadangan darurat terbesar di dunia.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.